Rekomendasi Komkat KWI untuk Penggunaan Buku Pelajaran Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

Kepada
Yth. Bapak/Ibu Kepala Sekolah
dan Guru Pendidikan Agama Katolik SD, SMP, SMA
Di tempat

Dengan hormat,
Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia (Komkat KWI) mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Katolik yang telah mengabdikan diri untuk memperkenalkan dan menumbuhkan iman akan Yesus Kristus dan Gereja melalui Pendidikan Agama Katolik (PAK) di sekolah-sekolah.
Berkaitan dengan adanya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 160 Tahun 2014 yang ditetapkan tanggal 11 Desember 2014, Pemerintah telah menyatakan pelaksanaan kembali Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 mulai semester kedua Tahun Pelajaran 2014/2015 sampai ada ketetapan dari Kementerian untuk melaksanakan Kurikulum 2013. Permendikbud ini sekaligus menegaskan kembali Surat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 5 Desember 2014 bagi para kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 dan menggunakan kembali Kurikulum 2006, khususnya sekolah-sekolah yang sampai saat ini belum menjalankan Kurikulum 2013 selama 3 (tiga) semester.

Dua Kantong yang Berbeda

Alkisah, ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan dan ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang. Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya. Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya. Teman-teman.. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di “kantong yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di “kantong yang berlubang”. Maka yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi. Namun sayang sekali..

Seandainya Dunia Mendengarkan Seruan Familiaris Consortio

Ibarat kapal yang diterjang badai di lautan, dunia saat ini diguncang badai kemerosotan nilai-nilai moral. Bahaya ini juga mengancam keluarga-keluarga, termasuk keluarga-keluarga Katolik. Sebenarnya 30 tahun yang lalu, Gereja Katolik, melalui Anjuran Apostolik – Familiaris Consortio (tentang Peranan keluarga Kristiani dalam dunia modern), telah memberikan arahan agar keluarga-keluarga Katolik dapat bertahan terhadap ancaman kemerosotan moral, dengan menjadikannya sarana untuk menguduskan para anggotanya. Dengan demikian keluarga dapat bertahan terhadap badai kehidupan dunia ini, yang cenderung merendahkan tujuan perkawinan dan keluarga. Namun, sayangnya seruan Familiaris Consortio kurang terdengar atau kurang didengarkan, sehingga banyak pasangan suami istri yang memasuki hidup perkawinan tanpa memahami makna perkawinan yang sesungguhnya. Inilah sebabnya ada banyak perkawinan Katolik yang gagal, atau kandas di tengah jalan. Sudah saatnya kita mendengarkan seruan Familiaris Consortio, sehingga keluarga dapat dibangun di atas dasar yang kuat, yaitu atas dasar cinta kasih seturut kehendak Tuhan.

Dua Serigala

Pada suatu sore seorang tua dari Suku Indian Cherokee bercerita pada cucu-laki-nya tentang peperangan yang berlangsung di dalam diri orang-orang. Ia berkata: “Anakku, peperangan abadi antara dua "Serigala" terjadi di dalam diri kita semua.
Serigala yang satu adalah kejahatan. Dia adalah kemarahan, iri hati, dengki, cemburu, kesedihan, penyesalan, rakus, sombong, dendam, bersifat rendah, kebohongan, kebanggaan semu, merasa dirinya paling unggul, dan mementingkan diri sendiri”.

Serigala yang satunya lagi adalah kebaikan. Dia adalah kegembiraan, damai, cinta, harapan, ketenteraman, kebaikan hati, kebajikan, bisa merasakan penderitaan orang lain, kemurahan hati, kebenaran, rasa belas kasihan, dan kepercayaan.

Si cucu memikirkannya beberapa saat dan kemudian bertanya: “Serigala yang mana yang akan menang?”
Orang tua itu hanya menjawab: “Serigala yang kamu beri MAKAN.”
Serigala yang jahat ataupun serigala yang baik setiap hari diberi makan oleh pilihan pikiran kita. Apa yang kita pikirkan akan sedikit banyak muncul dalam kehidupan dan mempengaruhi gerak langkah kita.

Pages