Renungan Hari Rabu Abu: “Tobat: Berbenah, Berubah dan Berbuah”

Bacaan : Yoel 2:12-18; 2Kor 5: 20-6:2; Mat.6: 15-18  (Tahun A)

Kita memasuki masa Pra-Paskah atau masa puasa, masa tobat, masa penuh rahmat retret agung umat beriman dengan menerima/menandai diri kita dengan ABU. Abu adalah tanda kerapuhan manusia yang mudah jatuh dalam kelemahan dan dosa. Abu juga adalah tanda pertobatan. Kita memulai masa tobat dengan berpuasa, bermatiraga, beramal kasih dan meningkatkan kehidupan doa. Masa puasa adalah masa kita berbenah diri dan hidup kita sebagai orang beriman.

Kesempatan secara khusus untuk lebih menahan diri dari segala kesenangan dan kenikmatan, untuk terus berbuat amal dan lebih mendekatkan diri dengan Tuhan, sesama, lingkungan dan diri sendiri.. Puasa sejati adalah membangun pertobatan dengan mengoyakan hati, membangun sikap batin dengan meninggalkan hal-hal buruk dalam hati dan dalam sikap hidup sehari-hari. Maka, pertobatan adalah proses mencapai kesempurnaan hidup Kristiani melalui perbuatan amal kasih, melalui doa dan puasa.

Bacaan-bacaan hari mengajak kita untuk memanfaatkan saat ini sebagai saat rahmat dan berkat kembali kedalam belaskasih Allah karena Allah adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Sebagaimana Yoel dalam bacaan pertama mengajak, “sekarang, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh” Yang diminta adalah sekarang, saat ini. Inilah saat yang penting, saat rahmat, saat keselamatan. Maka dengan nasehat Rasul Paulus dalam bacaan kedua agar kita memberi diri untuk didamaikan dengan Allah. Masa tobat adalah masa dimana kita dengan penuh kerendahan hati dan berani untuk memberi diri didamaikan dengan Allah. “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah” “Jangan membuat sia-sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima”. “Camkanlah, saat inilah saat perkenaan itu, hari inilah hari penyelamatan itu”, demikian tegas Rasul Paulus. Maka, butuh keberanian dan kerendahan hati.

Kitapun diingatkan oleh Yesus di awal masa pra-paskah, masa puasa ini agar hati-hati dalam menjalankan kewajiban agama kita sebagai orang beragama dan beriman. Dalam menjalankan kewajiban agama supaya jangan suka pamer agar dilihat orang. Kewajiban agama yang suka pamer justru tidak mendatangkan rahmat dan berkat atau sangat tidak bernilai. Ini perlu diwaspadai agar kita tidak jatuh dalam kecenderungan suka pamer. Orang seperti itu sudah mendapat bagiannya dari Allah. Juga dalam hal memberi sedekah, dalam hal berdoa dan berpuasa. Semua tindakan ini harus dijalankan dari hati dan dengan hati, dan hanya demi kemuliaan Tuhan. Semua ungkapan lahiriah harus keluar dari ketulusan hati, dari kerendahan hati dan dari kesungguhan hati, tanpa ada maksud tersembunyi dalam semua praktek keagamaan itu. Mengapa? Karena “Bapa yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”.

Kita berdoa, semoga awal masa puasa, masa pra-paskah ini kita jalani dalam semangat pertobatan dan kerendahan hati, agar apa yang tersembunyi yang kita lakukan dalam diam, mendatangkan rahmat dan berkat berlimpah. Itulah puasa dan tobat yang sesungguhnya. Kita mulai hari ini, sekarang ini, saat ini, karena hari ini adalah saat perkenaannya. Melalui tobat kita semakin berbenah, berubah dan berbuah.

******

Ditulis oleh Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr; Sekretaris Komkat KWI, Jakarta.

sumber gambar: https://pekanbaru.tribunnews.com/2020/02/15/jadwal-perayaan-rabu-abu-2020-makna-beserta-arti-rabu-abu

One thought on “Renungan Hari Rabu Abu: “Tobat: Berbenah, Berubah dan Berbuah”

Tinggalkan Balasan ke Neni Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *