Merdeka Belajar, Apa itu?

Nadiem Anwar Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju, mencanangkan program Merdeka Belajar. Menurut Nadiem, pendiri dan kini mantan ceo Gojek itu bahwa esensi kemerdekaan berpikir,  harus didahului oleh para guru sendiri sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. Nadiem menyebut, dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi.

Mulai tahun ini (2020), dan kedepan, sistem pengajaran juga akan berubah dari yang awalnya bernuansa di dalam kelas menjadi di luar kelas. Nuansa pembelajaran akan lebih nyaman, karena murid dapat berdiskusi lebih dengan guru, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem ranking yang menurut beberapa survei hanya meresahkan anak dan orang tua saja, karena sebenarnya setiap anak memiliki bakat dan kecerdasannya dalam bidang masing-masing. Nantinya, akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat.

Konsep Merdeka Belajar ini  terdorong karena keinginan mas menteri Nadiem  menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu. Pokok-pokok kebijakan Kemendikbud RI tertuang dalam paparan Mendikbud RI di hadapan para kepala dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota se-Indonesia, di Jakarta, pada  tanggal 11 Desember 2019.

Ada empat pokok kebijakan baru Kemendikbud RI, yaitu:

  1. Ujian Nasional (UN) akan digantikan oleh Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Asesmen ini menekankan kemampuan penalaran literasi dan numerik yang didasarkan pada praktik terbaik tes PISA. Berbeda dengan UN yang dilaksanakan di akhir jenjang pendidikan, asesmen ini akan dilaksanakan di kelas 4, 8, dan 11. Hasilnya diharapkan menjadi masukan bagi sekolah untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya sebelum peserta didik menyelesaikan pendidikannya.
  2. Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) akan diserahkan ke sekolah. Menurut Kemendikbud, sekolah diberikan keleluasaan dalam menentukan bentuk penilaian, seperti portofolio, karya tulis, atau bentuk penugasan lainnya.
  3. Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP cukup dibuat satu halaman saja. Melalui penyederhanaan administrasi, diharapkan waktu guru dalam pembuatan administrasi dapat dialihkan untuk kegiatan belajar dan peningkatan
  4. Dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB), sistem zonasi diperluas. Bagi peserta didik yang melalui jalur afirmasi dan prestasi, diberikan kesempatan yang lebih banyak dari sistem PPDB. Pemerintah daerah diberikan kewenangan secara teknis untuk menentukan daerah zonasi ini.

Latarbelakang Kebijakan program merdeka belajar, antara lain berdasarkan pada penelitian Programme for International Student Assesment (PISA) tahun 2019 menunjukkan hasil penilaian pada siswa Indonesia hanya menduduki posisi keenam dari bawah; untuk bidang matematika dan literasi, Indonesia menduduki posisi ke-74 dari 79 Negara.

Merespon permasalahan itu maka Mendikbud yang masih muda belia dan milenial  ini membuat gebrakan penilaian dalam kemampuan minimum, meliputi literasi, numerasi, dan survei karakter. Literasi bukan hanya mengukur kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menganalisis isi bacaan beserta memahami konsep di baliknya. Untuk kemampuan numerasi, yang dinilai bukan pelajaran matematika, tetapi penilaian terhadap kemampuan siswa dalam menerapkan konsep numerik dalam kehidupan nyata. Hal ini membutuhkan kemampuan penalaran.

Satu aspek lainnya yaitu Survei Karakter, bukanlah sebuah tes, melainkan pencarian sejauh mana penerapan asas-asas Pancasila oleh siswa dalam hidupnya sehari-hari. Nilai Pansila (lima sila) bukan sekedar teori melainkan sebagai gerakan dalam hidup para peserta didik.

Untuk mendukung program merdeka belajar tersebut  direktorat jenderal pendidikan dasar dan menengah serta Pusat Kurikulum dan Pembelajaran menyusun beberapa dokumen untuk mengimplementasikan program merdeka belajar  mas menteri Nadiem Anwar Makarim itu.

Berikut ini beberapa dokumen awal yang dapat dibaca dan di-download di sini oleh semua stake holders pendidikan, termasuk para guru agama katolik di mana saja. Selamat berliterasi ! (Daniel B.Kotan)

RPP-INSPIRATIF-compressed.pdf

Project-Based-Learning.pdf

Games-for-learning.pdf

Buku-Saku-RPP.pdf

PANDUAN-MODEL-PENILAIAN-KARAKTER-2019.pdf

PANDUAN-PENILAIAN-TERTULIS-2019.pdf

Sumber artikel: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan dari berbagai sumber yang lain.

Gambar: https://sumeks.co/standar-nasional-pendidikan-direvisi

4 thoughts on “Merdeka Belajar, Apa itu?

  1. Jacobus Sumarban Widjaja says:

    Terimakasih Pak Daniel.
    Kami, baru tahu ada situs ini. Informasinya sangat bermanfaat dan dapat menggugah bagi kami yang ada di daerah-daerah, yang sebagian besar katekis sukarela.

    • Daniel Boli Kotan says:

      selamat datang di situs katekese ini pak Yacobus, semoga mendapat manfaatnya untuk tugas panggilan sebagai katekis..Tuhan memberkati bapak dan keluarga sepanjang waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *