Egoisme Agama Muncul Karena Pendidikan Tidak Mengajarkan Etika

Egoisme antaragama yang menyebabkan terjadinya gesekan disebabkan karena sistem pendidikan di Indonesia hanya mengajarkan pendidikan agama semata dan membuang pendidikan Pancasila. Direktur Eksekutif, Reform Institute, Yudi Latif, mengatakan ini adalah kesalahan dari era Reformasi yang tidak memberikan pendidikan Pancasila kepada para siswa. “Kecelakaan Reformasi adalah pendidikan agama diberikan, tapi pendidikan Pancasila tidak diberikan. Maka masuklah misionaris-misionaris menjemput bola ke sekolah menengah yang misionaris ini militan semuanya, sehingga pasokan moral hanya pasokan moral privat, pasokan moral publik sama sekali tidak ada,” kata Yudi dalam seminar bertajuk “Pemimpin Nasional 2014″ di Auditorium Adhiyana, Wisma Antara, Jakarta, Kamis (25/9/2014). Menurut Yudi, sekolah seharusnya tidak hanya memberikan pendidikan bahwa para siswa hidup di negara yang majemuk yang penduduknya menganut berbagai macam agama. Oleh karena itu, ketika keluar dari komunitasnya dan menuju ruang publik, para siswa tersebut tidak kaget ketika menemui teman-temannya menganut agama yang berbeda dengan mereka. Yudi menekankan pendidikan agama yang diberikan sekolah adalah soal etika.

Kurikulum 2013 Memaksa Pelajar Papua Pahami Internet

Sekelompok pelajar sekolah menengah umum di Kota Jayapura, Provinsi Papua, tampak galau ketika berkumpul di depan salah satu warung internet di Distrik Abepura.

Kegalauan mereka bukan karena urusan asmara atau kesulitan biaya pendidikan, melainkan karena beban tugas yang harus dicari di internet terkait pemberlakuan Kurikulum 2013.

Kurikulum 2013 dibentuk untuk mempersiapkan lahirnya generasi emas Bangsa Indonesia yang mendorong siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

Kurikulum ini menekankan tiga hal pokok yakni pengetahuan, ketrampilan, dan sikap.

Pengetahuan dalam Kurikulum 2013 sama seperti beberapa kurikulum sebelumnya yaitu penekanan pada tingkat pemahaman siswa dalam pelajaran.

Nilai dari aspek pengetahuan merupakan hasil ulangan harian, ujian tengah/akhir semester, dan ujian kenaikan kelas. Namun, pada Kurikulum 2013 pengetahuan bukan aspek utama seperti pada kurikulum-kurikulum sebelumnya, karena lebih menekankan pemahaman.

Sementara keterampilan merupakan aspek baru dalam kurikulum di Indonesia, yang menekankan skill atau kemampuan. Misalnya, kemampuan mengemukakan pendapat, berdiksusi/bermusyawarah, membuat laporan, serta berpresentasi.

"Orang yang mempunyai hidup, berhak untuk hidup karena dia sudah hidup dan mempunyai hidup”

PERNYATAAN SIKAP KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA
Terhadap PP No. 61/2014 Tentang Kesehatan Reproduksi

Hidup itu berharga dan bernilai, maka harus dijaga, dipelihara dan dibela. Sejak awal kehidupan, Allah sendirilah yang menciptakan manusia, “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pingganggku, menenun aku dalam kandangan ibuku”. (Mazmur 139:13). Karena Allah sendiri yang menghendaki karya penciptaan ini, manusia tidak berhak untuk menghentikan Karya Agung Allah ini dengan menyingkirkannya. Apalagi, perintah Allah begitu tegas: Jangan membunuh! (Keluaran 2:30) yang tidak hanya berlaku bagi manusia yang sudah lahir namun juga mereka yang masih berada dalam kandungan.
Gereja mengakui bahwa hidup menusia dimulai sejak pembuahan dan hidup itu harus dibela dan dihormati. Segala bentuk tindakan yang mengancam sejak awal kehidupan ini secara langsung, tidak dibenarkan.
1.Nilai hidup manusia adalah nilai intrinsik yang ada dalam dirinya, dia bernilai oleh karena dirinya sendiri tanpa ada relasinya dengan pihak lain. Kecacatan atau penyakit yang dialami seseorang tidak mengurangi nilai dan martabat manusia. Oleh Karena itu, aborsi dengan alasan kecacatan atau penyakit, tidak bisa dibenarkan.

Pertemuan Komisi Kateketik Regio NUSRA XXXIV

Kontributor: Blasius Naya Manuk (Komkat Keuskupan Denpasar)

Komisi Kateketik Regio Nusa Tenggara ( KOMKAT NUSRA) mengadakan Pertemuan Tahunan XXXIV di Wisma Emaus - Keuskupan Atambua selama lima hari, Selasa, 26 Agustus – Sabtu, 30 Agustus 2014. Pertemuan ini diikuti oleh 39 peserta, utusan dari semua Komkat Keuskupan Se-Regio Nusra. Hadir pula Sekretaris Eksekutif Komkat KWI Rm Leo Sugiyono, MSC dan Bapak Purwono Adhi Nugroho selaku fasilitator.

Rekomendasi Pertemuan Komisi Kateketik Regio NUSRA

Pada tanggal 26-30 Agustus 2014, telah terselenggara Pertemuan Kateketik Regio Nusra di Keuskupan Atambua, yang bertempat di Wisma Emaus Jl. Nela Raya-Atambua. Pertemuan Kateketik Regio Nusra kali ini dihadiri 39 peserta dari semua keuskupan se-Regio Nusra, dengan tema: Menjadi Fasilitator Katekese Umat yang Handal di Era Digital. Pertemuan dibuka melalui Ekaristi yang dipimpin oleh Vikjen Keuskupan Atambua, yang dilanjutkan denga evaluasi program komkat keuskupan masing-masing. Pada hari-hari berikutnya pertemuan diisi dengan sosialisasi tentang berkatekese di era digital sebagaimana amanat PKKI X 2012, dan pelatihan menggunakan sarana digital dalam berkatekese umat yang dibawakan oleh P. Leo Sugiyono, MSC (Komkat KWI) dan Bpk. Thomas Aquino Purwono Nugroho Adhi staf Komkat Keuskupan Agung Semarang. Peserta pertemuan sangat bersemangat dalam mengikuti pelatihan kali ini, walaupun dengan sarana internet yang serba terbatas sehingga sampai dua kali pindah lokasi pertemuan, yaitu dilaksanakan di SMA Katolik Suria dan SMP Negeri l Atambua. Pertemuan ini juga menghasilkan Rekomendasi, antara lain agar pelatihan katekese di era digital dilanjutkan lagi pada pertemuan Regio Nusra 2015 yang telah ditetapkan tempat pertemuannya di Keuskupan Kupang.

Halaman