Sambut Hari Kebangkitan Nasional, KWI Mengajak Umat Hindari SARA

Menyambut Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 20 Mei, Konferensi Waligereja Indonesia menyampaikan keprihatinan atas kondisi bangsa saat ini dan meminta warga negara Indonesia, khususnya umat Katolik, untuk merenungkan makna kemajemukan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
Para uskup juga meminta umat Katolik untuk melawan segala bentuk provokasi suku, agama, ras, dan golongan (SARA).

Ketua KWI Mgr. Ignatius Suharyo dalam pernyataan yang disampaikan bersama Sekjen KWI Mgr. Antonius S. Bunjamin OSC, menegaskan kembali bahwa kemerdekaan yang diraih 72 tahun lalu adalah hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku, agama, ras, dan golongan yang secara monumental telah bersatu dan mengokohkan niatnya dalam Sumpah Pemuda (1928).

Akan tetapi, para uskup prihatin menyaksikan dan mengikuti apa yang terjadi akhir-akhir ini di mana cita-cita Indonesia Raya dicederai oleh mereka yang entah secara nyata maupun tersembunyi melakukan petualangan politik yang merongrong Pancasila sebagai Dasar Negara.

Katekese Paus Fransiskus, Merenungkan Misteri Salib menuju Perayaan Paskah

(Radio Vatikan) Paus Fransikus pada hari Rabu ini (12/4/17) mengajak umat Kristiani untuk merenungkan makna salib dan merayakan tri hari suci menuju perayaan pesta Paskah.

Melanjutkan katekesenya tentang harapan Kristen, Paus menyapa orang banyak yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk audensi umum mingguan.

Selama Pekan Suci ini, demikian Paus dalam katekesenya, harapan kristen itu terlihat pada misteri Salib. Tidak seperti harapan duniawi, yang gagal membawa kepuasan abadi. Harapan Kristen kita didasarkan pada kasih Allah yang kekal, terungkap dalam misteri kematian Kristus, dan Ia naik ke kehidupan baru. Yesus, dalam berbicara atau pengajaran-Nya menyinggung juga tentang kematian . Ia menggunakan ceritera tentang benih yang harus jatuh ke tanah dan mati, untuk menghasilkan buah. Kematian dan kebangkitan-Nya menyelamatkan menunjukkan bahwa kasih Allah yang memberi diri, dan Allah dapat mengubah kegelapan menjadi cahaya, dosa ke dalam pengampunan, kekalahan menjadi kemenangan kekal.

Katekese Paus Fransiskus; Kasih Allah adalah Dasar Harapan Kita

(Radio Vatikan) Hari rabu (5/4/17) Paus Fransiskus menyampaikan katekese tentang harapan hidup Kristen pada audensi umumnya di Lapangan Santo Petrus. Paus mengatakan bahwa kasih Allah yang tak terbatas adalah dasar untuk semua harapan kita.

Dengan merefleksikan Surat Pertama Rasul Petrus, Paus Fransiskus pada Audiensi Umum itu mengajak orang-orang Kristen untuk meniru penderitaan penebusan Tuhan melalui kesaksian kasih Allah yang tak terbatas seperti yang diungkapkan di atas kayu salib. Dia mengatakan kasih Allah dalam peristiwa kebangkitan adalah dasar dari semua harapan kita.

“Harapan kita itu tidaklah sebuah konsep semata, tidak sentimen, bukan ponsel, bukan tumpukan kekayaan! Harapan kita adalah seorang Pribadi, yaitu Tuhan Yesus yang kita kenal dan yang hidup dan ada di dalam kita dan di dalam saudara-saudara kita, karena Kristus telah bangkit.”

Bapa Suci juga mengatakan bahwa harapan Kristen bukan teoritis tetapi harus hidup dan disaksikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Katekese Paus Fransiskus: Setiap Umat Kristen Hendaknya Menjadi Penyebar Harapan dan Saling Menguatkan...

Paus Fransiskus mengajak umat Kristen untuk menyebarkan harapan dengan saling mendukung dan saling mendorong satu sama lain. Ia berbicara kepada para peziarah yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk audensi umum. Demikian Radio Vatikan melaporkan pada hari Rabu (22/3/17)

Paus mengatakan “ dalam katekese kami melanjutkan harapan Kristen, hari ini kita merenungkan dua kata yang digunakan oleh Santo Paulus dalam bacaan pembukaan: ketabahan dan dorongan. Paulus mengatakan bahwa keduanya terkandung dalam pesan Kitab Suci, tetapi lebih dari itu bagi kita Allah adalah sumber keteguhan dan dorongan (lih Rom 15: 4-5)".

Dalam kehidupan Kristen, demikian Paus, kita dipanggil untuk menyebarkan harapan dengan mendukung dan mendorong satu sama lain, terutama yang terancam goyah. Tapi kami melakukannya dengan kekuatan yang diberikan oleh Tuhan, yang merupakan sumber harapan yang tak pernah gagal . Setia kepada perintah Rasul, semoga kita selalu hidup dalam harmoni dengan satu sama lain, sesuai dengan teladan Kristus Yesus. (Radio Vatikan, terj. Daniel B. Kotan)

Katekese Paus Fransiskus : Siapa Aku ini Sehingga Tidak Bisa Mengampuni?

(Radio Vatikan) Paus Fransiskus mengingatkan kita agar tidak memperlakukan pengakuan seperti pembersih kering (dry cleaners), tempat untuk melakukan transaksi cepat, menghapus dosa-dosa kita dan mencuri pengampunan palsu. Dia juga menekankan perlunya orang Kristen untuk benar-benar malu terhadap dosa-dosa mereka. Demikian homili Paus pada Misa hari Selasa pagi (21/3/17) di kediamannya Santa Marta.

Paus merefleksikan bacaan-bacan Kitab Suci pada misa pagi itu, dimulai dengan Kitab Daniel, yang menekankan manusia datang di hadapan Allah dengan rendah hati dan penuh penyesalan. "Di sini adalah rasa malu dari dosa-dosa, sebuah anugerah yang kita tidak dapat mencapainya untuk diri kita sendiri."

Sementara dalam Injil, Yesus mengatakan kepada Petrus untuk mengampuni saudaranya "tidak tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali". Paus mengingatkan umat yang diampuni dan memahami pengampunan itu, pada gilirannya memiliki kemampuan untuk mengampuni orang lain. Hal ini ditunjukkan dalam tindakan seorang pengutang yang diampuni oleh tuannya, tetapi si pengutang itu sendiri tidak bisa memaafkan orang lain yang berutang kepadanya.

Katekese Paus Fransiskus: Belajar Melakukan Kebaikan dengan Perbuatan bukan dengan Kata-kata

Menghindari yang jahat, belajar melakukan yang baik, dan membiarkan dirimu sendiri dibawa ke hadapan Tuhan: inilah jalan dari pertobatan pra paskah yang disampaikan oleh Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa pagi di Casa Santa Marta. Itu adalah pertobatan, kata Paus, yang terwujud bukan dalam kata-kata, tetapi dengan “hal konkrit.”

Paus Fransiskus mencoba menarik garis pertobatan prapaskah dengan titik awal dari kata-kata Nabi Yesaya dalam bacaan pertama. Menolak yang jahat dan melakukan yang baik – inti dari seruan Yesaya – adalah tahap menuju jalan ini.“ Setiap kita, setiap hari, melakukan sesuatu yang jahat.” Alkitab, dalam kenyataannya, mengatakan bahkan “orang yang paling suci berdosa tujuh kali sehari.”

Menolak yang jahat dan belajar melakukan yang baik adalah sebuah perjalanan

Masalahnya, kata Paus Fransiskus, terletak bukan pada masuk ke dalam kebiasaan “hidup dalam hal yang jahat” dan menolak semua hal yang “meracuni jiwa" itu, yang membuatnya kecil. Dan kemudian kita harus belajar melakukan yang baik:

Para Pemuda Lintas Agama Bersatu Melawan radikalisme dan Intoleransi

Lebih dari 3.000 orang muda dari komunitas agama yang berbeda berkumpul di Semarang, ibu kota Provinsi Jawa Tengah, untuk menghadiri pertemuan antaragama. Mereka (kaum muda) berkomitmen untuk "mengembangkan sikap inklusif dan untuk memerangi segala bentuk radikalisme dan intoleransi dalam masyarakat Indonesia".

Pertemuan itu diselenggarakan pada tanggal 5 Maret oleh Komisi hubungan Antaragama Keuskupan Agung Semarang dan dengan lima universitas (tiga Islam, satu umum, satu Katolik). Pertemuan ini dihadiri oleh pemuda Indonesia dari 71 komunitas yang berbeda. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Rm. Lukas Awi Tristanto, sekretaris Komisi Hubungan Antaragama Keuskupan Agung Semarang dan dihadiri oleh Walikota Semarang, Hendrar Prihadi yang mengatakan: "! Mereka yang tidak bersedia menerima keragaman, meninggalkan Indonesia"

Berbicara kepada Fides, Rm. Lukas Awi Trisanto mengatakan bahwa acara antaragama memiliki tujuan utama yaitu "membangun persaudaraan sejati dan menolak intoleransi": "Menjadi bagian dari komunitas agama di Indonesia berarti mengakui iman seseorang bersama orang lain yang mengaku agama yang berbeda", katanya.

Rapat Pleno Pengurus Lengkap Komkat KWI 2017

Sekretariat Komisi Kateketik KWI menyelenggarakan Rapat Pengurus Lengkap di Wisama Samadi, Kalender, Jakarta Timur. Rapat tahunan 2017 ini diselenggarakan di wisma Samadi, Kalender Jakarta pada tgl. 23 s.d. 25 Februari 2017. Rapat Pelno dibuka oleh Ketua Komisi Kateketik KWI, Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM. Dewan pengurus lengkap Komkat KWI terdiri dari Ketua, Sekretaris, ahli kateketik, ahli kemasyarakatan, wakil- wakil dari enam regio Komkat Keuskupan, wakil lembaga pendidikan kateketik dan pastoral, wakil lembaga pendidikan Filsafat-Teologi (Seminari Tinggi), serta undangan khusus P. Hartono, MSF dari Komisi Keluarga KWI yang hadir sebagai narasumber pada hari pertama rapar pleno.

Pages

Subscribe to KomKat KWI RSS