Pilkada dan Adven: Revolusi Akhir Tahun (Feliks Hatam)

Umat katolik sejagat memasuki masa adven. Adven adalah kesempatan istimewa bagi Jemaat yang merayakannya untuk menyonsong Sang Juru Selamat yang membawa keselamatan universal. Keselamatan yang membebaskan oleh bebasnya manusia dari dosa, bebasnya manusia dari hubungan yang retak dengan Allah. Semua rahmat itu tidak terjadi begitu saja tanpa partisipasi manusia. Keselamatan itu murni pertama-tama atas inisiatif Allah. “Niat baik” Allah tidak mungkin terlaksana dalam diri manusia, bila saja manusia yang beriman tidak menanggapinya.  Sebuah keistimewaan tahun ini, dibebarapa daerah melaksanakan Pilkada yang bertepatan dengan masa Adven. Keistimewaan itu terjadi bila umat yang merayakaannya menjadikan momen pemilihan itu sebagai bagian dari ibadah. Sebagi ibadah, maka memberanikan diri untuk bersikap jujur dan mengakui suara hati sebagai sumber keputusan yang bebas, menolak segala bentuk politik uang yang mematikan hati nurani, sehingga oleh keputusan itu harapan akan figur pemimpin yang bersih dan sosok yang mampu membebaskan rakyat dari ketidakadilan, dan kesenjangan ekonomi  terwujud.

Pilkada yang berlangsung di masa adven dan di penghujung tahun 2020 menjadi resolusi dan revolusi diri agar dapat menghasilkan pemimpin bermartabat dan berintegritas. Penekanannya  adalah lebih pada kiat-kiat atau usaha sadar dan sengaja untuk memantik daya refeleksi dan kritis pemilih (umat) agar memperoleh sukacita natal maupun menjawab harapan akan sosok pemimpin yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran di dunia.

Tentu diakui bahwa, rahmat  dan makna adven dan Pilkada, tidak bisa disamakan. Sosok yang dinantikan pun jauh berbeda, adven adalah menantikan Sang Juru Selamat, sumber kehidupan sejati, Empuhnya pemimpin, yang memimpin orang beriman di dunia dan akhirat, dan DIA tidak dipilih berdasarkan pilihan politik, murni oleh kasih setia Allah untuk memdamaikan hubungan Allah dengan manusia, melalui Wafat dan Kebangkitan-Nya di kayu salib, manusia diselamatkan, Dia adalah Pemimpin sejati, pemimpin “Surgawai”. Sementara pemimpin yang kita pilih melalui proses Pilkada adalah pemimpin politik yang kepadanya diberi harapan untuk memberikan kesejahteraan manusiawi, dia adalah pemimpin manusiawi, yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusian. Baik pemimpin dan pemilih (rakyat) sama-sama berada di bawah kuasa Sang Pemberi hidup, dan semua kiprah mengarah kepada Dia sebagai sumber keselamatan.

“Dia” yang dinantikan pada masa adven adalah pemimpin universal yang masuk dan hidup dalam seluruh ceritra hidup manusia beriman, menyelamatkan dan membebaskan yang tertindas dengan mengutamakan melayani, bukan dilayani. Memang bukan pemimpin politis, namun harapannya dalam dunia perpolitikan tokoh-tokoh pemimpin yang dipilih oleh rakyat (umat) meneladani prinsip pelayanan-Nya sebagai aktualisasi nilai-nilai iman.

Dia yang datang adalah jalan Keselamatan yang murni pertama dan utama sebagai tindakan Allah. Keselamatan yang membebaskan itu tidak terjadi begitu saja dalam kehidupan umat beriman. Rahmat itu akan dialami secara bebas oleh keputusan bebas manusia. Keputusan itu adalah sikap dan tindakan manusia yang sesuai dengan ajaran iman. Masa adven adalah kesempatan istimewa bagi umat Katolik untuk mempersiapkan diri menyambut Sang Juru Selamat.

Masa adven adalah nama periode sebelum natal. Kata adven diambil dari bahasa latin adventus (kedatangan/datang) Tentu pada tulisan ini tidak membahas sejarah dan perkembangan masa Adven dari masa ke masa hingga menjadi tradisi umat kristiani sejagat, dan begitu bayak literature yang membahas tentang hal tersebut. Terlepas dari banyaknya arti dan makna masa adven pada ulasan ini penulis menggarisbawahi masa adven sebagai priode persiapan menyambut Juru selamat dengan melakukan introspeksi diri yang berbuah pada perubahan sikap dan  kiat-kiat rohani, cara pandang dan mental.

Masa adven mengingatkan kita kepada penantian dan persiapan para nabi akan kedatangan Juru Selamat yang dijanjikan Allah melalui mulut para nabi yang susul menyusul di Israel. Katekismus Gereja Katolik  (KGK) menyatakan, Yohanes Pembaptis sebagai perintis Tuhan yang lansung untuk menyiapkan jalan bagi-Nya, Peran Yohanes Pembaptis sebagai “nabi” Allah yang maha tinggi sangat menonjol diantara semua nabi, sebab ia adalah terakhir dari semua nabi, dan sejak itu kabar gembira tentang karajaan Allah diberitakan, dengan terus memberikan kesaksian melalui khotbahnya, pembaptisan pertobatan, dan melalui mati syahidnya (523)

Disadari, merayakan adven saat ini, tidak sekedar mengenang penantian para nabi oleh umat Allah di masa Perjanjian Lama, sebaliknya penantian umat Allah kepada Kristus yang akan datang kembali. Kitab suci mengatakan kedatangan Kristus di saat tidak terduga, persis seperti kedatangan “seorang pencuri”.

“Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.  Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga.  Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!” Markus (13.33-37) Dalam kehidupan sehari-hari, berjaga-jaga dimaknai sebagai tindakan kesadaran untuk menunaikan tugas dan tanggungjawab sebagai makhluk beriman yang diaktulisasikan dalam kehidupan sosial dengan  seluruh karya dan potensi diri dijalankan serta dikembangkan mengarah kepada DIA sebagai “Apha dan Omega” (Wahyu 1;8,11;21:6)

Apha dan Omega tidaklah menunjukan pada waktu, sebaliknya menujuk hanya satu-satunya Allah yang benar  (Lihat; Wahyu 23:13) yang terus hadir dan ada. Allah yang  menjelma menjadi manusai (inkarnasi) tidak memiliki awal dan akhir dalam waktu, Dia adalah pribadi absolut, jauh namun dekat dan hadir (transenden) dalam setiap keputusan manusia, dan selalu terlibat dalam sejarah umat manusia umat.

Pada masa penantian ini, umat Kristiani menantikan Tuhan yang adalah Apha dan Omega yang secara terbuka masuk dan terlibat “blusukan” dalam kehidupan manusia, membebaskan yang tertindas dan mengangkat harkat-martabat umat manusia yang terkucil dan terhina. Disaat yang sama Tuhan menantikan jawaban bebas manusia untuk terlibat dalam seluruh karya keselamatan itu. Jawaban inilah yang akan disebut iman. Secara sederhana Iman sebagai respon bebas manusia terhadap panggilan Allah dinyatakan dalam seluruh kisah hidupnya. Pada masa yang istimewa ini, umat Kristiani sedang mempersiapkan hati sebagai  “kandang” Betlehem agar Yesus lahir, hadir dan hidup dalam hati setiap orang yang benar-benar telah menjawab inisiatif Tuhan untuk terlibat dan merasakan rahmat keselamatan.

Masa adven sebagai kesempatan setiap individu merenungkan dan merefleksikan kembali tentang masa lalu dalam seluruh ruang dan waktu yang dilalui. Keputusan terakhir dari proses ini adalah bertobat. Pertobatan tidak hanya terjadi secara individu (personal) tetapi juga secara sosial. Pertobatan personal adalah tindakan batin dan keputusan bebas setiap individu untuk meninggalkan segala keterpurukkan masa lalu, belajar berubah dari kesalahan masa lampau dan berani merumuskan cara hidup baru yang menyata melalui keputusan dan tindakan sehari-hari, yang mengarah kepada Tuhan. Sementara pertobatan sosial dimaknai sebagai tindakan kemerdekaan setiap diri untuk mewujudkan nilai-nilai pertobatan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab keselamatan Allah tidak hanya terjadi secara personal tetapi juga terselenggara secara komunio.

 PILKADA: Keputusan Bebas Menjawab Harapan

Tuhan yang dinantikan adalah pemimpin surgawi yang rela menyerahkan seluruh hidup-Nya untuk melayani umat manusia. Melalui kelahiran, sengasara, wafat dan kebangkitan-Nya di kayu salib menciptan relasi harmonis antara Tuhan dan manusia. DIA adalah “Pemimpin” yang terlibat, menyatu dan hadir dalam setiap kehidupan orang beriman, baik dalam suka, duka, mapupun saat senang dan susah. Sebab tujaan-Nya menyelamatkan manusia dari dosa, membebaskan yang tertindas, memberikan keyakinan tentang keselamatan kepada mereka yang putus asa dalam harapan. Mulia maksud kedatangan-Nya, namun DIA tetap melayani bukan untuk dilayani.  Tujuan mulia itu akan menjadi kekayaan dan kenyataan bagi umat beriman dan dilibatkan oleh-Nya melalui keputusan bebas manusia dalam menjawab inisiatif Tuhan untuk menyelamatkan umat-Nya. Jawaban itu titik awal manusia mengambil bagian misi Allah.

Rahmat dan sukacita natal adalah milik mereka yang telah mempersiapkan “palungan” atau hati untuk menyambut kelahiran Yesus melalui keputusan bebas untuk kembali merenungkan masa lalu, introspeksi diri atau melakukan evaluasi diri dan berani melakukan revolusi diri melalui cara hidup baru, cara berpikir dan berpandangan baru dan  cara baru dalam mengambil keputusan atau menentukan pilihan yang mengarakan diri pada tindakan dan sikap sakramental.

Pada tahun ini, komitmen revolusi diri sebagai bentuk penghayatan iman penting dan semakin menarik untuk dilakukan kararena bertepatan dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang dilaksanakan secara serentak di 270 daerah yang terdiri dari 9 Propinsi, 224 Kabupaten dan 37 kota. Hal inilah yang membuat Pilkada tahun ini sebagai momen istimewa. Setidaknya ada dua keistimemaan yakni: Pertema Bagi umat Kristiani, sebab selain manantikan “Pemimpin Surgawi” di saat yang sama menantikan pemimpin duniawi. Keistimewaan itu terjadi bila umat yang merayakannya menjadikan momen Pilkada sebagai bagian dari ibadah. Sebagi ibadah, maka memberanikan diri untuk bersikap jujur dan mengakui nurani sebagai sumber keputusan yang bebas, menolak segala bentuk politik uang yang mematikan suara hati, sehingga oleh keputusan itu harapan akan figur pemimpin yang bersih dan sosok yang mampu membebaskan rakyat dari ketidakadilan, dan kesenjangan ekonomi  terwujud. Kedua, baik bagi umat nasrani maupun umat beragama lain, Pilkada yang berlangsung dipenghujung tahun 2020 ini sebagai kesempatan evaluasi diri dan bagian dari resolusi menyambut tahun baru 2021 dengan berkomitmen meletakan hati nurani yang diterangi oleh akal budi dalam menentukan pilihan.

Secara konkret resolusi diri dapat melalui komitmen atau janji dengan diri sendiri untuk terlibat aktif menciptakan Pilkada yang bersih, berintegritas, menolak segala bentuk politik uang, mencintai keberagaman Suku, agama dan ras, dan lain-lain yang mengarahkan agar Negara kuat dan tali persatuan semakin kokoh. Resolusi ini harus menjadi bagian penting dalam revolusi diri yang nyata dalam tindakan, sikap, dan mengambil keputusan; dengan memberanikan diri untuk bersikap jujur dan mengakui nurani sebagai sumber keputusan yang bebas, menolak segala bentuk politik uang yang mematikan suara hati, sehingga oleh keputusan itu harapan akah figur pemimpin yang bersih dan sosok yang mampu membebaskan rakyat dari ketidakadilan, dan kesenjangan ekonomi  terwujud.

“Menantikan” pemimpin yang benar-benar ber-prikemanusian dan dan ber-prikeadilan dengan beritergratas yang baik akan lahir dari umat (rakyat) yang melibatkan diri untuk menjadi pemilih jujur, pemilih cerdas yang mengedapankan pertimbangan rasional bukan emosional, menjadi pemilih yang berdaulat dan menolak segala bentuk politik uang yang “merendahkan” harkat dan martabat manusia. Dengan prinsip-prinsip seperti ini, maka Vox Populi Vox Day (suara rakyat suara Tuhan) sebagai hasil refleksi yang melibatkan hati nurani dan terbuka pada realitas untuk menentukan pilihan semakin subur di bumi Pertiwi.

