Multimedia Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

  • Posted on: 3 August 2015
  • By: administrator

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud menyelenggarakan workshop tentang pengembangan media pembelajaran di sekolah, khususnya untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kegiatan ini berlangsung di hotel Ibis, Slipi, Jakarta dari tgl. 29 s.d. 31 Juli 2015. Peserta yang hadir dalam pertemuan ini adalah para pengembang Kurikulum 2013 dari Pusat Kurikulum serta guru-guru, dosen, dan para praktisi pendidikan di lapangan. Tujuan kegiatan ini adalah menghasilkan draft skenario untuk pembuatan multumedia pembelajaran dari semua matapelajaran (termasuk mapel Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti) di Sekolah Menengah Pertama. Materi pokok diambil dari Kurikulum 2013 serta buku teks pelajaran yang telah diterbitkan oleh Puskurbuk-Mendikbud. Tim penyusun naskah skenario pembuatan multimedia pembelajaran Pendidikan Agama Katolik yang hadir adalah Bp. Daniel Boli Kotan dari Komkat KWI Jakarta, dan Bp. Maman Sutarman dari Bimas Katolik - Kanwil Kemenag, Jawa Barat. Keduanya adalah anggota tim penyusun Kurikulum 2013, (matapelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti) dibawah koordiansi Komisi Kateketik KWI, Jakarta.

Untuk mengetahui tentang peranan multimedia pembelajaran pada Kurikulum 2013, berikut kami sampaikan secara garis besar makna, manfaat serta prinsip multimedia dalam dunia pendidikan di sekolah khususnya dalam proses pembelajaran.

Gereja Katolik Indonesia akan selenggarakan SAGKI IV tentang Keluarga Katolik

  • Posted on: 31 July 2015
  • By: administrator

Setelah Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) I tahun 2000 dan SAGKI II tahun 2005 berupaya membuat Gereja Indonesia bangkit dan bergerak membentuk keadaban publik baru bangsa, dan SAGKI 2010 menegaskan kembali panggilan perutusan Gereja, maka Gereja Katolik Indonesia akan melaksanakan SAGKI ke-IV tahun 2015 guna meneruskan cita-cita SAGKI sebelumnya dengan memberi perhatian khusus kepada panggilan dan perutusan keluarga sebagai Ecclesia Domestica agar mewartakan Sukacita Injil dalam Gereja dan masyarakat.

SAGKI 2015 yang bertema “Keluarga Katolik: Sukacita Injil. Panggilan dan Perutusan Keluarga Katolik Dalam Gereja dan Masyarakat Indonesia yang Majemuk,” menurut website KWI mirifica.net, akan berlangsung di Via Renata, Puncak, Bogor, 2-6 November 2015 dengan 500 peserta terdiri dari para uskup, 10 utusan dari setiap keuskupan, serta kelompok kategorial keluarga dan pemerhati kerasulan keluarga.

Merancang Kegiatan Pembelajaran (Pendidikan Agama Katolik) Berdasarkan Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran

  • Posted on: 30 July 2015
  • By: administrator

Tahap pertama dalam pembelajaran yaitu membuat desain perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan kegiatan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Pada kurikulum 2013 pedoman penyusunan RPP diatur menurut permendikbud No. 103 tahun 2014. Ada beberapa perubahan format RPP dari Permendikbud sebelumnya yang harus di perhatikan oleh guru, (termasuk guru mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti) dalam penyusunan RPP berikut ini.

PENGALAMAN ALLAH DALAM HIDUP RELIGIOUS: Sebuah Refleksi dan Pendalaman Hidup Religious

  • Posted on: 29 July 2015
  • By: administrator

Rm. Dr. Yohanes Indrakusuma OCarm

Tempat Kaum Religious dalam Gereja.
Biarpun Gereja di Indonesia, termasuk semua tarekat biarawan-biarawatinya, tidak luput dari kesukaran-kesukaran yang sedang melanda Gereja di seluruh dunia, namun ada gejala-gejala lain yang cukup memberi harapan untuk masa depan, asal Gereja, khususnya para pemimpinnya, tahu menanggapi tanda-tanda jaman ini. Disamping krisis-krisis besar yang sedang kita alami dewasa ini, yang rupanya belum mencapai titik terdalamnya, ada tanda-tanda yang menyatakan bahwa hidup kebiaraan sebagai tanda penyerahan diri yang mutlak kepada Tuhan, tetap menarik banyak pemuda-pemudi dewasa ini. Mereka tetap melihat makna penyerahan diri itu, arti hidup yang dibaktikan kepada Allah semata-mata di atas segala sesuatu.

