Minggu Palma, Paus mengajak umat bersikap ‘rendah hati’

Pada Misa Minggu Palma kemarin Paus Fransiskus mengajak umat Katolik hendaknya meneladani kerendahan hati Yesus, dan mendorong para hadirin untuk mewujudkan sikap tersebut.
Mengacu pada bacaan kedua hari itu, yang diambil dari surat Santo Paulus kepada umat di Filipi, yang mengisahkan bagaimana Yesus “merendahkan diri” dengan mengambil bentuk manusia, Bapa Suci mengatakan bahwa “kata-kata ini menunjukkan kepada kita mengenai cara Allah dan cara orang-orang Kristen. Cara itu adalah kerendahan hati”.
Kerendahan hati, katanya, adalah “cara yang terus-menerus menakjubkan dan mengganggu kita: kita tidak akan pernah terbiasa dengan seorang Allah yang rendah hati!”
Ketika Gereja Katolik menetapkan Pekan Suci yang menuntun kita menuju Paskah, “kita akan mengambil jalan kerendahan hati Yesus sendiri. Hanya dengan jalan ini kita akan menjadikan pekan ini menjadi kudus bagi kita juga!”

Renungan Hari Raya Kamis Putih: Mencuci Kaki

Bacaan I : Kel 12:1-8.11-14
Bacaan II : 1 Kor 11:23-26
Bacaan Injil : Yoh 13:1-15

Berabad-abad lampau memerintahlah di Persia seorang raja yang baik dan bijaksana. Ia ingin mengetahui bagaimana rakyatnya hidup, kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Terkadang ia berpakaian seperti seorang pekerja atau pengemis dan berjalan-jalan ke rumah orang-orang yang melarat hidupnya. Tidak ada seorang pun dari mereka yang dikunjunginya menaruh curiga bahwa dialah orang yang memerintah mereka.

Suatu ketika ia mengunjungi seorang pria yang amat melarat hidupnya dan tinggal di dalam sebuah gua. Ia makan makanan mentah yang dimakan pria itu. Ia berbicara dengan ramah dan menggunakan kata-kata yang membangkitkan kegembiraan dan kegairahan dalam hati pria itu. Kemudian, ia meninggalkan tempat itu. Beberapa lama kemudian, ia mengunjungi pria miskin itu lagi dan berkata kepadanya dengan terus terang, “Aku adalah rajamu”.

Tags: 

Renungan Hari Raya Jumat Agung: Sang Penebus

Bacaan I : Yes 52:13-53.12
Bacaan II : Ibr 4:14-16.5:7-9
Bacaan Injil : Yoh 18:1-19.42

Kisah ini berasal dari jaman perbudakan di Amerika Serikat, ketika manusia dapat diperjualbelikan sebagai budak.
Ada seorang tuan tanah yang kaya raya pada suatu hari berjalan-jalan di suatu pasar budak. Hatinya tersentuh pada isak tangis seorang gadis budak yang putus asa karena akan dilelang. Tergerak oleh belas kasihan, orang kaya itu membeli gadis budak yang malang itu dengan harga yang sangat tinggi. Ia menyuruh juru tulisnya untuk mengurus kebebasan gadis budak itu dan ia sendiri pergi menghilang di antara kerumunan orang banyak di pasar budak itu.

Tags: 

Renungan Hari Raya Malam Paskah: Paskah Dan Harapan

Bacaan I : Kej 1:1 – 2.2.
Bacaan II : Kel 14;15 – 15.1
Bacaan III: Yes 54:5 - 14
Bacaan Injil : Mrk 16:1-8

Kartini hidup di jaman yang gelap bagi kaum perempuan. Tetapi rupanya ia mempunyai keyakinan dan harapan yang kuat akan masa depan yang lebih cerah bagi kaumnya. “Habis gelap akan terbit terang”. Oleh sebab itu ia tidak pernah putus asa untuk memperjuangkan keadaan yang lebih baik bagi kaum perempuan, walaupun untuk itu ia banyak mendapat tantangan.

Beliau sudah meninggal, tetapi semangatnya masih tetap kita warisi. Ia menjadi simbol bagi kita dalam mengatasi masa gelap menuju masa terang.
Tetap memiliki harapan menjadi ciri dari manusia-manusia unggul. Harapan merupakan salah satu kebajikan kristiani.

***

Malam Paska ini adalah malam harapan.
Demikianlah pesta Paska menjadi pesta harapan untuk kita semua. Kalvari bukanlah akhir dari nasib kita. Apa pun yang kita derita adalah suatu jalan menuju kepada kejayaan dan kebangkitan. Dalam kesulitan dan penderitaan apa pun juga, kita akan tetap menjadi manusia yang punya harapan, manusia Paska!

Tags: 

Renungan Hari Raya Paskah: Makna Kebangkitan Untuk Kita

Bacaan I : Kis 10:34a-37.43
Bacaan II : Kol 3:1-4
Bacaan Injil: Yoh 20:1-19

Hari ini kita merayakan Paska, hari kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus tidak berarti bahwa Kristus hidup kembali. Kebangkitan Kristus tidak seperti Lazarus atau pemuda dari Naim ataupun anak Yairus. Mereka semua dikembalikan kepada kehidupan yang fana ini dan beberapa waktu kemudian akan mati lagi. Tidak demikian halnya dengan Yesus. Dengan kebangkitan-Nya Ia masuk ke dalam kemuliaan Bapa-Nya. Kristus sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi. Maut tidak berkuasa lagi atas Dia (Rm 6:9). Oleh karena itu kebangkitan dalam Kitab Suci sering di sebut “Peninggian”. Yang paling pokok ialah bahwa Yesus sekarang hidup dalam kehidupan ilahi, duduk di sebelah kanan Allah. Kebangkitan berarti pemuliaan, peninggian kepada kemuliaan ilahi.

Tags: 

Paus Fransiskus memulai ‘Doa untuk Perdamaian bersama Santa Teresa’

Doa sedunia untuk perdamaian dimulai pagi hari tanggal 26 Maret 2015, dalam rangka memperingati lima abad kelahiran Santa Teresa dari Avila. Ordo Karmelit Tak Berkasut bertanggung jawab atas usulan prakarsa untuk tahun ini. Berbagai kegiatan sedang direncanakan di seluruh dunia untuk mengenang mistikus dari Spanyol itu.

Menurut laporan Lancha Rocio Garcia, wartawan Zenit.org, dari Kota Vatikan, Paus Fransiskus ingin menjadi bagian dari prakarsa itu dengan membacakan doa itu dalam Misa pagi itu di Casa Santa Marta. Pemimpin Umum Ordo Karmelit Tak Berkasut Pastor Saverio Cannistra, dan Vikaris Jenderal Pastor Emilio Martinez hadir dalam Misa itu.

“Saya sungguh-sungguh menyatu dalam prakarsa ini, agar api kasih Allah mengalahkan api peperangan dan kekerasan yang menimpa manusia, dan agar dialog terus digunakan dalam konflik bersenjata di mana-mana. Semoga Santa Teresa menjadi perantara doa kami ini,” kata Bapa Suci.

Setelah perayaan Ekaristi di Casa Santa Marta, ZENIT berbicara dengan Fastor Martinez, yang mengatakan bahwa Misa itu merupakan “saat mengharukan” karena Paus mengambil bagian dalam doa perdamaian dan doa Santa itu.

Pages