Minggu Prapaskah IV (Laetare), Tahun A 2026

 

(1 Sam. 16:1b.6-7.10-13a) Ef. 5:8-14) Yoh. 9:1-41)

Rm. Laurentius Y. Rota, Pr

Ketua Komkat Keuskupan Agung Ende

(Gambar dibuat dengan AI)

 

Minggu Prapaskah IV diberi nama Minggu Laetare, Minggu Sukacita. Nama ini diambil dari Antifon Pembuka yang berbunyi: Laetare Ierusalem … : Bersukacitalah, hai Yerusalem … (Yes. 66: 10). Minggu Sukacita memang mendapat tempat istimewa dalam liturgi Gereja, karena tepat berada di tengah-tengah Masa Prapaskah. Orang Katolik boleh bersukacita karena dua alasan: pertama, setengah masa berahmat ini telah dilewati. Perjuangan untuk berpuasa, bermatiraga, berdoa dan beramal sudah setengah jalan. Kedua, Hari Raya Paskah makin dekat.

Gereja memberi warna liturgi khusus untuk hari Minggu Laetare: rosa/ungu muda.  Dalam dunia seni lukis, warna rosa adalah campuran antara ungu dan putih; suatu petunjuk yang jelas bahwa di tengah Prapaskah (warna liturgi: ungu/violet) sudah perlahan-lahan terlihat Paskah (warna liturgi: putih).

Di negara-negara empat musim, ajakan untuk „bersukacita“ erat kaitannya dengan perubahan musim. Minggu Prapaskah IV jatuh di awal musim semi – yang ada di antara musim dingin/Winter dan musim panas/Sommer. Di musim semi banyak tanaman akan kembali tumbuh setelah mati di musim dingin sebelumnya. Gandum akan mulai disemai, tetapi baru bisa dipanen dengan penuh syukur dan gembira di musim panas. Orang-orang yang tinggal di sana juga menjalani „musim antara“ ini dengan berbeda, misalnya dari cara berpakaian. Karena musim semi memiliki campuran suhu dingin dan panas, maka mereka mengenakan jaket yang berbeda. Akan terlalu panas jika masih menggunakan jaket musim dingin yang sangat tebal, tetapi akan terasa terlalu dingin jika memakai pakaian musim panas yang tipis dan terbuka.

Demikian, karakter Minggu Laetare sebagai minggu yang spesial sangat terasa, bukan hanya secara religius, tetapi juga di alam dan dalam cara hidup manusia. Ada satu rasa antara: sedih dan muram karena berpuasa serta bermatiraga, gembira karena Paskah – kebangkitan dan hidup baru – sudah di depan mata.

Perubahan karakter, dari sedih ke gembira, dari dukacita ke sukacita, dari gelap ke terang, juga terbaca dalam Injil hari ini. Yohanes bab 9 menceritakan secara sangat detail penyembuhan seorang buta serta tanggapan – tanggapan di seputar peristiwa itu. Bacaan panjang sebanyak 41 ayat ini sesungguhnya terbagi dalam beberapa bagian: episode 1, Yesus dan si buta (1-7), si buta dan tetangga sekitarnya (8-12), episode 1, si buta dan orang Farisi (13-17), orang Yahudi dan orangtua dari si buta (18-23), episode 2, si buta dan orang Farisi (24-34), episode 2: Yesus dan si buta (35-41).

Beberapa  ide  dasar  dapatlah  digarisbawahi.  Pertama,  Injil  dimulai  dengan  pertanyaan:  ini  salah  siapa?  Ada banyak alasan orang menjadi buta: karena keturunan, keracunan, luka atau penyakit. Dalam ajaran Yahudi, buta termasuk dalam sakit berat dan dianggap sebagai balasan atas dosa yang dilakukan (Kel. 20: 5, Yeh. 18:20). Tapi, dosa siapa? Tidak dapat dipungkiri bahwa sejak awal kehidupan, manusia punya kecenderungan alamiah untuk mempersalahkan orang lain (Kej. 3: 12). Jika sudah dapat kambing hitamnya, orang segera merasa dirinya lebih benar dan lebih baik dari yang lain.

Kedua, Yesus menjawab pertanyaan “salah siapa?” dengan cara yang berbeda. Yesus tidak mempertanyakan dari mana asal penyakit, tetapi untuk apa (ay. 3). Ia tidak berorientasi pada masa lalu, tetapi melihat ke masa depan. Buta menjadi kesempatan untuk mengenal pekerjaan Allah. Dan kerja itu dimulai segera (ay.4). Langsung setelah  kata-kata  itu,  karya  penyembuhan  dilakukan  (ay.6).  Melalui  sentuhan  Yesus  dan  air  kolam  Siloam, kegelapan berubah menjadi terang, kedukaan menjadi kesukaan.

Ketiga, secara kuantitatif, si buta dua kali bertemu Yesus dan dua kali bertemu orang Farisi. Sama dalam jumlah, tetapi beda dalam interese. Penginjil Yohanes sepertinya sengaja membiarkan kisah berjalan dahulu. Baru di tengah cerita, dia memberikan tempus: hari penyembuhan itu adalah hari Sabat. Interese seketika berubah. Kesembuhan tidak lagi menarik minat para Farisi. Mereka lebih tertarik pada pelanggaran aturan hari Sabat. Bahkan, pendapat orang yang disembuhkan itu pun, sama sekali tidak menarik minat mereka. Dia dikejar keluar karena dianggap menggurui mereka (ay.34). Pertanyaan retoris orang Farisi di bagian akhir Injil ini pun, akhirnya terjawab dengan sendirinya: apakah itu berarti kami juga buta? (ay.40).

Keempat, beda dengan orang Farisi, dua episode pertemuan Yesus dengan si buta semuanya berakhir baik. Pertemuan pertama berakhir dengan kesembuhan fisik, pertemuan kedua bermuara pada kesembuhan rohani.

Ia sujud menyembah Yesus (ay. 38). Yang juga menjadi poin Yohanes adalah: dalam dua kali pertemuan itu, bukan si buta yang menemukan Yesus, tetapi Yesuslah – bahkan dua kali – yang menemukan si buta.

Minggu Laetare tentu membawa pesan tersendiri. Di tengah kegelapan dosa dan muramnya Prapaskah, ada Yesus pembawa terang. Tetapi, menurut Sabda  Bahagia, hanya orang yang murni hatinyalah, yang mampu melihat Allah, mampu melihat Sang Terang (Mat. 5:8). Yang sombong dan menolak terang memasukan dirinya sendiri ke dalam kegelapan. Sebaliknya, bagi yang rendah hati, terang akan datang menghampiri. Ajakan untuk hidup  dalam  terang  (bacaan  kedua),  memang  pertama-tama  berarti:  merendahkan  diri  dan  belajar  melihat kegelapan diri. Edith Stein pernah berujar: Freude ist ein Zeichen, dass man dem Licht nahe ist.  Kegembiraan adalah tanda, bahwa orang dekat dengan cahaya. Bersukacitalah … ! ©luis®

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *