Hari Minggu III Adven: “Di Tengah-tengah Kamu”

advent-3.jpg

Bacaan I : Yes 61:1-2a.10-11
Bacaan II : 1 Tes 5:16-24
Bacaan Injil : Yoh 1:6-8.19-28

Kalau orang sudah mendapat suatu posisi atau tempat di depan biasanya orang akan sulit sekali untuk melepaskan posisi dan tempat itu bagi orang lain. Orang akan mempergunakan segala cara untuk mempertahankannya.

Di suatu kantor polisi, di suatu kota kecil di Jawa Tengah, sudah lama berlalu, ada suatu antrean panjang dari orang-orang yang mau mengurus SIM. Dalam antrean itu terdapat seorang bapak yang sudah tua, ikut berbaris menunggu giliran untuk dilayani petugas. Bapak itu kelihatannya sangat simpatik, karena kadang-kadang ia mempersilahkan orang dibelakangnya untuk mengambil tempat di depannya, dan ia sendiri dengan sabar berdiri dalam antrean itu.
Ada seorang polisi, rupanya katolik, sudah lama memperhatikan sikap simpatik bapak tua itu. Polisi itu lalu mendekati bapak tua itu. Sebentar mereka berbincang-bincang, dan tiba-tiba polisi itu menjadi panik, walau diprotes oleh bapak tua itu, polisi tadi dengan hormat menuntun bapak tua itu menuju petugas dan dalam waktu singkat SIMnya sudah diurus!!

Siapa bapak tua yang simpatik itu?? Dia adalah bapak Kardinal Darmoyuwono yang terkenal kerendahan hatinya itu. Rupanya sesudah lengser sebagai Uskup Agung Semarang dan menjadi pastor di suatu desa kecil, ia membutuhkan SIM supaya dapat mengendarai skuter untuk mengunjungi umatnya.
Alangkah indahnya kalau kita bisa menghayati spiritualitas siap lengser itu. Lengser untuk beri tempat dan perhatian kepada orang lain….di rumah, di kantor, dan dimanapun juga kita berada!
Orang yang senantiasa memberi tempat kepada sesama dan memberi tempat kepada Tuhan, sekali kelak Tuhan akan memberi tempat kepadanya!!
Injil hari ini menceriterakan tentang seorang tokoh Adven yang besar, perintis jalan bagi Tuhan, yang rela lengser ketika ia menyadari peranannya sudah selesai. Tokoh Yohanes Pembaptis.
Yohanes Pembaptis adalah bentara Almasih. Nabi Yesaya sudah jauh-jauh hari mengatakan bahwa ia adalah: “suara orang yang berseru-seru di padang gurun: persiapkan jalan bagi Tuhan, luruskan jalan bagi-Nya” (Mat 3:4).
Ketika orang-orang Yahudi mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi untuk bertanya kepadanya: “siapkah engkau?” Yohanes mengelak untuk berbicara tentang dirinya. Ia tidak membusungkan dada. Mungkin dalam hati kecilnya Yohanes Pembaptis bertanya: mengapa orang-orang ini begitu repot dengan dirinya. Ia tidak penting.
Ia hanya menjawab: “Aku suara yang berseru dalam kegersangan padang belantara. Ia tidak perlu dipandang sebagai pribadi. Hanya suara!! Tetapi ia mau menunjuk kepada orang yang lebih penting dari pada dirinya. Ia berkata: “Di tengah-tengah kamu berdiri orang yang kamu tidak kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripadaku. Membuka tali kasutnyapun aku tidak layak!” Dia yang penting!!
Yohanes adalah perintis untuk mengenal Yesus secara penuh. Ia telah mengantar muridnya kepada Yesus. Ia telah mengantar manusia kepada Kristus. Yesus adalah tujuan. Ia hanya sarana. Ia tidak penting. Yang penting adalah Yesus, sang Mesias. Ia hanya suara ”yang berseru di padang belantara”. Ia bukan apa-apa. Oleh sebab itu ia tidak menuntut apa-apa untuk dirinya sendiri. Makanannya hanya belalang dan madu hutan. Pakaiannya hanya dari kulit hewan. Dalam hidupnya hanya Tuhan dan sesama yang penting. Ia selalu menunjuk kepada Tuhan: “Di tengah-tengah kamu berdiri seorang yang tidak kamu kenal. Ia datang sesudah aku”. Dialah yang penting!! Motto hidupnya: “Aku harus semakin lama semakin kecil, dan Tuhan semakin besar!”
Ia rela turun panggung. Ia rela lengser. Tetapi apa kata Yesus tentang bentara-Nya yang rela turun panggung ini?? “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan, tidak tampil seorang pun yang lebih besar daripada Yohanes”. Di tempat lain memang Yesus pernah berkata: Siapa yang merendahkan dirinya akan ditinggikan!!
Bagaimana dengan kita??
Dalam tugasnya sebagai suara yang menuntut pertobatan, sebagai jari yang tidak menunjuk kepada dirinya sendiri, melainkan kepada Kristus sebagai pembawa damai, Yohanes merupakan suatu lambang diri kita, lambang Gereja. Seperti Yohanes, kita harus menjadi suatu suara di tengah-tengah dunia. Suara yang memaklumkan raja damai yang berada di tengah-tengah umat manusia, tetapi tidak dikenal oleh banyak orang. Kita pun harus merupakan jari yang menunjuk kepada Yesus Kristus yang mau membawakan pengampunan dosa dan damai kepada semua orang. Seluruh hidup kita seharusnya menjadi jari yang menunjuk kepada Kristus, suatu suara yang memaklumkan Kristus dan cara hidup yang memperkenalkan Yesus di atas dunia ini.

Rm. Yosef Lalu, Pr;
Dalam buku Homili Tahun B, terbitan Komkat KWI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *