Pertemuan Pengurus Lengkap Komkat KWI 2019

Pada tanggal 25-28 Pebruari 2019, bertempat di Wisma Samadi, Klender Jakarta, Para Pengurus Komkat KWI mengadakan pertemuan dan hari studi yang membahas tantangan katekese masa kini dan peran para katekis. Selain itu juga dibahas draft bahan katekese persiapan krisma dan draft buku ajar PAK PT umum. Selanjutnya, para peserta mendengar laporan kerja dari para ketua regio, wakil lembaga PERPETAKI, PERDIKKATI dan Lembaga Teologi/Seminari. Pada hari terakhir ada warna sari yang membahas tema pernas katekis ke-4 tahun 2019.

  Ketua Komkat KWI, Mgr DR. Paul Yan Olla, MSF dan sekr,Komkat KWI, Rm.Frans da Santo (Festo)  Pr

Hadir dalam pertemuan ini, Mgr Paulinus Yan Olla, MSF selaku Ketua Komisi Kateketik KWI, Rm. Fransiskus Emanuel da Santo selaku Sekretaris Komkat KWI, seluruh staf dan staf ahli Komkat KWI, ketua-ketua regio, Wakil Lembaga Teologi/Seminari, Lembaga PERPETAKI dan PERDIKKATI, serta para penulis buku ajar PAK PT Umum. Pertemuan dan pendalaman berbagai tema berlangsung dalam suasana persahabatan dan diikuti dengan setia oleh semua peserta.

Tantangan Dan Peluang Katekese Masa Kini

Narasumber hari studi, Rm. DR. Manfred, Pr (kiri) dan Rm. Agus, Pr, (kanan) sebagai  moderator rapat, wakil  regio  Komkat Nusa Tenggara. 

Rm. DR. Manfred Habur, Pr,  dalam presentasinya menjelaskan bahwa situasi masa kini ditandai oleh berkembangnya budaya postmodern dengan simbol utamanya gadget dan internet. Berbeda dengan era modern yang mengagung-agungkan kebenaran objektif dan universal, era postmodern mengedepankan relativisme dan kebenaran subjektif. Generasipostmodern bersikap curiga terhadap segala bentuk otoritas dalam masyarakat, termasuk agama yang dogmatis. Mereka mencurigai segala institusi yang mengklaim punya segala jawaban. Mereka juga tidak serta-merta meyakini pembicaraan yang berada di luar lingkup pemikiran dan pengalaman mereka. Mereka memiliki sikap yang amat relatif tentang kebenaran. Tidak ada kebenaran objektif dan dogmatis. Kebenaran selalu “kebenaran menurut siapa”.

Seiring dengan perkembangan teknologi digital, lahir generasi milenial yang memiliki karakter yang khas. Generasi ini mahir dengan teknologi informasi seperti facebook, twitter, instagram, SMS, WA, Line, dan berbagai aplikasi komputer. Beberapa sifat menonjol dari generasi milenial antara lain: bebas mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya secara spontan, tanpa rasa takut dengan siapa pun dan level apa pun melalui jaringan internet; cenderung toleran dengan perbedaan budaya dan sangat peduli dengan lingkungan; multitasking yakni dapat melakukan berbagai aktivitas dalam satu waktu yang bersamaan dan karena itu mereka ingin serba cepat dan langsung, instan, tidak sabar, dan kurang menghargai proses; cenderung kurang memberi tempat kepada komunikasi verbal, bersikap egosentris dan individualis.

Untuk generasi ini, iman menjadi urusan pribadi. Mereka mungkin beragama Kristen tetapi seturut kebutuhan pribadinya. Mereka mengambil nilai-nilai yang dianggapnya cocok dan mengabaikan nilai-nilai lain yang tidak sesuai dengan keinginannya. Apa yang cocok hari ini mungkin tidak cocok lagi esok dan bisa ditinggalkan sesukanya. Mereka menghayati iman secara fragmentaris, untuk kepentingan hari ini dan mengabaikan nilai-nilai transendental yang bersifat absolut. Paus Fransiskus, dalam  anjuran apostolik Evangelii Gaudium mengungkapkan bahwa pada masa ini setiap orang cenderung mereduksi iman dan ajaran Gereja dalam lingkungan privat dan intim. Dengan penolakan terhadap segala bentuk transedensi, penghayatan moral melemah, makna dosa personal dan sosial berkurang dan terjadi relativisme kebenaran iman (Bdk EG 64).

Kendati demikian, harus diakui bahwa ada hal-hal yang positif dari budaya ini. Dalam budaya ini orang memang cenderung bersifat indiferen terhadap agama atau kebenaran-kebenaran yang diklaim sebagai objektif dan universal, namun sesungguhnya mereka percaya pada perwujudan diri pribadi yang terus mencari kebenaran yang otentik, yang dipandang dapat memberi kepenuhan hidup. Mereka tetap mempunyai pencarian atau pergulatan religius untuk mencari makna hidup. Mereka akan dengan bebas menyatakan “keiaan” kepada sesuatu, bila hal itu dipandang layak untuk diterima dan dimiliki. Pada prinsipnya mereka ingin ikut serta menentukan keselamatan dan masa depan mereka.  Dalam konteks ini, mereka lebih percaya pada pengalaman pribadi daripada ajaran yang datang dari luar. Penawaran nilai-nilai dari luar dapat diterima asalkan ditawarkan secara jujur dan otentik serta diletakkan dalam kerangka relasi personal. Di sini pewartaan mengenai Allah dan ajaranNya harus terlebih dahulu menyentuh wilayah afeksi dan baru kemudian daya pikir, harus lebih menekankan kesaksian hidup daripada teori-teori.

Katekese Masa Kini

Menanggapi tantangan dan peluang di atas, katekese masa kini hendaknya ditawarkan secara jujur dan otentik dalam semangat kerendahan hati dan dialog antar pribadi. Katekese yang demikian mengandaikan tiga hal, yakni: kebebasan, kesukarelaan, dan “keibuan” Gereja.Kebebasan berarti bahwa orang harus dimungkinkan untuk menerima pewartaan, perayaan dan pelayanan Injil secara bebas tanpa merasa terpaksa. Kesukarelaan berarti bahwa pewartaan  dan pastoral Gereja harus menghormati sistem nilai personal setiap pribadi dan tidak memaksakan sistem nilai kristiani sebagai sesuatu yang wajib diterima karena bersifat objektif dan universal. Katekese tidak terutama mencemaskan institusi, dogma dan ajaran Gereja. Kecemasan utama adalah pribadi manusia yang harus dibimbing untuk memperoleh kepenuhan hidup di dalam Kristus. Paus Fransiskus dengan tandas mengatakan bahwa awal mula kekristenan bukanlah dogma, rumusan etik, atau institusi melainkan sebuah kejadian (evento) dan kejadian itu adalah seorang pribadi yakni Yesus dari Nazaret (Bdk. EG 7). Keibuan Gereja mengacu pada pewartaan yang tidak hanya menekankan penerusan ajaran Gereja melainkan seluruh cara hidup komunitas Gereja untuk menyaksikan Injil dalam kehidupan konkrit setiap hari (Bdk. EG 21). Dia mengutamakan persahabatan daripada pengajaran dan nasihat, lebih mengutamakan kesaksian hidup daripada kata-kata, lebih mengutamakan jalan bersama-sama dari pada sikap mengawasi.

Peserta rapat Pleno Komkat KWI 2019, berdiskusi tentang perkembangan karya katekese Gereja

Indonesia.

Model katekese masa kini hendaknya menekankan pendekatan eksperiensial. Katekese terutama dipahami sebagai tindakan kenabian yang menerangi dan menafsirkan hidup dan sejarah umat manusia. Di sini katekese dipandang sebagai proses penerangan atas eksistensi manusia sebagai campur tangan Allah, dalam mana misteri Yesus Kristus disaksikan dalam bentuk pewartaan sabda dengan tujuan untuk memperdalam dan mendewasakan iman dan untuk membimbing umat mengaktualisasikan iman dalam hidup sehari-hari.Proses katekese eksperiensial mengikuti alur sebagai berikut: menghargai pengalaman manusia, menemukan makna religius pengalaman manusiawi, membimbing ke arah perjumpaaan pribadi dengan Krsitus yang memberikan kepenuhan hidup, dan merasakan panggilan untuk terlibat dalam pembangunan Kerajaan Allah di tengah dunia.

Katekis Yang Berkarakter

Berdasarkan karakteristik katekese sekarang ini, maka Katekis yang diharapkan adalah agen pastoral yang dapat mengedepankan prinsip kebebasan, kesukarelaan dan keibuan Gereja dalam tugas dan pengabdiannya. Di sini peran katekis adalah sebagai saksi, teman seperjalanan, bentara Sabda, dan pembangun komunitas. Sebagai saksi Dia tidak terutama berbicara banyak tentang Tuhan tetapi membiarkan Tuhan banyak berbicara melalui kesaksian hidupnya. Sebagai teman seperjalan, katekis selalu mau ada di samping orang muda, anak-anak, remaja dan orang dewasa yang mau dilayaninya, sebagaimana Kristus berjalan di samping kedua murid Emaus. Sebagai bentara Sabda, seorang katekis dipanggil untuk mewartakan Sabda dan tahu menginterpretasi dalam terang Firman Tuhan pengalaman manusiawi orang-orang masa kini(Bdk. CT 20).

Untuk menjalankan peran-peran tersebut sangatlah dibutuhkan katekis yang berkarakter. Karakter sering diidentikan dengan personalitas atau kepribadian. Karakter juga sering dikaitkan dengan pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral yang berarti bahwa orang yang berkarakter adalah orang yang mengetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik. Secara sederhana karakter berarti keteguhan batin yang dikembangkan secara sadar, yang berurat akar dalam diri seseorang, dan yang menjadi energinya dalam bertindak sehari-hari demi mencapai tujuan nilai-nilai moral yang tinggi. Di sini karakter berkaitan dengan masalah hati – bagian dalam dan bukan bagian luar manusia. Karakter adalah roh, semangat yang terungkap dalam tindakan dan kehidupan sehari-hari. Katekis yang berkarakter adalah katekis yang memiliki keteguhan batin, memiliki keyakinan yang mendalam, yang berurat akar dalam dirinya dan menjadi roh atau kekuatan internal dalam bertindak sehari-hari untuk mencapai tujuan nilai-nilai moral yang tinggi.

Dari segi etis-spiritual, katekis yang berkarakter memiliki iman yang mempribadi, (Bdk. GC 10) yang terungkap dalam penghayatan keutamaan-keutamaan penting sebagai katekis yakni kesiapsediaan, totalitas, cura personalis, kerja keras dan mutu, sense of belonging, kerendahan hati, bijaksana, memperjuangkan kebenaran, mudah bersyukur, dan  berpengharapan.

Modul Persiapan Krisma oleh tim Domus Cordis

Mendukung model katekese masa kini, Komkat KWI telah mendorong kelompok Domus Cordis untuk menyusun bahan katekese persiapan krisma bagi generasi milenial. Kelompok Domus Cordis adalah orang-orang muda dari Keuskupan Agung Jakarta yang peduli terhadap pertumbuhan iman generasi milenial. Mereka berminat untuk menggarap bahan-bahan katekese yang yang sesuai karakter generasi milenial. Dalamkerangka itu mereka telah membangun situs website www.krismapedia.com, sebagai sebuah situs interaktif pendalaman iman generasi milenial. Selain itu mereka telah menyusun draf buku persiapan krisma yang berjudul Krismapedia. Buku ini terdiri dari film-film singkat yang isinya selalu diawali dengan pengalaman konkrit, lalu disusul oleh pertayaan eksistensial, dan diakhiri oleh paparan ispirasi biblis secara singkat. Selain itu juga ada kesaksian hidup santo-santa dalam sejarah Gereja.

Selama pertemuan, peserta telah mengamati draft secara bersama-sama. Peserta mengapreasi draft yang ada. Model pembelajarannya menghargai karakteristik milenial, namun isinya perlu diperkaya, supaya tidak terjebak dalam kecenderungan fragmentaris. Untuk itu perlu dibentuk tim khusus untuk mendalami lebih lanjut draft ini. Tentu prinsip yang dipegang adalah: setiap proses kateketis harus mengutamakan perjumpaan dengan pribadi Yesus Kristus sebagai jalan, kebenaran dan hidup dan bukan terutama mengetahui rumusan-rumusan doktrin Gereja.

Buku Ajar PAK Perguruan Tinggi  Umum

Masih dalam konteks pewartaan masa kini, Komkat KWI dalam kerja sama dengan Dirjen Bimas Katolik telah menyusun silabus PAK PT umum. Silabus tersebut berlandas pada kurikulum KKNI di Perguruan Tinggi yang menekankan pencapaian pembelajaran dengan memperhitungkan kompetensi kepribadian, pengetahuan dan kerampilan. Proses pembelajaran tetap memperhatikan pengalaman dan pencarian mahasiswa dan   misteri Kristen ditempatkan sebagai tawaran yang menyelamatkan dan membebaskan.

Komkat KWI telah mempercayakan Ibu Yap Fu Lan, RP. Bagus Laksana, SJ, dan RP C. Putranto SJ, untuk menyusun buku ajar PAK PT Umum. Dalam pertemuan ini, para penulis telah mempresentasikan hasil kerjanya yang masih berproses. Peserta sidang menganjurkan hal-hal berikut:

  1. Agar buku ajar yang disusun harus mengikuti silabus yang telah disepakati.
  2. Isinya berkaitan dengan kesadaran diri, kesadaran lingkungan, kristologi, trinitas, mariologi, Gereja, dunia digital, dan moral sosial. Kajiannya bersifat naratif dan tidak terutama menekankan uraian yang terlampau intelektual. Bahasanya kiranya sederhana dan memperhitungkan pengalaman konkrit mahasiswa.
  3. Dead line draft Agustus 2019 dan perlu diuji coba pada pertemuan para dosen bulan Agustus 2019

Laporan Regio, PERDIKKATI, PERPETAKI, Lembaga Teologi/Seminari

Setiap regio (Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi-Maluku dan Papua) menyampaikan informasi kegiatan katekese di keuskupannya masing-masing. Laporan berdasarkan rencana program kerja yang telah dirumus masing-masing Komkat tingkat regional  pada Pertemuan Kateketik antar-Kesuskupan se-Indonesia (PKKI) ke XI di Makassar. Berdasarkan laporan diketahui bahwa setiap Komkat Keuskupan mengembangkan karya katekese juga berdasarkan arah dasar pastoral di keuskupan masing-masing.

Lembaga Pendidikan Kateketik-Pastoral dibawah asosiasi  PERDIKKATI (Persekutuan Pendidikan Agama Katolik) dibawah payung Kemenristekdikti dan PERPETAKI  (Perhimpunan Perguruan Tinggi Agama Katolik Indonesia)  dibawah payung Kemenag (cq. Ditjen Bimas Katolik), menyampaikan laporan seputar pengembangan kurikulum pendidikan terkini di lembaga pendidikannya masing-masing serta harapan kerja sama antar kedua konsorsium  tersebut ke depan untuk kepentingan karya pewartaan Gereja Indonesia. Harapan bersama akan diselenggarakannya program pascasarjana (S2) kateketik di Indonesia kiranya dapat diwujudkan secepatnya karena menyangkut kebutuhan dunia pendidikan kita, khususunya menyiapkan SDM yang handal, profesional selain tuntutan formal dalam lembaga pendidikan di Indonesia (regulasi mengenai dosen/tenaga pendidikan pascasarjana yang linear keilmuannya).

Lembaga Pendidikan calon imam (Seminari Tinggi) atau Sekolah Tinggi  Filsafat Teologi, sudah berupaya mendorong para calon imam untuk bekajar ilmu kateketik dan mempraktiknya dalam tugas pastoralnya, entah di sekolah atau di paroki. Ada beberapa STFT, seperti Fakultas Filsafat dan  Teologi USD Yogyakarta  bekerja sama dengan fakultas IPPAK USD  untuk pelatihan melaksanakan kegiatan proses pembelajaran di Sekolah. Para dosen kateketik di STFT telah beberapa kali mengadakan pertemuan untuk membahas apa dan bagaimana pengembangan kateketik di lembaga pendidikan calon imam.

Rekomendasi

Peserta pengurus lengkap Komkat KWI, setelah mengikuti seluruh proses sidang, pada akhir rapat memberikan beberapa rekomendasi untuk ditindaklanjuti, baik oleh Komkat KWI maupun Komkat keuskupan serta lembaga pendidikan calon katekis dan calon imam.

KWI

  1. Perlu menindaklanjuti rekomendasi hari studi kateketik tahun 2011 untuk memperhatikan kesejahteraan dan bina lanjut para katekis
  2. Perlu mengambil langkah untuk kepastian status keberadaan STFK dan Perdikkati di bawah dikti.

 Komkat  KWI

  1. Perlu menyelenggarakan ret-ret untuk para katekis dalam rangka pemantapan spiritualitas dan karakter katekis di zaman yang menantang ini.
  2. Membetuk tim khusus yang terdiri dari staf ahli Komkat KWI untuk mereview modul katekese krismapedia sebelum diaprovasi oleh ketua Komkat KWI
  3. Selalu mengecek perkembangan pengerjaan Buku Ajar PAK PT umum yang dead line draftnya jatuh pada bulan Agustus 2019.
  4. Mendorong komkat-komkat keuskupan untuk mengembangkan aplikasi on line untuk kepentingan karya katekese seperti fressjus di Denpasar.
  5. Mendorong komkat-komkat keuskupan untuk mengembangkan wadah bina lanjut untuk para katekis seperti sekolah pemuka jemaat di Sumatera dan forum pemimpin umat di Keuskupan Agung Medan.
  6. Perlu memikirkan penggunaan dana kesejahteraan katekis untuk kepentingan katekis.
  7. Perlu bekerja sama dengan komisi Seminari untuk menyelenggarakan pertemuan antara pimpinan sekolah katektik dan rektor seminari dalam rangka mempersiakan jalinan kerja sama antara katekis dan imam dalam medan pelayanan kemudian.
  8. Perlu menyelenggarakan pertemuan dosen-dosen kateketik STFT, PERDIKKATI dan PERPETAKI
  9. Perlu memikirkan pertemuan PKKI setiap 3 tahun

Kordinator Regio

  1. Terus menghidupkan pertemuan tahunan regio sebagai kesempatan untuk saling meneguhkan dalam karya katekese dan saling berbagi pengalaman dan hasil karya
  2. Perlu mendorong partisipasi ketua-ketua komkat di regionya dalam pertemuan regio

 Komkat Keuskupan

  1. Menjalin kerja sama dengan KEP dan Prodiakon untuk mengembangkan karya katekese di keuskupan
  2. Terus memajukan pembinaan berlanjut untuk mengembangkan profesionalitas katekis dan terutama spiritualitas mereka.
  3. Bekerja sama dengan Komsos untuk mengembangkan katekese multimedia dan katekese digital.
  4. Mendorong pastor-pastor paroki untuk bekerja sama dan memperhatikankatekis-katekis paroki
  5. Mengembangkan katekese total yaitu katekese yang terintegrasi dengan pastoral lain seperti liturgi, diakonia, dan koinonia.

Lembaga Seminari

  1. Bekerja sama dengan Komsos menyelenggarakan pelatihan pembelajaran katekese multimedia bagi frater-frater teologan
  2. Mempertemukan rektor-rektor seminari dan dosen-dosen di Seminari untuk mendorong animasi katekese bagi seminaris

Perdikkati dan Perpetaki

  1. Perlu membentuk tim kecil untuk memperjuangkan identitas Perdikkati di kementerian Agama dan Dikti
  2. Terkait hubungan antara PERDIKKATI dan PERPETAKI, Komkat KWI diharapkan mengkoordinasi keduanya agar dapat bersinergi  secara baik demi  kepentingan  karya pewartaan Gereja  yaitu dari  output (katekis) yang dihasilkan.
  3. Pengembangan program S2 Kateketik merupakan kebutuhan yang nyata saat ini,  karena itu PERDIKATI dan PERPETAKI  berharap program pascasarjana kateketik tersebut segera diwujudkan.

Pada sesi terakhir peserta sidang membahas  tentang Pertemuan Nasional Katekis ke-empat akan berlangsung pada tanggal 26-29 Agustus 2019, di Keuskupan Denpasar. Tema Pernas Katekis yang ditetapkan adalah :“Kegembiraan dan Pembaharuan Semangat Misioner Katekis menyambut 100th Maximum Illud”.  Peserta Pernas adalah para katekis lapangan, atau akar rumput yang berperan penting di  basis  Gereja. Pertemuan katekis secara nasional ini bertujuan untuk menguatkan dan meningkatkan spiritualitasnya para katekis pada era modern ini. Pertemuan ini juga sebagai bentuk penghargaan kepada para katekis sebagai ujung tombak tugas pewartaan Gereja di tengah dunia yang terus berubah (DBK).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *