Katekese Hari Rabu Abu: Pertobatan Nampak Dalam Perbuatan Nyata (Rm. Frans Emanuel da Santo, Pr)

HARI RAYA RABU ABU:

Bacaan : Yl. 2:12-18; 2Kor 5:20 -6:2; Mat 6:1 – 6, 16-18

Oleh Rm. Frans Emanuel da Santo, Pr

Kita memasuki masa puasa sebagai masa khusus dan istimewa, untuk berbenah diri meningkatkan mutu hidup iman kita dalam beramal dan berbuat baik. Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita, “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka..”.(Mat 6:1) Maka apapun perbuatan baik kita, kiranya merupakan ungkapan iman dari relasi personal kita dengan Tuhan, terwujud juga dalam perbuatan atau tindakan kita terhadap sesama dan lingkungan hidup kita. Tobat yang sungguh harus nampak dalam usaha nyata. Dan usaha nyata itu timbul dari kesadaran!

Masa puasa, masa pra-paskah adalah masa pertobatan, pembaharuan diri seturut kehendak Tuhan; masa berdamai kembali dengan Tuhan, sesama dan lingkungan; masa untuk lebih mengarahkan diri dan seluruh hidup kepada Tuhan. Yesus meminta kita hari ini untuk berpuasa, berdoa dan memberi sedekah kepada kaum papa-miskin. Itulah makna hidup beriman yang sesungguhnya. Masa pra-paskah ini diisi dengan puasa, pantang, matiraga; dengan doa, penerimaan sakramen serta perbuatan amal kasih  melalui derma dan kesaksian hidup.

Hanya debulah aku di alas kakiMu Tuhan…

Melalui puasa, pantang dan mati raga, kita belajar melepaskan diri dari keterikatan duniawi dan kecenderungan-kecenderungan atas keinginan manusiawi kita yang tidak teratur dan tidak sejalan dengan kehendak Tuhan; lalu menyesuaikan serta menyelaraskan diri dan hidup kita dengan kehendak Tuhan, sehingga dapat bersatu dengan Tuhan dan dengan sesama. Melalui doa, ibadah dan penerimaan Sakramen, kita mohon bantuan Tuhan sekaligus menimba rahmat dan kekuatan dari Tuhan yang menyanggupkan kita untuk hidup seturut kehendak-Nya dalam ziarah menuju persatuan abadi dengan-Nya. Dan, melalui perbuatan-perbuatan amal kasih, kita mewujudkan kesetiakawanan, solidaritas sebagai orang beriman dengan orang lain yang susah dan menderita.

Dampak puasa

Puasa mempunyai dampak/pengaruh yang diharapkan, seperti:

Dampak Spiritual, yaitu puasa dapat mendekatkan kita umat Kristiani pada Allah secara lebih akrab. Pengembangan persekutuan/paguyuban hidup kita di Komunitas (KBG, lingkungan dan keluarga) menjadi lebih terbuka sebagai paguyuban iman, harap dan kasih. Selanjutnya melahirkan, menyegarkan dan memberikan kekuatan rohani dalam hidup setiap orang beriman.

 Dampak Sosial, yaitu membangkitkan kesadaran social, kepedulian, keprihatinan yang lebih besar. Dengan itu dapat meruntuhkan tembok pembatas dengan orang lain. Menjadi sebuah kesempatan untuk memperkuan dan meneguhkan kita untuk memecahkan persoalan bersama dalam pembicaraan-pembicaraan bersama atau dalam shering iman bersama dalam komunitas beriman secara benar dan tepat; juga dapat memberikan dampak perubahan sosial dan menghasilkan perbuatan yang adil.

Dampak Fisik, yaitu dengan puasa kita dapat menciptakan semacam pengalaman akan “rasa lapar” dan turut mengambil bagian dalam penderitaan orang lain. Dapat menciptakan rasa lemah dalam diri kita sebagai manusia untuk meningkatkan kepekaan, kepedulian dan keprihatinan social.

Sabda Tuhan melalui bacaan-bacaan Kita Suci hari ini mengajak dan menuntun kita sebagai umat beriman untuk memulai saat penuh rahmat ini. Suatu tuntutan yang tegas untuk bertobat. Bertobat yang harus disertai dengan niat yang ikhlas. Dan niat itu harus diungkapkan dengan cara yang konkrit.

 “Tetapi sekarang juga,  berbaliklah kepadaKu dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya…”(Yl 2: 12-13) dan, “adakanlah puasa yang kudus….”(Yl 2:15)

Rasul Paulus pun dengan tegas  minta, “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah”(2Kor 5:20) “Jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima…”(2Kor 6:1-2) “waktu inilah waktu perkenaan itu. Hari ini adalah hari penyelamatan itu…”(2Kor 6:2-3) Bagaimana caranya? Konkritnya seperti apa? Yesus memberikan cara itu. “Lakukanlah kewajiban agamamu bukan untuk dilihat; dengan memberi sedekat, dengan berpuasa dan berdoa,…bukan dengan cara pamer, sebab  Bapa akan membalasnya. Praktek puasa harus dijiwai oleh sikap dasar yaitu kasih yang tulus.

Oleh karena itu, Marilah kita tata kembali hati dan hidup kita, kita membaharuinya. Kita sungguh rela bertobat, mendamaikan diri dengan Allah dan dengan sesama. Kita mengarahkan hidup kita kembali kepada Tuhan, kembali ke jalan Allah. “Bertobatlah dan Percayalah kepada Injil” – berarti bahwa kita percaya akan kabar gembira keselamatan itu sungguh sudah datang, sedang datang dan akan datang. Dalam diri Yesus Sang Kabar Gembira itu telah nyata, ada dan menawarkan keselamatan. Kita percaya bahwa Dia-lah penyelamat yang diutus Bapa. Kita bertobat dan percaya. Bertobat tanpa percaya tidak mungkin. Percaya tanpa tobat adalah mustahil. Semoga kita sungguh bertobat dan sungguh percaya kepada Sang Kabar Gembira, agar kita diselamatkan. Maka baiklah kalau kita koyakkan hati dan bukan pakaian. “Berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya dan Ia menyesal karena hukuman-Nya…” (Yl 2: 13)**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *