Renungan Hari Minggu Biasa V :“Harapan Yang Tidak Mengecewakan”

Bacaan: Ayb. 7: 1-4. 6-7; 1Kor.9: 16-19. 22-23; Mrk.1:29-39

 Hidup manusia sering diwarnai penderitaan. Berhadapan dengan berbagai penderitaan yang dialami, terkadang membuat kita tak berdaya. Berbagai upaya dicari untuk mengatasi dan menyembuhkan berbagai sakit dan penyakit. Seperti pandemi virus Korona yang melanda dunia saat ini terasa tak kunjung berhenti dan hilang, sehingga kita tak berdaya, tapi tidak harus putus asa.

Berhadapan dengan berbagai sakit, penyakit dan penderitaan, kisah Ayub menunjukkan keputus asaannya dan ketak berdayaannya. Seluruh hari-hari hidupnya terasa tak lagi berarti, sia-sia, penuh kegelisahan. Bagi Ayub hidupnya terasa hanya seperti hembusan nafas dan matanya seolah tidak lagi dapat melihat yang baik. Semuanya susah, penuh derita dan kegelisahan. Walaupun demikian, Ayub tetap pasrah dan percaya pada Tuhan dan kehendak-Nya. Ia menyerah kepada imannya akan Allah. Bahwa  manusia dapat berontak terhadap ketidakadilan, penderitaan, sakit dan penyakit yang dialaminya dapat merupakan sesuatu yang agung mulia. Bagi manusia beriman, apapun yang terjadi, ia tetap berharap, sebab ia percaya bahwa Allah tetap mencintainya.

Yesus sangat prihatin dan peduli terhadap orang sakit dan yang menderita. Apapun sakit dan penyakit yang diderita, siapapun dia, Yesus selalu mau menolong dan menyembuhkan serta menyelamatkan. Yesus tidak pernah acuh tak acuh dan masa bodoh terhadap penderitaan manusia. Karena belaskasih  Ia menentang tradisi yang dianggapnya tidak tepat. Yesus mengutamakan keselamatan, kesembuhan dan kebaikan. Ia mau meringankan penderitaan dan membebaskan orang dari segala penyakit yang diderita. Yesus bahkan berdoa kepada Bapa agar siksaan dan penderitaan itu dijauhkan. Namun Yesus tetap rela sedia untuk menderita. Hal itu didorong oleh cinta-Nya yang luar biasa. Bahkan ketika Ia harus mengorbankan hidup-Nya, hal itu terjadi semata karena Ia setia akan cinta-Nya. Cinta-Nya agar manusia disembuhkan, diselamatkan dan mengalami kebahagiaan dan sukacita dalam Allah.

Dalam menjalankan perutusan-Nya itu, khususnya dalam karya penyembuhan-Nya Yesus menimba kekuatan melalui doa. Dalam kesunyian doa, orang akan menemukan kembali arti atau nilai seluruh karyanya. Hanya campur tangan Allah yang menyingkirkan semua sakit, penyakit dan penderitaan. Hanya dalam dan melalui doa-lah harapan akan kesembuhan dan keselamatan menemukan jawabannya.

Bagi kita, Yesus Tuhan selalu siap dan rela untuk menolong dan menyembuhkan kita apapun sakit dan derita yang sedang kita alami dan hadapi. Entah sakit jasmani maupun rohani, Ia mau menyembuhkan dan menyelamatkan kita. Dalam Dia-lah kita menerima kehidupan baru dan kesembuhan serta kegembiraan. Dalam Dia-lah kita memperoleh kekuatan di luar batas kemampuan kita. Apakah kita pun selalu rela sedia seperti Yesus untuk juga menolong sesama dan membawa suatu suasana kehidupan baru yang menyembuhkan dan menggembirakan, atau justru sebaliknya?

Marilah kita datang kepada-Nya agar dijamah dan disembuhkan, dan membantu orang lain untuk juga dijamah dan disembuhkan oleh Yesus. Dalam kesunyian doa-doa kita, semoga rahmat kesembuhan yang kita mohonkan dan kita peroleh dari Tuhan, memampukan kita untuk menyembuhkan orang lain. Sebab dengan percaya dan berharap pada-Nya, kita tidak akan dikecewkan. Tuhan selalu memberkati. ***

 

Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr; Sekretaris Komkat KWI

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *