Pertemuan Dosen Katolik di KWI

dosen katolik-2.jpg

CUACA Kota Jakarta yang kurang bersahabat rupanya tidak menyurutkan tekad para dosen katolik yang hadir memenuhi undangan Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) KWI di aula pertemuan lantai 4 di gedung KWI, Jakarta (22/1/15). Para dosen tersebut berasal dari berbagai universitas. Selain dari Unika Atma Jaya dan STIK Tarakanita, mereka yang hadir lebih banyak berasal dari perguruan tinggi non katolik seperti Trisakti, Binus, UNJ, Mercu Buana, Ukrida, ditambah satu dosen Santo Thomas Medan.
Acara diawali dengan perayaan ekaristi bersama yang dipimpin oleh Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta dan Ketua Presidium KWI dengan didampingi oleh Romo Edy Purwanto (Sekretaris Eksekutif KWI), Romo Guido Suprapto (Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI), dan Romo Adisusanto SJ (Kepala Dokpen KWI).


Gambaran Allah Sang Kasih

Dalam homilinya, Mgr. Suharyo mengupas cerita tentang pengakuan atas ke-Tuhanan Yesus oleh setan yang diusirnya, oleh para rasul, dan oleh seorang tentara ketika Yesus disalib. Hal ini bisa dibaca dalam Injil Markus. Pada awal dan tengah, pengakuan tersebut dilarang untuk disebarluaskan oleh Yesus sendiri, tetapi yang terakhir Dia biarkan.
Untuk mengetahui alasan perbedaan perlakukan tersebut, Mgr. Suharyo secara guyon menyebutkan perlu ditanyakan langsung jawaban pastinya ke yang bersangkutan yaitu Yesus sendiri.
Uskup Agung KAJ yang merupakan ahli kitab suci mumpuni ini kemudian menjabarkan telaahnya tentang maksud dari Markus. “Markus,” urai Mgr. Suharyo,” ingin menampilkan wajah Allah yang sangat khusus; bukan Allah yang membuat mukjizat seperti biasa ditampilkan. Gambaran Allah yang menderita tidak pernah ada di Kitab Perjanjian Lama. Maka cerita Markus tentang hidup Yesus di Injil merubah gambaran Allah sebagai Allah Sang Kasih.”

Biasanya Allah dilabeli sebagai Yang Maha Kuasa, hal yang rupanya ingin ditiru oleh manusia sehingga manusia jatuh ke dalam dosa. Tidak mudah untuk sampai memahami pengalaman bahwa Allah itu Sang Kasih. Seperti pengalaman Paus Fransiskus sendiri dalam kunjungan ke Filipina. Dalam satu pertemuan dengan orang muda katolik (18/1), Paus tertegun mendengar pertanyaan yang dilontarkan Glyzelle Palomar, mantan anak jalanan berusia 12 tahun. Pada waktu itu Glyzelle menanyakan ‘mengapa Tuhan membiarkan anak-anak menderita?’ dan terisak di ujung cerita pengalaman hidupnya yang menyedihkan.
“Kita diajak untuk yakin bahwa Allah itu Kasih, maka marilah menjadi saksi tentang Allah Sang Kasih tersebut,” demikian ajak Mgr. Suharyo di ujung homilinya.

Menjadi Panutan, Referensi, dan Pemimpin

Setelah misa dan makan malam bersama, acara pertemuan dosen katolik di KWI (22/1) dilanjutkan dengan pemaparan dua narasumber yaitu Prof. Richardus Eko Indrajit dan Mgr. Ignatius Suharyo. Prof. Eko yan hadir bersama istri penyanyi terkenal Lisa A. Riyanto memberikan suntikan semangat kepada para dosen yang hadir dengan pemaparan yang jelas dan penuh guyon.
Eko Indrajit yang salah satu profesinya adalah dosen ini ‘mengoleksi’ empat gelar S2 dari universitas terkemuka di dunia seperti Harvard (Amerika Serikat), Leicester University (Inggris), Maastricht School of Management (Belanda) serta dua gelar doktor (University of the City of Manila dan Maastricht School of Management).
Lahir di Jakarta, besar di Sumatera, kuliah di Surabaya, demikian pengalaman hidup yang diutarakannya di awal presentasi. Pakar telekomunikasi, teknologi, dan manajemen ini dengan piawai membawakan presentasinya dan mendapatkan apresiasi dari para dosen yang hadir.

Dosen sebagai panutan, referensi, dan pemimpin Eko mengemukakan ada tiga kesempatan dan peluang bagi para dosen terutama yang berkarya di perguruan tinggi non-katolik, yaitu menjadi panutan sebagai terang dan garam dunia di kampus. Dalam lingkup yang lebih luas – lingkungan pendidikan tinggi, dosen bisa menjadi referensi, dan kemudian bertumbuh menjadi pemimpin ketika mampu menjalankan fungsi terang dan garam dalam masyarakat yang heterogen.

Sebagai panutan, dosen perlu menempatkan peserta didik sebagai nomor satu. Membuat mereka senang dan bersemangat dalam menuntut ilmu, serta menanamkan sikap optimis dalam diri peserta didik. Hal ini akan menjadikan dosen sebagai tokoh yang dipercaya dan didengarkan sedangkan mahasiswa akan memiliki kecintaan dalam bidang yang ditekuninya. Ini penting dalam kaderisasi kepemimpinan yang berkualitas dan berkarakter unggul.

Untuk menjadi referensi komunitas, dosen perlu menempatkan kualitas dan nilai-nilai pendidikan sebagai yang paling utama. Sistem belajar mengajar haruslah efektif dalam membentuk lingkungan akademik yang matang dan berbobot. Maka lulusan yang dihasilkan akan kompeten. Kapabilitas dosen seperti ini yang akan meningkatkan mutu pendidikan tinggi tempatnya bekerja dan menjadikannya model bagi perguruan tinggi lain yang ingin maju dan berkembang.

Untuk mendapatkan kondisi ideal seperti itu, dibutuhkan beberapa penunjang yaitu dosen perlu menghayati profesinya sebagai suatu panggilan hidup. Menyeimbangkan antara ‘kerja keras’ dan kerja cerdas’ sebagai pola bekerja yang juga bisa membedakan antara ‘jalan’ dan ‘tujuan’. Maka tridharma perguruan tinggi yang wajib dijalankan setiap dosen di Indonesia menjadi aktifitas yang menyenangkan. Tridharma perguruan tinggi seharusnya bukan menjadi beban seperti pandangan umum selama ini, tetapi adalah sumber dana bagi perguruan tinggi merujuk ke perguruan tinggi di negara-negara maju, ungkap Eko.

Maka dalam kesehariannya, dosen tersebut selayaknya senang membaca dan menulis, punya semangat mendengar, berbagi, berkolaborasi, berinovasi, dan berteman. Dosen juga tak mengganggap tabu untuk tampil beda, berpikir out of the box, tetapi dibarengi kesiapan untuk dikritik.
Dosen merupakan seorang pembelajar; individu kompeten yang senantiasa memelihara kompetensinya dengan cara belajar tanpa henti. Untuk setia belajar, tentunya sang dosen telah mampu menikmati panggilan hidupnya sebagai seorang dosen katolik.

Eko menyimpulkan, dosen katolik di era global akan mengamalkan open education yaitu dalam artian ‘dengan banyak memberi maka engkau akan banyak menerima’, learning technology dalam iman ‘tinggalkanlah semuanya dan ikutlah aku’ serta gaya pengajaran yang membebaskan ‘biar kanak-kanak datang kepadaku’.
Tiga keutamaan: iman, mediasi, transformasi sosial. Berbicara singkat tentang dosen, Mgr. Suharyo menyatakan bahwa dosen dianggap dan memang merupakan role model di masyarakat. Sebagai dosen katolik, kemampuan imannya ditunjukkan dengan menghayati tiga keutamaan: pertama, iman sebagai inspirasi dimana profesi dosen bukan sekedar ungkapan iman tetapi adalah wujud iman. Kedua, dosen melakukan mediasi.

Mgr. Suharyo menegaskan bahwa tidak ada yang kebetulan dosen atau pun yang kebetulan katolik. Ketiga, transformasi sosial yang berarti mewujudkan Kerajaan Allah di dunia. Ketiganya perlu menjadi prinsip dosen dalam mendidik mahasiswa dan lingkungannya. Mgr. Suharyo menceritakan satu pengalamannya waktu masih bertugas di Jawa Tengah. Saat itu selaku Uskup KAS, dia didatangi oleh sekelompok dosen ekonomi yang menanyakan apa yang bisa mereka bantu bagi keuskupan. “Didiklah mahasiswa kalian sehingga muncul beberapa lulusan fakultas ekonomi yang memiliki pemikiran seperti Mohammad Yunus (pelopor konsep microcredit dan microfinance, pendiri Grameen Bank di Bangladesh, penerima hadiah Nobel perdamaian 2006). Jawaban ini tampaknya tidak diantisipasi oleh para dosen tersebut,” demikian kisah Mgr. Suharyo sambil tersenyum.
Mendengar apresiasi para peserta yang hadir, Romo Guido Suprapto selaku Direktur Eksekutif Komisi Kerawam KWI berjanji bahwa acara pertemuan dosen katolik ini akan ada kelanjutannya.

Sumber: http://www.sesawi.net/2015/01/26/
Kredit foto: Royani Lim/Sesawi.Net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *