Gambar Yesus dan Perempuan Samaria di sumur Yakub (gambar dibuat dengan AI)
Kel. 17:3-7, Rm. 5:1-2.5-8, Yoh. 4:5-42
Rm. Laurentius Y. Rota
(Ketua Komkat Keuskupan Agung Ende)
Penginjil Yohanes mulai membangun cerita dengan menunjuk tempat: Samaria (ay. 4). Samaria erat dengan „konflik“, baik dari sisi wilayah (ay. 9), maupun – lebih dalam lagi – dari sisi religius (ay. 20). Daerah dan orang Samaria dianggap tidak lagi bersih karena tercampur oleh pengaruh penjajah Asyur yang menduduki wilayah itu di abad ke-8 sebelum Masehi. Akibat lanjutnya adalah hadirnya dua tempat ibadat, pusat keagamaan dan pusat budaya: orang Israel mendirikan Rumah Tuhan di Gunung Sion/Yerusalem, orang Samaria punya hal yang sama di Gunung Gerizim/Sikhem.
Sementara itu, secara lebih spesifik disebutkan Sumur Yakob (ay. 6). Dalam Kitab Kejadian bab 29 dikisahkan tentang Yakob di tepi sumur. Yakob membuka tutup sumur untuk memberi minum ternak milik Laban. Di situlah pula, untuk pertama kalinya, Yakob berbincang dengan Rahel, puteri Laban, yang kemudian menjadi isterinya. Kisah perjumpaan yang mirip dengan bacaan Injil hari ini.
Jika ditilik secara saksama, Injil yang dibacakan di Minggu Prapaskah III ini, sesungguhnya terbagi dalam dua bagian besar. Bagian pertama (ay. 4-26) diisi percakapan panjang antara Yesus dan perempuan Samaria. Di bagian kedua (ay. 27-42) dimunculkan tokoh-tokoh lain ke dalam cerita; para murid dan orang Samaria lainnya. Seturut alur, kisah ini dimulai dengan penentuan tempat dan waktu (4-6), episode I: Yesus dan perempuan Samaria (7 15), episode II: Yesus dan perempuan Samaria (16-26), perempuan Samaria dan para murid (27-30), para murid dan Yesus (31-38), Yesus dan orang Samaria (39-42). Episode I diisi percakapan tentang hal-hal harian, sementara episode II lebih fokus pada hal-hal yang lebih religius.
Tentu banyak hal menarik dapat disimak dari cerita ini. Beberapa hal berikut kiranya dapat digarisbawahi:
Pertama, selain tempat, Yohanes memberi petunjuk waktu yang jelas: pukul 12.00 siang. Mengambil air di tengah hari, bukanlah hal yang biasa. Bukanlah kebetulan bahwa percakapan Yakob dan Rahel juga terjadi di waktu yang kurang lebih sama (Kej. 29 :7). Namun, justru di saat yang tidak biasa itulah, terjadi hal unik: seorang perempuan Samaria berbicara berdua dengan seorang pria Yahudi. Percakapan keduanya pun beda sendiri: yang seorang bicara hal jasmani, yang seorang menjawab dengan hal rohani. Memang, percakapan sepertinya menjadi tidak nyambung. Tapi hal yang terlihat sebenarnya adalah, dalam jawaban-jawabanNya Yesus tidak mempedulikan soal siapa dan dari mana lawan bicaranya; Dia mengarahkan orang untuk menyelami isi. Perjumpaan itu pun berakhir dengan hal yang tidak biasa: orang Samaria mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia (ay.42).
Kedua, kisah di tepi sumur ini punya alur naik. Dari tema harian yang sederhana, menjadi percakapan teologis tingkat tinggi. Dimulai dengan minum dan makan (ay. 7, 31) alias haus dan lapar secara jasmani, bergerak ke santapan rohani (ay 14, 32, 34). Dari keraguan dan tidak percaya (ay. 9), bergerak ke arah pengungkapan diri masing-masing – perempuan itu menunjukkan siapa dirinya (ay. 9, 17), demikian pula Yesus (ay. 10, 14, 26) – dan berpuncak pada pengakuan iman (ay. 42.) Sama seperti di dua Minggu Prapaskah sebelumnya, memang terbaca alur naik dalam Injil, pergerakan dari hal biasa ke hal-hal yang lebih mendalam dan rohaniah.
Ketiga, Yohanes membangun ceritanya dengan indah. Dia menempatkan dalam dan melalui mulut perempuan Samaria tersebut apa yang hendak diajarkannya kepada para pembaca: Yesus adalah seorang Yahudi (ay. 9), Yesus adalah seorang Nabi (ay.19), Yesus adalah pembawa harapan (ay. 25) dan berpuncak pada Yesus sebagai Penyelamat (ay.42). Secara tidak langsung Yohanes menjadikan wanita itu sebagai saksi; dan membuatnya berbeda dengan para murid yang kebingungan.
Kisah unik Injil hari ini menegaskan lagi gerakan dasar Masa Prapaskah: datang kepada Tuhan – bertemu dengan Dia – bertobat dan berbalik – mulai hidup baru. Tuhan selalu menyediakan dan mencurahkan air hidup bagi orang yang kehausan dan mencari padaNya (bacaan pertama). Setiap pertumbuhan dan hidup baru juga akan disiramiNya. Bersamaan dengan itu, dari sisi manusia diperlukan tindakan personal. Memang orang lain dapat membawa dan menghantar kita kepada Tuhan. Tetapi agar sempurna, kita perlu mengalami dan melakukannya sendiri: maju sendiri dan berjumpa denganNya secara pribadi. Pepatah bahasa Jerman bilang: Umkehr bedeutet immer Fortschritt! Berbalik selalu berarti langkah maju! ©luis®.

