Renungan Hari Minggu Biasa IV: “Tidak Seperti Ahli Taurat”

Bacaan: Ul. 18: 15-20; 1Kor. 7: 32-35; Mrk.1: 21-28.

Menjadi orang yang “berkuasa” sering sangat diminati, bahkan dicari dan dikejar serta diusahakan oleh sementara orang. Orang ingin menjadi orang yang berkuasa  dan karena itu ia  akan “main kuasa” dan merasa diri sebagai tuan besar, sebagai boss yang harus disegani, dihormati, didengarkan, bahkan terkadang menuntut disembah, dipuji, dikagumi.

Yesus dalam Injil hari ini tampil di depan umum, mengajar banyak orang sebagai orang “yang berkuasa” tidak seperti ahli-ahli Taurat. Itu berarti “kuasa” yang diemban dan dimiliki oleh Yesus beda dengan kuasa yang dimiliki oleh ahli-ahli Taurat. Para ahli Taurat merasa diri punya kuasa sebagai penjaga dan pengatur hukum, yang merasa diri sebagai tuan besar/boss sehingga hukum itu harus dilaksanakan oleh orang kebanyakan dan bukan untuk mereka. Karena itu tidak segan-segan mereka meletakkan beban hukum, aturan kepada orang lain dan harus dilaksanakan, tapi bukan oleh mereka. Para ahli Taurat itu merasa diri punya kuasa dan karena itu tidak segan-segan untuk main kuasa, bahkan penampilannya selalu dengan motivasi supaya dipuji, disenangi, dikagumi, dihormati, disembah dan “dijilat”. Mereka merasa seolah-olah mereka paling tahu, punya pengetahuan yang luas dan mendalam tentang aturan/hukum, tentang ajaran agama, tentang tata norma yang mengatur kehidupan bersama. Terkadang tuntutan mereka sangat kuat bagi orang lain supaya menjaga dan menjalankan semuanya itu, sementara mereka sendiri tidak peduli. Apa yang diajarkan kepada orang lain tapi mereka sendiri tidak pernah akan melakukannya. Kata dan tindakannya sangat bertolak belakang atau bertentagan. Lain kata, lain perbuatan. Lain di bibir, lain di hati. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dikecam oleh Yesus sebagai orang-orang munafik, sebagai orang-orang celaka (bdk. Mat.23:1-39). Mereka menutup pintu Kerajaan surga dan menghalangi orang yang mau masuk dan mereka sendiri tidak mau masuk. Mereka seperti kuburan yang dilabur putih bagian luar tapi bagian dalam penuh kotoran.

Yesus sendiri tampil tidak seperti ahli-ahli Taurat.Yesus menyapa setiap orang. Yesus mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa yakni kata dan tindakan-Nya satu. Yesus sebagai orang yang berkuasa karena memiliki hubungan pribadi dan khusus dengan Alah. Dan kuasa itu diperoleh-Nya dalam kesatuan hubungan dengan Bapa. Tanpa hubungan pribadi dengan Bapa, tanpa menjalin kesatuan dengan Allah, orang tidak memiliki kuasa yang sepenuhnya dan sepatutnya. Dengan demikian ia tidak pernah akan main kuasa dan seenaknya, karena kuasa yang Ia miliki semata anugerah dari Allah. Orang hanya akan sadar bahwa kuasa itu pun harus dipertanggungjawabkan kepada Allah yang memberikannya.

Sebagai yang berkuasa, Yesus memanggil murid-murid-Nya, berkuasa mengajar, berkuasa menyembuhkan orang sakit, menghibur yang bersusah, mengusir setan/roh jahat, menghantar orang kepada keselamatan dan kebahagiaan, kesembuhan dan penghiburan. Kuasa yang dimiliki Yesus bukan untuk menindas, bukan untuk cari gampang, bukan untuk cari nama da popularitas diri supaya dikagumi, disenangi dan dipuji, tapi semata demi keselamatan manusia. Kuasa-Nya menyatu dan nyata dalam kata dan tindakan-Nya. Kata dan tindakan-Nya sungguh menyapa dan menyentuh situasi konkrit manusia; dan menghargai serta menghormati setiap orang sebagai pribadi yang patut dihargai dan diselamatkan. Maka jelas, “Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat”

Pesan bagi kita: Apakah kata dan tindakan/hidup kita sudah jadi satu, atau justru sebaliknya: lain di bibir lain di hati, lain dalam tindakan? Apakah kepemimpinan kita dalam keluarga dan di mana saja sungguh menyapa seperti Yesus atau lebih menuntut dihormati? Bagaimana kita membangun relasi kita dengan Allah melalui doa-doa kita, penerimaan sakramen-sakramen, melalui perbuat amal kasih kita kepada sesama, atau kita merasa punya kuasa mulai main kuasa, menindas dan menuntut berlebihan pada orang lain dan bukan pada diri sendiri? Apakah kita seperti Yesus atau seperti ahli Taurat ketika kita merasa kita punya “kuasa”? Semoga hidup kita sungguh-sungguh dijiwai oleh semangat Yesus sendiri, tidak seperti ahli-ahli Taurat di zaman ini, tidak munafik dan hidup dalam kepalsuan, meneladan Yesus dalam kata dan tindakan.  Kita mohon kekuatan Allah supaya kita berani seperti Yesus sendiri untuk menjadi nabi zaman ini dengan dan dalam kuasa Yesus.***

 

Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr; Sekeretaris Komkat KWI

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *