Hari Minggu Prapaskah II: Peneguhan (Rm. Yosef Lalu, Pr)

Hari Minggu Prapaskah II
Bacaan I : Kej 12:1-4a
Bacaan II : 2 Tim 1:8b-10

Bacaan Injil : Mat 17: 1 – 9

PENEGUHAN 

Ada seorang rahib tua yang saleh. Selama bertahun-tahun, ia berdoa agar dapat mengalami suatu penglihatan dari Tuhan demi menguatkan imannya. Namun ia tidak pernah mengalami penglihatan itu. Hampir saja ia putus asa, ketika pada suatu sore terjadi suatu penglihatan. Tuhan Yesus menampakkan diri kepadanya, di kamarnya. Rahib itu sangat gembira dan bahagia. Tetapi apa yang terjadi kemudian?? Pada saat ia mengalami penglihatan itu, lonceng biara berdentang. Bunyi lonceng itu menandakan saat para rahib memberi makan kepada orang-orang miskin yang setiap hari berkumpul di depan pintu biara. Dan sekarang adalah gilirannya untuk memberi makan kepada mereka. Apabila ia tidak membawa makan, maka mereka akan pergi diam-diam,, karena berpikir bahwa hari itu biara tidak memiliki makanan untuk mereka.

Rahib tua itu harus membuat pilihan, antara tugas harian atau penglihatan. Akan tetap, sebelum lonceng biara berhenti berdentang, si rahib telah membuat keputusan. Dengan berat hati ia meninggalkan penglihatan dan pergi memberi makan kepada orang-orang miskin.

Sekitar satu jam kemudian, ketika hari mulai gelap, si rahib itu kembali ke kamarnya. Ketika ia membuka pintu, ia hampir tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Kristus masih berdiri menantinya dengan wajah yang lebih berseri. Betapa bahagianya dia. Ketika ia hendak berlutut untuk mengucap syukur, ia mendengar Tuhan berkata kepadanya: “Sahabatku, jika saja engkau tidak pergi untuk memberi makan kepada orang-orang miskin itu, tentu Aku sudah pergi meninggalkan engkau!”

***

Mengalami penglihatan dan kebersamaan dengan Tuhan memang indah. Tetapi melaksanakan tugas harian yang mungkin menonton, berat dan membosankan rupanya indah dan sangat bernilai di mata Tuhan. Rupanya Tuhan menghendaki kita mengalami kedua-duanya, mengalami kedekatan dan kebersamaan dengan-Nya dan tetap melaksanakan tugas harian kita dengan setia, tulus dan ikhlas.

Kebersamaan dengan Tuhan tidak boleh menjadi halangan untuk menjalankan tugas. Kebersamaan dengan Tuhan justru harus menjadi peneguhan dan kekuatan untuk melaksanakan tugas. Hidup kita sebagai seorang beriman tidak terbatas pada kebersamaan dengan Tuhan, pada ibadat, tetapi juga pada pelaksanaan tugas.

Tuhan memang senantiasa memanggil kita untuk datang kepada-Nya, tetapi untuk kemudian diutusnya guna melaksanakan suatu misi dan tugas. Hidup doa saja tidak cukup. ”Bukan orang yang berseru: Tuhan, Tuhan, akan masuk dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melaksanakan keputusan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 7: 21).

Dalam Injil hari ini kita mendengar bagaimana Yesus memanggil tiga murid kepercayaan-Nya untuk naik ke atas gunung. Di atas gunung, yang di dalam Kitab Suci sering menjadi simbol kehadiran Allah, Yesus berubah rupa, wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Dan pada saat itu Allah memperkenalkan Yesus sebagai putera-Nya yang terkasih. Yesus diperkenalkan sebagai Putera Allah.

Kebersamaan dengan Yesus sebagai Putera Allah, ditambah lagi dengan dua tokoh besar dari Perjanjian Lama, Musa dan Elia, tentulah sangat mengesankan dan membahagiakan. Tidakkah heran kalau Petrus berseru tanpa sadar: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau satu untuk Musa dan satu untuk Elia!!”

Apakah Tuhan mengabulkan permintaan Petrus?? Rupanya tidak. Sesudah peristiwa yang mengesankan itu, Yesus mengajak murid-muridNya untuk turun dari gunung itu, untuk kembali ke dunia nyata dan dunia tugas. Dunia yang keras, penuh tantangan. Dari puncak gunung Tabor itu Yesus rupanya terus menuju Yerusalem, di mana Ia akan menghadapi puncak-puncak dari tugas-Nya, yaitu penderitaan dan kematian-Nya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem, di mana tugas-tugas akhirnya sedang menanti. Hari-hari kelabu akan mereka alami. Tetapi kiranya pengalaman di gunung Tabor itu akan menjadi semacam kenangan manis yang meneguhkan mereka untuk dapat mengatasi kekelaman malam Getsemani dan kekelabuan puncak Golgota.

***

Dalam kehidupan kita sehari-hari memang indah dan membahagiakan kalau kita bisa mengalami saat-saat, di mana kita sungguh merasa dekat dengan Tuhan. Saat-saat kita merasa dekat dengan Tuhan, merasa berada bersama Tuhan, dapat kita alami dalam doa, dalam perayaan-perayaan liturgi yang mengesankan, dalam refleksi, dalam retret dan sebagainya. Tetapi saat-saat seperti itu dapat kita alami pula pada waktu kita melihat suatu pemandangan yang indah, menatap matahari yang terbit atau terbenam, ataupun saat kita memandang gemintang di malam hari. Pengalaman dekat dengan Tuhan dapat pula kita rasakan pada saat kita mendengar kicau burung atau gemersik air mengalir, atau pun saat kita merasakan hembusan angin semilir dan sebagainya, dan sebagainya……….

Pendeknya dalam hidup ini sering kita mengalami saat-saat indah, membuat kita merasa dekat sekali dengan Tuhan. Saat-saat indah, di mana kita merasa dekat dengan Tuhan, hendaknya menjadi saat kita mendapat kekuatan baru, saat kita mendapat dorongan dan inspirasi untuk melaksanakan tugas hidup kita dengan lebih bersemangat. Saat-saat seperti itu tidak boleh menyebabkan kita lari dari dunia nyata dan dari tugas kita.

Dalam sejarah kekristenan kita memang ada suatu masa di mana orang percaya bahwa kehidupan beriman yang sejati atau kekudusan hanya dapat dicapai kalau orang meninggalkan dunia, masuk padang gurun untuk menjadi seorang pertapa. Di sana mereka mati dari dunia, menjadi martir putih dan mendekatkan diri pada Allah.

Konsili Vatikan II mengajarkan kepada kita bahwa kekudusan di dunia ini dicapai dengan keterlibatan kita kepada dunia. Seperti Yesus yang datang untuk menyelamatkan dunia demikian pula kita, gereja, diutus untuk menjadi garam dan terang bagi dunia. Yesus pernah berkata: “Kamu adalah terang dunia. Orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang…….Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang berada si surga”. (Mat 5: 15-16). Kiranya jelas bahwa kebersamaan dengan Tuhan dalam doa dan meditasi hendaknya bisa melahirkan karya-karya nyata dalam hidup kita sehari-hari. Doa tanpa perbuatan kiranya “mati”. Doa dan meditasi hendaknya meneguhkan kita untuk berbakti Sebaliknya karya dan bakti kita hendaknya senantiasa dipuncaki dan dirayakan dalam doa dan kebaktian Keduanya hendaknya menyatu dalam hidup kita. Dengan demikian hidup kita dapat maju.

Seorang nelayan tua membawa seorang pemuda dalam perahunya sebagai penumpang. Pada salah satu dayung ditulis kata DOA. Di dayung yang satunya lagi ditulis kata KERJA. Pemuda itu berkata mengejek: “Bapak ketinggalan jaman. Pada jaman ini yang penting kerja!! Kalau bapak bekerja seperti mendayung perahu ini, bapak akan mendapatkan uang dan segalanya!! Apakah doa masih dibutuhkan??”

Nelayan tua itu tidak berkata apa-apa; tetapi ia melepaskan dayung yang bertuliskan DOA dan terus mendayung dengan dayung yang satunya, yang bertuliskan KERJA . Dia terus mendayung, tetapi perahu berputar-putar dan tidak maju-maju.

Pemuda itu kemudian mengerti bahwa disamping “dayung” KERJA, kita membutuhkan “dayung” DOA. nn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *