Renungan Hari Minggu Biasa  XV:  “Menjadi Lahan Yang Subur Bagi Firman Allah”

Bacaan: Yes. 55:18-11; Rm. 8:18-23; Mat. 13:1-23

Para petani di Palestina pada masa Yesus dalam bertani, beda dengan petani di kampung-kampung kita. Petani Palestina menanam benih dengan cara menaburkan. Mereka bukannya menyiapkan tanah terlebih dahulu sebelum menabur benih melainkan terlebih dahulu menaburkan benih sebelum tanah dicangkul  dan benih itu dimasukkan ke dalam tanah. Karena itu tidak mengherankan kalau benih-benih itu bisa jatuh pada berbagai kemungkinan tempat seperti yang disebutkan oleh Yesus dalam Injil itu. Kalau para petani kita, justru biasanya menyiapkan lahan, membersihkan, mencangkul baru sesudah itu benih itu ditanam. Karena itu kita mungkin merasa aneh dengan perumpamaan Yesus tentang penabur yang menaburkan benih di ladangnya.

Situasi sehari-hari itu digunakan Yesus dalam menyampaikan ajaran-Nya dengan menggunakan perumpamaan tentang penabur.Yesus menyampaikan salah satu kebenaran tentang karya pewartaan-Nya yang kelihatan gagal namun berhasil juga melalui sebuah perumpamaan, yaitu perumpaan tentang penabur. Melalui perumpamaan itu, Yesus mau mengatakan sesuatu tentang karya pewartaan-Nya sendiri. Nasib benih itu terletak pada tempat/lahan dimana benih itu jatuh. Yakni di pinggir jalan, di tanah berbatu, semak berduri bahkan ada juga di tanah yang baik. Diakhir dari pertumbuhan itu, ada yang mati tapi ada yang menghasilkan buah seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, tiga puluh kali lipat. Dengan mengatakan hal itu, Yesus mau menunjukkan bahwa sekalipun ada kegagalan di sana-sini, Ia tetap mengakui hasil yang berlipat ganda dari karya pewartaan-Nya.

Tempat dimana benih itu jatuh dan bertumbuh mau mengungkapkan lahan hati manusia yang mendengar pewartaan firman. Benih yang jatuh di pinggir jalan, mau berbicara tentang orang yang mendengar warta Kerajaan  Allah tetapi tidak mengerti, karena itu gampang melepaskannya bila ada pengaruh dari luar. Mereka adalah orang-orang yang masa bodoh, tidak peduli, yang ikut arus dan ikut ramai, tidak punya pegangan hidup yang jelas.

Benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, menggambarkan orang-orang yang mendengar dan menerima firman Allah tetapi akan cepat menyerah, takut, tidak ada pendirian,  bila ada tantangan dan kesulitan.

Juga nasib benih yang tumbuh di semak berduri adalah mereka yang menerima sabda Allah, namun kemudian hilang karena dihimpit oleh ambisi-ambisi lain seperti kedudukan, harta, kesenangan atau kenikmatan tertentu dan dengan mudah mengurbankan warta Kerajaan Allah di dalam dirinya.

Sementara di tanah yang baik adalah mereka yang mendengar firman Allah dan mewujudkannya dalam hidupnya, dan tentu menghasilkan buah. Karena itu, menjadi pertanyaan untuk diri kita masing-masing, kita menjadi lahan yang mana?

Kita menyaksikan dalam hidup ini seolah tidak ada hasil, Kejahatan manusia masih saja terjadi di mana-mana seperti pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, penipuan, korupsi dan berbagai kejahatan lainnya. Namun kita juga yakin dan tidak boleh berputus asa, karna benih-benih firman itu jatuh juga di tanah yang baik dan subur serta memberi hasil. Keberhasilannya adalah urusan Tuhan Allah.

Karena itu, kita diharapkan menjadi lahan yang baik dan subur bagi firman Allah itu. Dan tentu saja bukan  sebaliknya seperti di pinggir jalan, di tanah berbatu  ataupun di semak berduri. Keterbukaan dan kesiapsediaan untuk melaksanakan sabda Allah merupakan kunci yang memungkinkan dan menentukan hasil yang berbeda. Firman Allah tidak akan kembali tanpa menghasilkan buah.

*****

Ditulis oleh Rm. Frans Emanuel Da Santo, Pr; Sekretaris Komkat KWI

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *