"Orang yang mempunyai hidup, berhak untuk hidup karena dia sudah hidup dan mempunyai hidup”

PERNYATAAN SIKAP KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA
Terhadap PP No. 61/2014 Tentang Kesehatan Reproduksi

Hidup itu berharga dan bernilai, maka harus dijaga, dipelihara dan dibela. Sejak awal kehidupan, Allah sendirilah yang menciptakan manusia, “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pingganggku, menenun aku dalam kandangan ibuku”. (Mazmur 139:13). Karena Allah sendiri yang menghendaki karya penciptaan ini, manusia tidak berhak untuk menghentikan Karya Agung Allah ini dengan menyingkirkannya. Apalagi, perintah Allah begitu tegas: Jangan membunuh! (Keluaran 2:30) yang tidak hanya berlaku bagi manusia yang sudah lahir namun juga mereka yang masih berada dalam kandungan.
Gereja mengakui bahwa hidup menusia dimulai sejak pembuahan dan hidup itu harus dibela dan dihormati. Segala bentuk tindakan yang mengancam sejak awal kehidupan ini secara langsung, tidak dibenarkan.
1.Nilai hidup manusia adalah nilai intrinsik yang ada dalam dirinya, dia bernilai oleh karena dirinya sendiri tanpa ada relasinya dengan pihak lain. Kecacatan atau penyakit yang dialami seseorang tidak mengurangi nilai dan martabat manusia. Oleh Karena itu, aborsi dengan alasan kecacatan atau penyakit, tidak bisa dibenarkan.

Pertemuan Komisi Kateketik Regio NUSRA XXXIV

Kontributor: Blasius Naya Manuk (Komkat Keuskupan Denpasar)

Komisi Kateketik Regio Nusa Tenggara ( KOMKAT NUSRA) mengadakan Pertemuan Tahunan XXXIV di Wisma Emaus - Keuskupan Atambua selama lima hari, Selasa, 26 Agustus – Sabtu, 30 Agustus 2014. Pertemuan ini diikuti oleh 39 peserta, utusan dari semua Komkat Keuskupan Se-Regio Nusra. Hadir pula Sekretaris Eksekutif Komkat KWI Rm Leo Sugiyono, MSC dan Bapak Purwono Adhi Nugroho selaku fasilitator.

Rekomendasi Pertemuan Komisi Kateketik Regio NUSRA

Pada tanggal 26-30 Agustus 2014, telah terselenggara Pertemuan Kateketik Regio Nusra di Keuskupan Atambua, yang bertempat di Wisma Emaus Jl. Nela Raya-Atambua. Pertemuan Kateketik Regio Nusra kali ini dihadiri 39 peserta dari semua keuskupan se-Regio Nusra, dengan tema: Menjadi Fasilitator Katekese Umat yang Handal di Era Digital. Pertemuan dibuka melalui Ekaristi yang dipimpin oleh Vikjen Keuskupan Atambua, yang dilanjutkan denga evaluasi program komkat keuskupan masing-masing. Pada hari-hari berikutnya pertemuan diisi dengan sosialisasi tentang berkatekese di era digital sebagaimana amanat PKKI X 2012, dan pelatihan menggunakan sarana digital dalam berkatekese umat yang dibawakan oleh P. Leo Sugiyono, MSC (Komkat KWI) dan Bpk. Thomas Aquino Purwono Nugroho Adhi staf Komkat Keuskupan Agung Semarang. Peserta pertemuan sangat bersemangat dalam mengikuti pelatihan kali ini, walaupun dengan sarana internet yang serba terbatas sehingga sampai dua kali pindah lokasi pertemuan, yaitu dilaksanakan di SMA Katolik Suria dan SMP Negeri l Atambua. Pertemuan ini juga menghasilkan Rekomendasi, antara lain agar pelatihan katekese di era digital dilanjutkan lagi pada pertemuan Regio Nusra 2015 yang telah ditetapkan tempat pertemuannya di Keuskupan Kupang.

5 Masalah Utama Kurikulum 2013

WARTA KOTA, PALMERAH - Federasi Serikat Guru Indonesia menemukan lima persoalan utama dalam pelaksanaan Kurikulum 2013. Persoalan-persoalan itu ialah pendistribusian buku, penggunaan dana bantuan operasional sekolah, isi buku, percetakan, dan pelatihan guru. Temuan itu merupakan hasil kajian sejak 14 Juli hingga 8 September 2014 di 142 sekolah di 21 provinsi dan 46 kabupaten/kota. Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengungkapkan, keluhan utama para guru ialah terlambatnya distribusi buku. ”Di jenjang SD, rata-rata sekolah baru menerima buku tematik 1. Sementara di level SMA mayoritas buku wajib Sejarah untuk kelas X belum tiba di sekolah. Untuk level SMK, sebagian besar buku wajib jurusan belum diterima,” ungkap Retno dalam temu media terkait implementasi Kurikulum 2013 yang diadakan FSGI, Rabu (10/9). Sekolah terpaksa mengorbankan kegiatan siswa karena hampir 80 persen dana dialokasikan untuk pembayaran buku. Di sekolah swasta, bahkan dana bantuan operasional sekolah kurang sehingga sekolah meminta siswa membeli buku di toko buku.

Urgensi Pendidikan Karakter

Prof. Suyanto, PHd.
Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama. Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character... that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter... adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Tags: 

Halaman