Juga kaum awam pada umumnya tetap mempunyai penghargaan besar atas diri kaum rohaniwan-rohaniwati sebagai pengejawantahan nilai-nilai rohani. Oleh sebab itu pula dapat dimengerti kekecewaan mereka yang amat besar, bila dalam diri para religious itu mereka tidak mendapatkan tanda-tanda yang mereka harapkan. Juga seringkali mereka tampak haus akan nilai-nilai rohani, tetapi sering sukar sekali menemukan seorang yang dapat memberikan bimbingan yang memuaskan. Namun bila mereka tidak dapat menemukan para religious dan imam, rohaniwan/wati tidak mengungkapkan nilai-nilai rohani seperti seharusnya, bukankah sudah wajar bila penghargaan mereka menurutn, justru karena dikecewakan.

Dengan demikian juga banyak pemuda-pemudi menjadi ragu-ragu untuk membaktikan diri kepada Allah dalam cara hidup demikian itu, biarpun sebenarnya merasa amat tertarik juga. Oleh sebab itu, perlulah kita menyadari pangillan kita yang terdalam, dan kalau perlu mengadakan metanoia, pertobatan yang mendalam pula.

Dalam Konsili Vatikan II yang lalu, Gereja telah mengadakan refleksi tentang dirinya sendiri. Dalam refleksi itu disadarinya bahwa ia adalah manifestasi dan aktualisasi cintakasih Allah bagi umat manusia (GS 45), suatu umat yang berpusat pada Bapa (LG 2). Dalam dunia ini Gereja bertugas menyatakan misteri Allah (GS 41), misteri cintakasihNya (LG 45). Karena menyatakan misteri Allah, Gereja sekaligus menyatakan ARTI TERDALAM hidup manusia, memberitahukan panggilanNya di dunia ini (GS 3, 21). Oleh sebab itu Gereja mempunyai panggilan untuk mengarahkan seluruh dunia kepada Kristus (AA 2). Dengan demikian tugas Gereja tidak berhenti pada dunia ini melainkan mengarah ke kepenuhan eskatologis. Di situ semua manusia akan dpersatukan di bawah satu Kepala, yaitu Kristus, ddalam suatu dunia baru, di mana dunia ini memperoleh kepenuhannnya (AA 5).

Jadi pada hakekatnya Gereja itu bersifat eskatologis. Oleh sebab itu segala aktivitasnya diarahkan ke tujuan tersebut. Segala karyanya: pewartaan Kabar Gembira, karya social, usaha untuk memperbaiki nasib manusia, semuanya itu bertujuan menghantarkan manusia kepada tujuan akhirnya, tujuan sejatinya, ialah Allah. Manusia memang diciptakanuntuksuatu tujuan yang membahagiakan, suatu tujuan adi-kodrati,abadi, yakni untuk hidup dalam kemesraan Allah sendiri (IM 6; GS 18, 21, 51; AG 2). Sesungguhnya Allahlah asal dan tujuan manusia (MA 1; GS 24, 41, 920. Berhubung dengan panggilannya ini Gereja berusaha menyatakan semua aspeknya, lebih-lebih aspek yang mengingatkan semua manusia akan tujuan hidupnya, khususnya dalam dunia yang dilanda sekularisme ini.

Gereja dipanggil untuk menyatakan cintakasih Kristus dengan menghibur orang malang, mengobati yang sakit, member arti pada hidup kaum miskin, khususnya ingin solider dengan mereka, sehingga Gereja bukan hanya menjadi HAMBA kaum miskin, melainkan menjadi GEREJA KAUM MISKIN. Semuanya ini dengan tujuan, agar supaya setelah dibebaskan dari hidup yang menekan pundak mereka, mereka dapat melihat dan merba cintakasih Allah yang menjadi sumber segalanya itu.

Akan tetapi Gereja juga dipanggil untuk memberikan kesaksian istimewa tentang primat Allah yang tampak dalam seluruh hidup Kristus. Demikian pula kesaksian tentang persatuan mesra Kristus dengan BapaNya, dan dalam Dia, persatuan semua manusia dengan Allah. Sebab bukankah akhirnya semua karya penginjilan serta karya-karya lainnya justru mengarah kepada persatuan yang mesra ini, yang justru merupakan inti hidup abadi? Dan inilah hidup abadi: Mengenal Bapa satu-satunya Allah yang benar, dan Dia yang diutusNya, Yesus Kristus (Yoh 17: 3). Dan mengenal Allah, dalam Kitab Suci berarti, memasuki suatu aliran hidup besar yang bersumber pada Allah dan kembali lagi kepadaNya. Agar supaya Gereja seluruhnya selalu sadar akan penggilannya yang luhur ini, sejak semula Roh Kudus telah membangkitkan orang-orang dalam Gereja yang menghayati suatu cara hidup yang nenekankan primat Allah secara mutlak. Hal ini secara istimewa tampak jelas dalam bentuk hidup kontemplatif, di mana Allah menajdi satu-satunya alasan hidup mereka. Juga, dalam tarekat rellgiius lainnya primat Allah ini harus tampak jelas pula, biarpun tidak secara mutlak seperti dalam tarekat kontemplatif.

Dalam segala karyanya, janganlah sampai para religious lupa, bahwa karya itu tidak pernah dapat menjadi tujuan. Allahlah yang harus menjadi alasan hidupNya, sedangkan segala karyanya harus merupakan manifestasi kepercayaan dan keterpautannya kepada Allah. Di dalam Gereja, para religious menjadi tanda akan hakekat panggilan Gereja yang terdalam. Mereka bertugas mengingatkan saudara-saudarinya, - bukannya dengan kata-kata yang hampa, melainkan dengan hidupnya, akan tujuan hidup mereka, akan tujuan hidup manusia.

Itulah sebabnya, mengapa konsili dalam dekritnya tentang karya missioner menandaskan betapa perlunya sejak permulaan memasukkan bentuk-bentuk hidup religious dalam Gereja yang baru lahir, bukan hanya karena penting untuk karya kerasulan missioner, melainkan demi suatu alasan yang lebih dalam lagi: Karena penyerahan diri yang lebih mesra kepada Allah di dalam Gereja, hidup religious menyatakan dan mengungkapkan dengan jelas sekali kodrat terdalam panggilan Kristiani kita (AG 1).

Agar supaya orang-orang Kritiani dan orang-orang lainnya tidak memperoleh gambaran yang pincang tentang Gereja dan supaya Gereja tidak hanya dikenal sebagai suatu organisasi yang rapi, kekuasaan yang menakutkan dan mengancam agama-agama lain, badan social yang teratur rapi, pirmat Allah ini harus tampak jelas dalam hidup para religious.

Katekese dan Tantangan Multitask

  • Posted on: 27 July 2015
  • By: administrator

Agar warta Injil sungguh menyentuh dan berdampak pada segi spiritual orang-orang di zaman sekarang, katekese harus senantiasa mampu membuat jembatan antara nilai kristianitas dan pengalaman hidup itu. Untuk itu, ketika orang-orang zaman sekarang telah dipengaruhi dengan gaya hidup dan berbagai perkembangan tehnologi modern, katekese hendaknya juga memanfaatkan sarana-sarana dan metode-metode modern itu, agar secara efektif mampu menyapa hidup orang di zaman sekarang.

BKSN 2015: Keluarga yang Melayani seturut Sabda Allah

  • Posted on: 23 July 2015
  • By: administrator

Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Porta Fidei (Pintu Iman). Sri Paus merasa prihatin terhadap merosotnya penerusan iman yang sedang melanda Gereja. Bapa Suci mengajak segenap warga Gereja untuk merefleksikan imannya sekaligus mengambil langkah kreatif guna membangun kembali imannya. Untuk itu, lahan penting yang harus digarap adalah keluarga sebagai tempat utama penerusan iman. Keluarga diajak kembali merenungkan Kitab Suci. Harapannya, keluarga kristiani bertumbuh dalam iman berkat permenungan Kitab Suci yang dibaca, direnungkan, dan dihayati dalam keluarga.

Pages