MEMBINA IMAN YANG TERLIBAT DALAM MASYARAKAT
(PKKI IV: Denpasar, Oktober 1988)
A.PENGANTAR
PKKI IV dengan tema membina iman yang teribat dalam masyarakat membawa suatu wawasan baru yang menantang suatu perubahan strategi dalam operasi katekis.
Lewat beberapa sidang persiapan dan koordinasi persiapan bidang pembicaraan pokok akhirnya disepakati bahwa PKKI IV akan mengolah dan mengkaji bersama empat bidang perhatian katekese yaitu: Evaluasi Katekese UMat; Evaluasi Kurikulum 84; Pola-pola Pelajaran Agama dan Katekese Umat; Analisa Sosial.
PKKI IV didahului dengan sidang paripurna Komisi Kateketik yang dihari oleh seluruh anggota Komisi dan Panitia Persiapan PKKI IV yang cukup bervariasi antara yang padat dan yang santai.
PKKI IV diawali dengan Perayaan Ekaristi dengan Selebran utama Mgr. Pujoraharjo, Pr., Ketua Komisi Kateketik KWI dan Mgr. Vitalis Djebarus, SVD., Uskup tuan rumah Keuskupan Denpasar. Dalam khotbah digambarkan secara menyeluruh perkembangan pemikiran dan pelaksanaan katekese sejak PKKI I, II dan III yang dalam kenyataan pergolakannya di tengah masyarakat pluralis dengan permasalahan social yang menantang arus Gereja, sungguh mengundang terlaksananya PKKI IV ini sebagai suatu forum pemikiran bersama, musyawarah dan mufakat untuk turut menyumbang terbentuknya Gereja abad dua puluh satu yang benar-benar memasyarakat.
Masalah Katekese Sekolah dan Katekese Umat yang gagasannya mulai dikandung sejak PKKI dengan nama: Katekese dari umat untuk umat’, yang dilahirkan dalam PKKI II dengan rumusan arti Katekese Umat yang operasional dalam menumbuhkan dan mengembangkan iman yang memasyarakat. PKKI III menanggapi kenyataan pemasyarakatan Katekese Umat seturut rumusan PKKI II yang menemukan hambatan besar, yakni minimnya perbekalan baik pemahaman arti KU maupun ketrampilan dari sang fasilitator KU sendiri. Dengan tema Membina Pembina Katekese Umat pada PKKI III itu maka jelaslah bahwa setelah melewati beberapa tahun penerapan KU dengan fasilitator yang canggih, PKKI IV merupakan kesempatan untuk mengevaluasikannya. Tidak dapat disangkal bahwa Katekese Sekolah tetap merupakan sebelahan mata uang dengan KU, maka PKKI IV merupakan sebelahan mata uang dengan KU, maka PKKI IV merupakan pula kesempatan mengevaluasi Pola PAK di sekolah yang telah dijalankan sejak Pola PAK Malino 1981 itu dan evaluasi buku-buku Kurikulum ’84.
Sambutan Uskup Ketua Komisi Kateketik Mgr. Pujoraharjo, Pr., mensinyalir hal-hal tersebut dan membawa peserta ke suatu pertanyaan: “Bagaimana mengusahakan suatu katekese yang membina iman yang terlibat dalam masyarakat” Inilah awal dari PKKI IV tersebut.
Panitia penyelenggaraan membagikan peserta-peserta menjadi empat kelompok (yang disebut ‘dapur’) untuk melayani sebanyak mungkin keinginan dan selera, yang diungkapkan pada riset persiapan. Dengan menempuh jalur dapur-dapur KU, Analisa Sosial, Evaluasi Kurikulum ’84, dan pola-pola PAK, PKKI IV mengevaluasi seluruh kegiatan katekese baik di sekolah maupun pada umum. Kegiatan mengevaluasi itu diteropongi dengan kaca mata peranan Gereja menuji abad ke-21. Teropong ini disediakan lewat panel diskusi yang dihantar oleh Bruder Theo v.d. Broek OFM., seorang sosiolog delsos Keuskupan Jayapura, Bp. Andreas Masaputra BA, seorang katekis dan anggota SPSD II Sanggau, terkenal sebagai pastor merakyat di Keuskupan Agung Semarang. Butir-butir panel diskusi menjadi sumber inspirasi dalam pengolahan keempat bidang katekese tersebut.
B.PROSES PKKI IV
Wawasan baru mengenai situasi dunia di tahun 2000 khususnya situasi tanah air dan bangsa kita akan mengarah ke kebudayaan masyarakat industrial. Perubahan ini pasti akan mengakibatkan berbagai permasalahan sosial, yang menantang Gereja dan Katekesenya. Ketiga panelis menyadarkan tantangan ini dari sudut mereka masing-masing.
Mengenai peranan Gereja di abad dua puluh satu, Br. Theo mengemukakan empat unsur dalam menemukan suatu pola perhatian/pilihan Gereja: Gereja yang tidak dilumpuhkan status “minorkasnya”, Gereja yang memelihara kesatuan alam dan manusia; Gereja yang menghantar manusia dalam proses perubahan; dan Gereja yang kurang mementingkan unsur pelembagaannya. Di abad dua puluh satu kita akan tetap minoritas dalam kuantitas, bahkan tersebar dalam diaspora, terpecah berkeping-keping, namun dalam kualitasnya kita dapat bersaing. Untuk ini Rm. Mangun menekankan betapa pentingnya Katekeke Umat yang tidak Gereja sentris tetapi Katekese Umat yang membina iman yang terlibat dalam masyarakat, bahkan suatu Katekese Umat yang merupakan wadah komunikasi iman dan nilai-nilai Kerajaan Allah, pun di kalangan peserta yang beragama lain pula. Katekese Umat di masa depan harus menjadi tempat mengkomunikasikan pengalaman iman yang berakar pada kesadaran akan nilai-nilai Allah yang dipeluk juga oleh sesame kita dalam masyarakat yang berasal dari berbagai tradisi kegamaan. Pewartaan kabar gembira yang benar adalah kesempatan di mana Kristus sungguh diwartakan sebagai Penyelamat hidup nyata, peserta/anak didik. Hal ini harus didukung pula oleh profile kepribadan para petugas pastoralnya. Katekis sebagai aktivis Gereja hendaknya seorang yang eksistensinya menunjang isi pewartaannya. Ia seorang pendoa yang berkarya, seorang pewarta yang menghayati dalam diri sendiri Kristus yang hidup, yang berpengaruh dalam mengeksistensikan Gereja sebagai sakramen keselamatan dunia, yang penting ialah baik dengan kesaksian hidup maupun pewartaannya dalam katekese ia dapat menciptakan persatuan yang erat antara umat dan antara umat dan Tuhan.
Selanjutnya Bp. Andreas memaparkan pengalaman seorang beriman dalam pergolakan meragi dan menggarami dunia di tengah struktur birokratis yang ketat dari atas sampai bahwa merupakan suatu tuntangan besar bagi seorang beriman. Sang panelis akhirnya mengutarakan pengalamannya sebagai seorang beriman yang berusaha dengan berbagai cara yang tanpa menggunakan kekerasan untuk menegakkan hokum dan hak azasi manusia. Tentu hal ini mengundang para peserta untuk mengenangkan kembali cara-cara canggih yang telah mereka geluti dalam memasyarakatkan imannya.Dalam diskusi Rm. Mangun menekankan pentingnya penjernihan pengertian sistem pemerintahan dan pribadi pejabat.Sikap kritis terhadap sistem adalah wajar dan itu bukan berarti menentang pribadi pejabat.
Makalah Rm. Mangun: “Profil Petugas Pastoral Gereja di Indonesia tahun 2000 pada Lokakarya Pendidikan Pastoral Sangkal Putung 15-30 Desember 1986” (lihat lampiran 3, hal. 141) dapat dipelajari untuk mendapatkan gambaran mengenai situasi masyarakat abad dua puluh satu dengan harapan eksistensi Gereja dengan profil petugas pastoral yang sungguh garam dan ragi.
Arus perkembangan teknologi yang cepat laju geraknya dunia akibat komunikasi yang serba lancar sangat mempengaruhi cara pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Situasi masyarakat abad dua puluh satu akan menimbulkan berbagai permasalahan di bidang ekonomi, social dan politik serta kebudayaan antara lain: politik dengan dampak kemerosotan hidup moral yang memprihatinkan, ditambah lagi dengan kondisi social politik yang pembangunan Negara dan bangsa semakin melestarikan nilai-nilai kemanusiaan. Sikap kurang menghargai hidup dalam berbagai bentuk penggunaan alam secara merugikan dan mengakibatkan naiknya intensitas kelaparan, menghasilkan lebihbanyak tenaga kerja sedangkan kesempatan kerja kurang. Juga kelaparan atau kekurangan persediaan pangan akan lebih terasa dan merata karena kecerobohan dan pemeliharaan alam dan kekurangan bahan bakar.
Panel diskusi menantang dan mengantar para peserta kepada suatu pertobatan di bidang pewartaan dan eksistensi pewarta. Pewartaan lewat wadah KU pun Katekese Sekolah agar benar-benar adalah Pewartaan Kabar Gembira Yesus Kristus yang menyelamatkan manusia, dalam konteks hidupnya dan bukan penyampaian informasi pengetahuan agama melulu, sekalipun pengetahuan agama harus dianggap penting. Pembentukan religiositas pada anak didik dan umat dalam Katekese Umat, pendalaman perasaan beriman dan semangat kerasulan khusus dalam mengkomunikasikan iman sebagai ragi dan garam di tengah masyarakat pluralis, supaya menjadi cita-cita katekese.Tepatlah bahwa wajah dan peranan Gereja tahun 2000 mengundang gagasan mengenai warna dan nada katekese serta gagasan mengenai profil umat berimannya dan petugas pastoralnya pula.
Butir-butir input dari panel diskusi tersebut membekalis eluruh kegiatan di dapur-dapur sebagai tantangan dan cambuk dalam meneropong dan mengevaluasi seluruh kegiatan katekis dalam Gereja di seluruh Indonesia.
C.KEGIATAN DAPUR-DAPUR PKKI IV
Dengan giat dalam acara padat bercampur santai selingannya pakar-pakar keempat dapur yang berfungsi sebagai koki-koki bersama peserta sibuk mengolah bahan, memasaknya dan menghidupkannya pada setiap sore sesudah makan jasmani sebagai makanan rohani bersama refleksi dari Rm. Putranto, SJ. Beliau sebagai tenaga ahli dari PUSKAT Yogyakarta yang diundang ke PKKI IV untuk berfungsi sesbagai pengamat dan pemandu refleksi seluruh kegiatan sepanjang harinya yang sekaligus mempersiapkan para peserta untuk bergairah memikirkan resep dan bumbu serta sistem pengolahan bahan masakan di hari berikutnya selama PKKI IV itu. Kegiatan di masing-masing dapur, proses pengolahan dan penyimpulannya ditempuh dengan metodik yang berbeda-beda sesuai kesepakatan bersama dimulainya acara.
D.DAPUR KATEKESE UMAT (KU)
Kelompok dapur ini secara induktif, saling membagi pengalaman nyata tentang pelaksanaan KU di Keuskupan masing-masing.Contoh KU yang siap pakai dibawa pula ke dapur. Pengalaman ber-KU itu dikaji bersama lagi dengan rangkuman angket KU dari Keuskupan-keuskupan yang telah diolah oleh sang koki (Bp. Drs. Sriyono dan Drs. Bachrum) Kemudian dievaluasi bersama dengan pedoman Rumusan KU dari PKKI II dan butir-butir panel diskusi.
Terjadi dalam kenyataan KU sebagai penemuan bersama ialah bahwa pemahaman arti Katekese Umat itu sendiri belum merata.Rupanya kata katekese umat itu begitu klasiknya sehingga memonopoli segala bentuk pembinaan iman.Tampaknya segala sesuatu yang menyangkut pembinaan iman. Tampaknya segala sesuatu yang menyangkut pembinaan iman di luar jam sekolah disebut Katekese Umat. Dengan demikian maka bahan katekese umat beserta proses-prosesnya yang berbeda-beda, yang sebenarnya merupakan idealnya KU, masih dikaburkan oleh kurangnya pemahaman tentang arti KU itu sendiri, yang akhirnya mengakibatkan juga kurang trampilnya pemandu KU. Hasil PKKI III belum luas dampaknya karena terbukti pula bahwa banyak pemandu justru tidak canggih untuk ber-KU.
Dalam dapur ini timbul kesan kuat: Umat kita memang sudah mulai rajin ber-KU, akan tetapi yang dibicarakan dalam KU hamper melulu hal-hal Gereja (KS, Doa, Ibadat dan sebagainya), sementara hidup nyata sehari-hari masih kurang diteropong bersama sebagai medan perjumpaan dengan Allah.
Bahkan timbul tanda Tanya: Sebetulnya KU itu apa? Unsur-unsur pokok dalam penjabarannya masih dimengerti secara berbeda-beda.
Tetapi dapat kita tanyakan diri sendiri: APakah memang pemahaman KU itu belum merata atau sebetulnya belum adanya suatu banting stri, suatu perubahan sikap mental baik umat maupun sang pemandu sendiri? Mungkin kita sudah mengerti banyak tetapi tidak berbuat banyak. Seruan Rm. Mangun kiranya tepat “bertobatlah…kalau tidak KU tetap hanyalah katekese sekolah yang terjadi di luar sekolah di lingkungan umat. Tahu sendiri akibatnya, kalau bentuk katekese sekolah yang dibawa ke umat. Sikap mengarah ke atas mendengar secara pasti akan semakin dilestarikan. Itu bukan KU.
Dengan sekali lagi bersama-sama dalam dapur memahami arti sebenarnya KU, maka terasa kebutuhan pokok akan latihan beranalisa social. Iman memasyarakat, kalau hidup nyata pribadi dan masyarakatnya dilihat dan diolah dalam terang Injil/iman. Iman akan melayang saja kalau akhirnya toh tidak membawa suatu pembebasan dalam hidup nyata. Evangelii Nuntiandi mengingatkan kita bahwa: “Tak ada evangelisasi yang benar tanpa mewartakan nama, ajaran, dan hidup perjanjian, kerajaan, dalam misteri Yesus dari Nazareth Putera Allah. Maka benarlah bahwa katekese bukan katekese kalau bukan Kristus yang diwartakan. Dan Kristus bukanlah Kristus bukanlah Kristus kalau Ia tidak dijumpai secara pribadi. Namun pertobatan pribadi pun bukan pertobatan sejati apabila tidak berdampak transformasi social.Sang pemandu perlu trampil dan mampu untuk mengajak umat dalam KU untuk bisa menganalisa masalah hidup nyata yang dialami dan yang diungkapkan dalam pengalaman peserta KU pula.
Akhirnya disimpulkan juga bahwa dalam rangka memperbaharui seluruh gagasan dan pelaksanaan Katekese, perlu analisis social, dan untuk itu perlu pula dibatasi abalisa dalam batas lingkup katekese. Dari pengalaman peserta lokakarya yang dibumbing Puskat Audio Visual, Rm. Ruedi Hofmann, SJ., Yogyakarta, kiranya dapat diperoleh jawaban mengenai kebutuhan ini. Para fasilitator KU perlu dibina lagi dengan kemampuan beranalisa social ini selain bahwa seluruh pemahaman prinsip KU dan metodik yang canggih perlu menjadi sasaran perhatian sesudah PKKI IV ini.
E.SUATU REFLEKSI DALAM PKKI IV
Tema membina iman yang terlibat dalam masyarakat dapat merupakan umpan balik bagi kita bila bernostalgia nengenai seluruh kegiatan katekese sejak PKKI I bahkan sejak dahulu kala di saat nenek moyang kita mengenal Nama Yesus Kristus dan mengimani-Nya. Rm. Putranto, SJ., dalam refleksinya mengajak para peserta PKKI IV pada hari pertama untuk meresapkan ini dalam makna sabda Kristus: “Kamu adalah garama dunia…” (Mat. 5: 13-16).
Butir-butir input panel diskusi menjadi bekal dalam pengolahan bahan masakan di dapur-dapur. Kiranya benar pula bahwa di benak peserta terjadilah suatu refleksi mendalam mengenai identitas dan eksistensi katekis, suatu tarungan mengenai ptofil katekis sebagai petugas pastoral gereja abad dua puluh satu. Dapat kit abaca tulisan Rm. Mangunwijaya, Pr., mengenai profil petugas Gereja tahun 2000 dan Katekese Umat tahun 2000 yang telah termuat di dalam buku “Ramuan Dapur PKKI IV”. Petugas pastoral adalah seorang yang menghayati Kristus sedemikian bermutu sehingga dampaknya jelas dalam mutu komunikasinya dengan sesame umat dan masyarakat.Ia seorang beriman, semakin bertumbuh dalam kemampuan untuk mengolah hidupnya yang nyata dalam terang iman, nilai kristiani. Ia mampu membedakan nilai-nilai dan membuat pilihan nilai dengan norma Kristus. Bersikap kritis dalam mengambil keputusan untuk bertindak dan bertingkah laku seturut norma Kristus dalam mengemban dan mengamalkan cinta Kristus kepada sesame. Ia seorang komunikasi umat yang memasyarkat sehingga sanggup membaca tanda zaman dan menanggapinya sebagai seorang pengikut Kristus. Ia berpikir, merasakan memutuskan dan bertindak menyelamatkan sesame dan dirinya seturut teladan Yesus. Pengalaman Allah yang mempribadi dalam diri katekis menjadi titik pangkalnya dalam berkarya membawa warta gembira Yesus Kristus dan menggerakkan umat untuk bertemu dengan Kristus dan mengenali-Nya sebagai Allah, Penyelamat dan Pembebas umat manusia dari segala belenggu perbbudakan dosa dan ketakutan dan menegakkan harga hidup sebagai anak Allah, baik dalam diri sendiri sebagai pribadi maupun dalam sesame dan masyarkat seluruhnya. Sehingga benar bahwa Kristus dating membawa warta gembira, dan berita sentral adalah: Kerahaan Allah telah tiba, bertobatlah dan percayalah (Mk. 4: 1-4).
F.KESIMPULAN
Bagian pendahuluan ini merupakan penyajian gambaran menyeluruh dari PKKI IV.Suatu tantangan baru untuk katekese di Indonesia telah dilemparkan dalam PKKI IV ini.Katekese dengan Gereja sentris seperti selama ini rupa-rupanya tidak relevan sebagai kabar gembira keselamatan. Sudah waktunya kita harus melirik keluar pagar gereja intern ada apa di masyarakat dan bagaimana Gereja menjadi garam dunia. Mungkin orientasi katekese kita di masa mendatang tidak lagi Gereja sentris tetapi mengarah ke Kerajaan Allah sentris.Katekese Kerajaan Allah terlebih karena Gereja kita hidup dalam masyarakat majemuk dengan berbagai tradisi keagamaan dan budaya, social politik dan ekonomi yang semuanya adalah bagian dari hidup manusia. Kita perlu menyadari minoritasnya kita yang akan semakin menjadi tuasi diaspora yang semakin merata oleh berbagai faktor. Kesadaran ini akan memudahkan kita untuk menerima kemajemukan itu dan berani menggali nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam semua kemajemukan itu. Dengan itu maka arah katekse kita akan menjadi semakin memasyarakatkan iman.
Denpasar, Oktoner 1988
