Bacaan : Yes.66:10-14c; Gal.6:14-18; Luk.10:1-12,17-20.
Yesus menunjuk dan mengutus para murid-Nya untuk pergi mendahului Dia mewartakan datangnya Kerajaan Allah. Ini tugas yang tidak mudah. Bahkan Yesus sendiri menegaskan bahwa Dia mengutus mereka seperti domba ke tengah serigala. Serigala selalu menanti domba untuk diterkam dan dimakan. Bahaya itu jelas, tetapi pesan Yesus juga jelas. Semua hal yang membuat para murid-Nya merasa nyaman dan aman. Mereka diutus ke dalam bahaya, tetapi tidak boleh membawa perlengkapan. Ketakutan dan kecemasan besar pasti dialami para murid Yesus ketika pergi sesuai perintah Yesus. Yesus menjamin mereka dengan kuasa yang akan menyelamatkan mereka dari bahaya.
Ke 70 murid ini jelas bukan orang yang baru kenal Yesus kemarin sore lalu langsung hari ini diutus. Mereka pasti tidak akan mau kalau baru kenal Yesus kemarin sore. Ke 70 murid ini pasti sudah melihat sendiri, mendengar sendiri atau bahkan mengalami sendiri kuasa Yesus.
Para murid Yesus harus berani belajar menghadapi hal-hal berat dalam perjalanan mereka menjadi utusan Yesus. Kesulitan itu tidak bisa dihadapi lagi dengan kekuatan sendiri. Kini mereka hanya bisa mengandalkan nama Yesus dalam menghadapi berbagai kesulitan. Dan hasilnya, luar biasa. Saat mereka setia dengan apa yang Yesus katakan, mereka melihat hasilnya. Kecemasan dan ketakutan mereka berubah menjadi sukacita luar biasa. Mereka berangkat dengan ketakutan, pulang dengan sukacita.
Keberanian untuk setia kepada sabda Yesus kerap menjadi hal yang langka dewasa ini. Orang lebih suka melihat yang indrawi, yang langsung bisa dirasakan, dilihat, dipegang. Segala yang nyata, cepat, dan instan disukai. Akan tetapi, lama kelamaan orang lupa akan proses. Kesetiaan pada proses yang benar menjadi hal langka, bahkan kerap dianggap aneh oleh yang lain.
Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr: Sekretaris Komkat KWI


Mantap bos…