Refleksi pada kenyataan yang telah terjadi selama lima tahun terakhir pasca pemilihan 2015, realitas di sekeliling kita, tapak tilas dan itegritas para calon adalah hal yang menjadi perhatian semua pemilih. Sama pentingnya dengan mengkritisi, dan mengkaji semua visi dan misi serta strategi pembangunan yang mampu membebaskan rakyat dari berbagai persoalan pelik selama ini.

Keputusan bebas rakyat (umat) dengan mengedepankan hati nurani adalah awal terjawabnya harapan sosok pemimpin yang membebaskan rakyat dari lilitan kemiskinan, korupsi, penganguran, kekurangan air bersih dan tertindas. Pemimimpin seperti ini adalah figur yang  terlibat dan hadir “blusukan” dalam setiap realitas rakyatnya. Melalui blusukan  seorang  pemimpin yang mengetahui potensi-potensi daerah yang akan dikembangkan sebagai katalisator pembangunan melalui rumusan program, menjawab harap rakyat dengan program yang benar-benar dirasakan langsung oleh mereka yang membutuhkannya. Program yang dijalankan tidak sekedar untuk “melunaskan” visi dan misi tetapi memperhatikan asas kebermanfaatan atau kebutuhan dan keberlajutan. Sebab pemimpin yang berhasil adalah mereka yan mampu mendengarkan suara rakyat dan menjawab harapan terdalam masyarakat melalui program yang menyapa dan menyatu dengan kebutuhan rakyat, memerhatikan dan menghormati nilai-nilai dasar kemanusian.  Hal seperti ini hanya dapat dilakukan oleh mereka yang mampu “turun” dari kursi empuk, dan berjalan ke akar rumput untuk mendengarkan secara langsung arspirasi rakyat.

Keputusan bebas rakyat untuk menentukan pilihan sebaiknya menjadi salah satu komitmen rekonsiliasi diri pada masa adven dan di dipenghujung tahun ini. Buah-buah rekosialiasi  itu menguatkan dan meningkatkan nilai martabat manusia itu sendiri sebagai posisi “tertinggi” dalam demokrasi”. Hal ini semakin menjadi bila seluruh keputusan untuk memilih, mendengar dan terbuka terhadap hati nurani sebagai “harta” yang takaran nilainya tidak bisa disamakan dengan apapun yang diterima.

Keputusan hati nurani sebagai printah untuk melakukan dan menerima yang baik, menolak yang jahat, memberi kesaksian tentang kebenaran untuk memperjuangkan harkat dan martabat manusia, berani mengatakan salah bila ada hal yang salah. Keputusan nurai adalah keputusan akal budi dengan terbuka terhadap seluruh realitas. KGK (1777—1781) menekankan bahwa “Kalau ia mendengar hati nuraninya, manusia yang bijaksana dapat mendengar suara Allah, yang bebicara di dalamanya. Agar setiap orang dapat mendengarkan dan mengikuti suara hatinya, orang tersebut harus mengenal hatinya sendiri, sebagai upaya mencari kehidupan batin dari berbagai pengaruh yang dapat mengalihkan perhatian kita dari setiap pertimbangan, dari pemeriksaan diri atau introspeksi. Oleh karena itu martabat pribadi manusia mengandung dan merindukan bahwa hati nurani menilai secaca tepat, yang mencakup memahami prinsip moral, dan melaksanakan sesuatu dengan menilai asalasan-alasan dan kebaikan-kebaikan seturut situasi tertentu, hal konrit yang telah dan belum dilaksanakan”

Tindakan mempengaruhi pemilih dengan uang atau sejenisnya adalah tindakan untuk megalihkan daya kritis dan mengajak rakyat untuk menyangkal suara hatinya serta sedang mengarahkan rakyat pada “kesesatan” berpikir, sebab hal tersebut bukanlah pendidikan politik yang baik dan benar. Sementara mereka yang menerima uang atau sejenisnya adalah sudah masuk dalam “perangkap” mengalihkan diri dari kemampuan kritis dan memalingkan diri sendiri dari keputusan nurani, serta sedang terjerumus dalam “kesesatan” yang terencana oleh figur yang takaran kredibilitas dan integritasnya rendah di mata publik serta krisis kepercayaan di hati masyarakat. Karena itu figur-figur seperti ini berusaha mencuri kepercayaan rakyat dengan menghalalkan segala cara yang sudah jelas menentang dari prinsip demokrasi, norma agama dan hukum.

Pribadi yang dengan tegas mengakui keputusan nuraninya, menolak segala bentuk pengalihan yang mempengaruhi keputusan nurani adalah individu yang mengakui martabat dirinya sekaligus sebagai pembentukan hati nurani yang dilakukan secara terus menerus dengan mendorong diri sendiri menuju sikap dan tindakan yang berorientasi pada kebajikan, dengan menempatkan diri sebagai individu yang bebas dari ketakutan, bebas dari prinsip ingat diri, bebas dari kesombongan, pribadi yang mampu merasa bersalah dan membebaskan diri dari prasaan bersalah palsu dan rasa puas dengan diri sendiri.  Bila ini menjadi komitmen setiap orang maka Vox Populi Vox Day benar-benar meniliki power untuk melahirkan pemimpin yang beritegritas, berprikemanusian dan keadlilan, pemimpin yang terlibat dan melibatkan diri dari bergai persolan rakyat.

Sosok pemimpin yang dirindukan atau dinantikan semestinya adalah  figur yang mampu “membebaskan dan menyelamatkan” berbagai keterpurukkan, menciptakan keadilan dan kesejahtraan umum. Harapan ini akan berjalan ditempat bila saja rakyat bersikap pasif saat pesta demokrasi dan tidak menempatkan hati nurani sebagai sumber keputusan dalam menentukan pilihan setiap Pilkada. Dalam fungsi kontrol publik, besar harapannya agar kesempatan pilkada atau pemilihan umum sebagai langkah tepat untuk mengevaluasi program dan kiprah politik setiap figur, mengkiritisi segala isu-isu sosial dan mengafirmasi kebenaran setiap isu-isu negativ langsung kepada sumber terpercaya sebelum mengambil sikap dan kesimpulan yang justru mengkrisiskan daya kritis dan melemahkan hati nurani.

Keberanian untuk mengkritisi dan mengevaluasi program dan kiprah politik setiap figur adalah langkah awal untuk melahirkan pemimpin yang berintegritas dan berkehendak baik dalam memperjuangkan kesejahteraan umum. Kesejatraan umum dan keadilan sebagai tujuan luhur proses demokrasi akan terus “membeku” bila saja rakyat tidak terus memanaskannya melalui keterlibatan aktif dalam mengkritisi segala visi dan misi para calon dan aktif menjadi pribadi yang menolak money politic, baik secara pribadi maumpun secara kelompok, agar “terlahirnya” pemimpin yang berkuliatas dalam hal iterigritas, visioner, manajerial, dan hal lainya yang dapat membangkitkan seluruh rakyat dari semua keterpurukkan. Menilik segala situasi dan fakta dilingkungan sekitar, mengafirmasi seluruh realitas sebagai sumber kebenaran yang keras dalam menentukan keputusan agar terwujudnya pemimpin yang bersih-keras memperjuangkan kesejahteraan rakyat, dan melalui demokrasi adalah pilihan terbaik untuk mencapai kesejahteraan. Pater Oto Gusti Madung dalam bukunya berjudul Post-Sekularisme Toleransi dan Demokrasi (2017:151) menekankan agar kesejahteraan dipahami tidak terbatas pada terpenuhnya kebutuhan material, tetapi meluas pada aspek kebahagian, kebebasan, pengakuan, kesetaraan, rasa aman, dan lain-lain, semua hal ini terwujud bilamana publik berpatisapasi dalam demokrasi sebagai bentuk kontrol publik sehingga meminimalisir penyelewengan kekuasan.

Keterlibatan publik yang kritis pada proses Pilkada sangat dibutuhkan, sehingga pilkada tidak sebatas seremoni rutunitas untuk mengantikan pemimpin yang dilaksanakan sekali dalam lima tahun, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai momentum evaluasi-kritis untuk memilih figur  yang berintegritas, jujur, dan visioner, bersih, murni prorakyat, tegas menentang korupsi, tegas menetang politik patronase (politik balas budi), dan tegas mewujudkan pemerintahan yang transparan, dengan berpayung pada pancasila dan UUND 1945.

Sosok pemimpin seperti ini akan “lahir” dari rakyat yang berani melakukan resolusi diri sebagai hasil pertimbangan kritis yang kemudian menjadi kebranian yang tegas melakukan revolusi diri sendiri, baik sebagai pengungkapan nilai pertobatan dan ibadah mupaun sebagai gerakkan batin-spritual menyambut tahun 2021 dengan sadar dan sengaja menolak segala politik uang dan mengutamakan daya kritis dalam menentukan pilihan. Tentu resolusi dengan sebagai buah dan  kekuatan dari nilai-nilai pertobatan itu mengajarkan kita tentang kebenaran yang keras. Disesuaikan dari gagasan John Avanzini dalam bukunya Rich God Poor God bahwa kebenaran keras adalah kejujuran terhadap segala keadaan dan situasi yang dialami, baik itu tentang kemiskinan, ketidakadilan, ketidakjujuran, dan penderitaan. Kenyataan itu sebagai sumber keputusan otonom.

Keputusan hati yang bebas untuk menentukan pilihan, bersikap jujur dengan suara hati, memilih bukan karena diintimidasi atau tidak mengintimidasi untuk memilih calon tertentu, menolak dan menentang politik uang atau tidak membagikan uang untuk membeli suara adalah salah satu hal konkrit yang dapat dilakukan di masa adven ini. Sikap dan tindakkan ini melahirkan dua makna sekaligus yaitu pertama: makna Teologis. Oleh kesadaran iman dan tanggungjawab sebagai insan beriman tindakkan memilih berdasarkan suara hati dan jujur dengan diri sendiri tentang realitas yang ada adalah bagian dari tindakan rekonsiliasi dan sedang mengasah hati nurani untuk terbuka pada yang benar dan mengarah pada kebajikan. Rekonsiliasi yang lahir dari dalam diri dinyatakan dalam tindakkan adalah bagian dari mempersiapkan diri menyambut Sang Juru Selamat. Kedua. Makna Sosial. Keputusan bebas tanpa diitimidasi atau mengintimidasi untuk memilih pemimpin adalah bagian dari ibadah untuk melahirkan pemimpin yang beritegritas yang dapat membebaskan pemilih dari ketidakadilan dan kesejengangan sosial. Sikap pemilih yang jujur dan menolak segala bentuk politik uang adalah tindakan menyosong pemimpin yang beritegritas, jujur, dan visioner. Oleh sikap-sikap tersebut umat beriman sedang mempersiapan diri menyambut keselamatan yang akan datang (eskatologis) yang terjadi dan diusahakan hari ini, di sini.

Nilai-nilai iman dan buah-buah pertobatan diwujudkan dalam sikap dan tindakan. Buah rekonsiliasi yang kemudian menjadi resolusi diri  menyambut Sang Juru Selamat sebagai pemimpin surgawi, memilih pemimpin duniawi, dan menyambut tahun 2021 dengan berkomitmen merubah cara hidup lama, cara berpandangan yang lama, cara mengambil keputusan yang merugikan diri sendiri dan orang lain adalah bagian dari ibadah yang dinyatakan dalam sikap dan tindakkan (revolusi diri)

Alhasil figur pemimpin yang keluar sebagai pemenang pada pemilihan kali ini harus mampu menjadi pelayan. Pelayan yang memberikan “kesemalatan” kepada semua rakyat. Selamat dari kemiskinan, selamat dari ketidakadilan, selamat dari ketertinggalan dan kesenjangan ekonomi dan pembangunan, selamat dari krisis indentitas, selamat dari kekerasan dan intimidasai. Sebab dirinya dipilih oleh rakyat bertepatan dengan masa penantian Sang Penyelamat, Yesus Kristus, maka pemimpin yang terpilih harus menjadi figur yang dapat memberikan harapan kesejahteraan dan keadilan kepada rakyatnya, mengutamakan prisip melayani bukan dilayani; dan menjadi pemimpin yang memiliki resolusi yang berprikemanusiaan dan keadilan yang merata, yang diejawantahkan dalam program-program kerja. Semoga.

***

Feliks Hatam; Peminat Isu Sosial Budaya; Alumni Teologi Unika Santu Paulus Ruteng;  Pegawai UNIKA Santu Paulus Ruteng

Manggarai, Flores, NTT

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *