Pernas Katekis ke 3: “Katekis sebagai Saksi Iman dan Moral di Tengah Keluarga dan Masyarakat Multikultural”

pernaskat1.jpg

Selasa 22 September 2015, bertempat di Puspas Keuskupan Agung Semarang (KAS), Muntilan, Pernas Katekis ke 3 dibuka dengan misa meriah yang diiringi musik gamelan dan kor dari siswa/i SMA Marsudirini Muntilan. Perayaan ekaristi ini dipimpin Ketua Komkat KWI, Mgr. John Liku Ada sebagai selebran utama dan didampingi oleh Vikjen KAS para ketua regio Komisi Kateketik, serta para imam undangan yang hadir.

Dalam khotbanya, Vikjen KAS, Rm. FX. Sukendar, Pr yang mewakili Mgr. Pudjo Sumarto yang berhalangan hadir mengingatkan bahwa setiap umat katolik, apalagi para katekis dipanggil untuk menjadi saksi iman yang handal. Kesaksian hidup itu baik dalam keluarga maupun di masyarakat. Di KAS sendiri kini sedang dikaderkan kurang lebih 1500 katekis sukarelawan. Mereka berlatarbelakang aneka profesi yang telah mengikuti berbagai kursus, seperti evangelisasi pribadi. Mereka ini akan menjadi pewarta-pewarta. Dari pengalaman kita melihat bahwa kesaksian hidup kiranya sangat ampuh dibanding pengajaran. Meski demikian untuk para katekis kesaksian iman dan pengajaran merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dalam hidup dan karyanya.

Selanjutnya dalam sambutan acara pembukaan , Romo Vijken menyampaikan terima kasih kepada Komkat KWI yang telah mempercayakan Komkat KAS sebagai tuan rumah untuk pertemuan yang sangat penting ini. Di Puspas KAS ini, demikian, Rm. Sukendar, merupakan tempat pembinaan iman umat melalui petugas pastoral. Di tempat ini, orang saling berbagi satu terhadap lain, saling melayani serta saling menyemangati. Karena itu sebagai simbol untuk saling berbagi, maka di tempat ini dipelihara sepasang burung pelikan yang juga merupakan simbol pelayanan pastoral di KAS. Pada akhir sambutannya, Vikjen berharap agar semua katekis yang hadir dapat saling menguatkan, seperti burung pelikan yang selalu siap berbagi, dan saling melayani sesama.

Dirjen Bimas Katolik, Bp. Eusibius Bensasi dalam sambutannya, memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada para katekis yang berkarya di seluruh Indonesia. Melalui para katekis inilah, kita semua berharap agar iman umat Katolik bertumbuh dan berkembang secara berkualitas. Sebagaimana cita-cita, harapan Gereja agar hidup umat berkualitas, demikian pula negara Indonesia bercita-cita agar ke depan semua warga masyarakat memiliki SDM yang berkualitas. Kita sebagai umat Katolik harus bisa menjadi warga negara Indonesia berkualitas. Karena itu, disinilah peran penting para katekis sebagai pendidik iman dan moral generasi muda katolik.

Tema Pernas ini sangat menarik dan penting untuk didalami, karena sungguh merupakan tantangan yang sedang kita hadapi saat ini. Banyak orang yang mengakui dirinya beriman, namun kenyataannya tidak bermoral. Beriman tanpa moral adalah mati. Iman dan moral harus saling bergaung dalam seluruh perilaku hidup kita. Pengetahuan katekese tanpa kesaksian maka pastilah hambar. Artinya bahwa harus ada kesesuaian antara pengetahuan dan kesaksian. Kita lebih mudah berbicara tentang kasih tetapi sulit untuk melaksanakan sendiri.

Tantangan terbesar di negeri kita saat ini adalah ada pengkotak-kotakan dalam masyarakat, yaitu antara mayoritas dengan minoritas. Ada gerakan radikalisme karena fanatisme berlebihan dari kelompok-kelompok agama tertentu di mana-mana, bahkan termasuk dalam umat katolik sendiri. Menghadapi berbagai tantangan moral dan iman dalam masyarakat multikultural ini, maka kehadiran dan peran katekis menjadi sangat penting.

Ketua Komisi Kateketik KWI, Mgr. John Liku Ada’ dalam sambutannya menandaskan bahwa tujuan Pernas ini adalah untuk meningkatkan motivasi, spiritualitas katekis, untuk saling mendukung, saling menyemangati dalam skala nasional. Juga sebagai penghargaan Gereja Katolik Indonesia (hiereraki) terhadap para katekis. Mgr. John yang juga uskup agung Makassar ini berharap agar pertemuan seperti ini terus dilanjutkan, karena para katekis adalah ujung tombak pendidikan iman dan moral di lapangan atau di akar rumput.

Ditegaskan pula, bahwa keluarga merupakan unsur sangat penting, baik dalam kehidupan Gereja maupun masyarakat seperti yang disoroti Paus Fransiskus sejak menjadi pemimpin Gereja universal. Apabila keluarga baik, maka umat katolik juga baik adanya. Keluarga baik maka masyarakatpun baik, karena keluarga adalah sel masyarakat.

Gereja Katolik Indonesia, bahkan gereja-gereja lainnya menanggapi keprihatinan paus Fransiskus tentang keluarga pada zaman modern ini. Hal tersebut diwujudkan dalam tema natal bersama KWI-PGI 2015 tentang keluarga. Merujuk pada hasil survey Komisi Keluarga KWI di beberapa keuskupan di Indonesia, Mgr. John mengutarakan bahwa ada 68% pasangan suami – isteri Katolik menyatakan tetap setia pada pasangannya, dan 32% mengalami keretakan kelurga, atau tidak setia dalam janji perkawinan. Artinya bahwa 1 dari 3 pasutri mengalami masalah dan berdampak pada keluarga ini secara keseluruhan. Masalah ini semakin bertambah seiring dengan perkembangan komunikasi digital saat ini, dimana kalau tidak disikapi secara bijaksana maka akan memengaruhi relasi antar-anggota keluarga; suami-isteri- anak-anak. Maka di sini peran kita sebagai katekis sangatlah penting untuk menjaga, merawat keluarga sebagai sel masyarakat, juga Gereja itu sendiri.

Mgr. John berharap agar hasil Pernas Katekis ini dapat menjadi bahan masukan yang berharga bagi Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI 2015) pada bulan November mendatang. Atas nama hirarki Gereja Katolik Indonesia, Mgr. John Liku Ada, yang pada tahun 2015 ini akan mengakhiri masa tugasnya sebagai ketua Komkat KWI karena sudah menjalani dua kali periode memimpin Komkat KWI, menyampaikan apresiasi, penghargaan sebesarnya kepada para katekis di seluruh Indonesia. “Anda semua adalah pahlawan besar , berjasa dalam karya pewartaan Gereja Katolik Indonesia”, demikian Ketua Komkat mengakhiri sambutannya dan dilanjutkan memukul gong sebagai tanda pembukaan Pernas Katekis ke 3 dimulai. Selanjutnya Sekretaris Komkat KWI, Rm. Leo Sugiyono, MSC menyampaikan gambaran proses Pernas pada hari-hari selanjutnya hingga puncaknya pada tgl. 25 September 2015. (Daniel B. Kotan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *