Yeh.37:12-14, Rm. 8:8-11, Yoh. 11:1-45
Yesus Membangkitkan Lazarus (Gambar dibuat dengan AI copilot)
RD. Laurentius Y. Rota
(Ketua Komkat Keuskupan Agung Ende)
Bacaan Injil tiga minggu terakhir (Minggu Prapaskah III – V) selalu diisi cerita yang panjang dari penginjil Yohanes. Mulai dari pertemuan di sumur Yakob, berlanjut ke penyembuhan orang yang buta sejak lahir, sampai dengan kisah hari ini: Lazarus dibangkitkan. Selain Kisah Sengsara Yesus, bacaan tentang Lazarus ini adalah kisah terpanjang yang ada di dalam Injil Yohanes (57 ayat). Seturut Yohanes pula, ada 7 mujizat yang dibuat Yesus di hadapan umum, dimulai dengan mengubah air menjadi anggur dalam pernikahan di Kana (Yoh. 2). Membangkitkan Lazarus (Yoh. 11) adalah mujizat ketujuh dan menjadi puncak dari semua mujizat yang pernah dibuat.
Dalam Perjanjian Baru, mujizat membangkitkan orang mati hanya ada 5 kali. Yesus melakukannya tiga kali: anak muda di Nain (Luk. 7), puteri Yairus (Mrk. 5) dan Lazarus (Yoh. 11). Petrus melakukannya satu kali di Yope (Tabita/Dorkas, Kis 9), begitu juga Paulus satu kali di Troas (Eutikhus, Kis. 20). Sementara dalam Perjanjian Lama hanya ada dua kali, yaitu oleh Nabi Elia (anak seorang janda, 1 Raj. 17:17-24) dan oleh Nabi Elisa (seorang anak di Sunem, 2 Raj. 4: 2-37).
Kisah pembangkitan Lazarus sendiri terbagi dalam beberapa bagian:
Pertama, exposisi atau pengantar awal (1-6). Di bagian ini diceritakan semua hal yang berkaitan dengan Lazarus; sakitnya, keluarganya, juga tempat tinggalnya. Betania adalah tempat terakhir Yesus sebelum masuk Yerusalem (Mrk 11, 14). Reaksi Yesus terhadap berita yang dikirimkan Maria dan Marta pun terbagi: di satu sisi Dia melihat karya Allah yang akan terlaksana, di sisi lain Dia malah sengaja tinggal lebih lama.
Kedua, ajakan dan dialog untuk kembali ke Yudea (7-16). Sekarang Yohanes menghadirkan para murid dalam cerita. Ada dialog internal antar mereka dengan Yesus, tentang resiko kembali ke daerah konflik. Yesus melihat sisi positifnya: supaya para murid belajar untuk percaya (ay.15). Dialog internal ini ditutup dengan ajakan Tomas/Didimus. Tomas, yang sering ditampilkan sebagai pribadi yang kurang percaya, malah menjadi motivator: mari kita ikut pergi agar mati bersama dengan Dia (ay.16).
Ketiga, pertemuan dengan Marta (17-27). Pertemuan ini digambarkan sebagai puncak teologis kisah Lazarus. Lazarus sudah empat hari berbaring dalam makam. Dalam kepercayaan Yahudi, jiwa seseorang masih dekat dengan tubuhnya selama tiga hari. Tempus empat hari jadi pertanda jelas: tidak ada lagi peluang hidup bagi Lazarus. Tapi, justru kondisi itu menambah arti mujizat Yesus: yang tidak mungkin menjadi mungkin karena kuasa Allah. Dialog teologis antara Yesus dan Marta selanjutnya dimahkotai dengan pernyataan diri Yesus sendiri: Akulah kebangkitan dan hidup (ay. 25).
Keempat, pertemuan dengan Maria dan orang Yahudi (28-37). Ada perubahan partner dialog. Marta pergi, digantikan Maria dan orang Yahudi. Yohanes secara kontras menggambarkan perbedaan: Maria percaya – orang Yahudi tidak percaya. Cerita Yohanes, bahwa orang Yahudi ikut keluar bersama Maria ke arah kubur (ay.31), secara jelas menunjukkan: Yesus tidak masuk hitungan mereka. Bagian ini ditutup dengan tanda cinta bagi yang percaya dalam bentuk tangisan. Hanya dua kali Yesus menangis dalam Injil; dalam Luk. 19 :41 dan Yoh. 11 :35.
Kelima, Lazarus dibangkitkan (38-45). Secara naratif, inilah puncak cerita. Lebih dari 40 ayat dikisahkan derita Lazarus, tanpa jalan keluar. Sekarang akhirnya Yesus sampai di kubur Lazarus. Tetapi, bahkan ketika sudah sampai di kubur pun, Yesus tidak langsung bertindak. Ia berdoa dahulu. Banyak kali jalan keluar (solusi) justru terjadi saat orang jalan ke dalam diri (hening dan berdoa). Baru di ayat 43-44 terjadi aksi nyata. Yesus memberi perintah dan Lazarus taat. Keseluruhan cerita diakhiri dengan kalimat pembebasan: biarkan ia pergi (ay. 44).
Kisah Lazarus memang sengaja ditempatkan di Minggu Prapaskah V, sebagai penghantar kepada Kisah
Sengsara Yesus. Secara tradisional Minggu Prapaskah V disebut juga sebagai Minggu Sengsara. Misale Romanum 1570 menyebut bahwa hari minggu sebelum Minggu Palma adalah Minggu Sengsara. Salib akan mulai ditutup dengan kain ungu pada hari ini. Misale Romanum 1962 menegaskan lagi bahwa Minggu V disebut Minggu Sengsara I, dan Minggu Palma sebagai Minggu Sengara II. Demikianlah, sakit dan kematian serta bangkitkannya Lazarus dapat dibaca sebagai persiapan dari sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus sendiri.
Persiapan itu terbaca pula dari konflik Yesus dengan orang Yahudi. Perseteruan mereka perlahan memasuki tahap akhir. Konflik yang dimulai di Yohanes 5, pelan-pelan meningkat di Yohanes 7, berlanjut ke Yohanes 9, menanjak di akhir Yohanes 11. Mereka tetap tegar hati dan sepakat untuk membunuh Yesus (Ay. 46-53). Reaksi ini mengakhiri tampilnya Yesus di muka umum (ay.54). Ironis memang: orang yang memberi hidup, sekarang tiba-tiba menjadi kandidat yang harus dibunuh.
Sekalipun berakhir ironis, kisah yang luar biasa ini tetap membawa serta beberapa pesan:
Pertama, kisah ini mengarahkan umat Katolik untuk memandang Paskah. Bacaan pertama, bacaan kedua dan bacaan Injil sama-sama punya kesimpulan: hanya Yesus sebagai Tuhanlah yang bisa mengalahkan kematian. Dialah kebangkitan dan hidup!
Kedua, tanggapan orang Yahudi yang tetap tidak percaya, membawa ingatan kita kembali kepada kisah orang kaya dan Lazarus yang miskin (Luk. 16). Bahkan orang yang bangkit dari mati pun (Luk.16:31) tidak akan pernah bisa meyakinkan orang-orang yang telah menutup hati.
Ketiga, Lazarus adalah sebuah nama yang berisi program. Lazarus, El-Azar, Tuhan telah membawa pertolongan. Namun patutlah diingat, pertolongan hanya mujarab untuk orang yang mau membuka hati kepada kehendak Allah. ©luis®

