Renungan Hari Minggu Biasa  Ke-4: “Mataku Telah Melihat Keselamatan”

Pesta Yesus Dipersembahkan Dalam Bait Allah.

Bacaan : Mal.3:1-4; Ibr. 2:14-18; Luk.2:22-40  (Thn. A)

 

Injil hari ini; Yesus, merupakan Persembahan Sulung bagi Allah. Sebagaimana keluarga Yahudi lainnya, keluarga Yusuf pun melakukan peraturan tersebut dalam diri Yesus. Ia disunat dan diberi nama Yesus—sesuai dengan nama yang ditetapkan oleh malaikan Tuhan pada usia delapan hari, lalu ditahirkan. Menurut peraturan Taurat, Yesus harus dibawa ke Yerusalem untuk ditahirkan dan diserahkan kepada Tuhan dalam persembahan anak sulung. Semua peraturan itu selain baik dan berguna untuk kebaikan umat Israel sendiri, juga merupakan bagian dari pengakuan mereka sebagai umat perjanjian, milik Allah sendiri.

Yesus Kristus diutus Allah ke dalam dunia, menjadi manusia untuk menggantikan sekaligus menyelamatkan manusia berdosa dari hukuman. Sebagai orang Yahudi kebanyakan, Yesus pun menaati tuntutan Taurat: disunat, dan dipersembahkan sebagai anak sulung kepada Tuhan. Akan tetapi, Dia juga adalah anak Sulung Bapa, menjadi manusia, lalu dipersembahkan sebagai anak sulung manusia. Semua itu rela dijalani-Nya supaya Dia dapat mengambil bagian dalam kutukan keberdosaan manusia, dan agar manusia lainnya diluputkan dari kutukan itu.

Yusuf dan Maria menjalankan tanggung jawab sebagai orang-tua di hadapan Tuhan (21-24). Tanggung jawab ini mengungkapkan makna iman serta kepatuhan orang-tua atas apa yang telah difirmankan dan ditetapkan Tuhan. Peristiwa di Bait Allah mempertegas fakta sejarah tentang kelahiran Yesus. Dilihat dari sisi empat orang yang terkait yaitu Yusuf, Maria, Simeon, dan Hana, peristiwa itu mempunyai makna yang lain. Bagi Simeon dan Hana peristiwa itu merupakan penghiburan luar biasa yang Allah sediakan di hari tua mereka, karena diizinkan melihat penggenapan janji keselamatan dari Allah. Bagi Yusuf dan Maria peristiwa itu merupakan persiapan yang Allah lakukan, agar mereka siap menghadapi masa-masa sulit di masa mendatang.

Orang-orang yang menerima Yesus bukanlah orang-orang kaya atau berkuasa. Allah justru memanggil mereka yang miskin dan tidak memiliki kekuasaan duniawi yang mempasrahkan hidup mereka sepenuhnya kepada belas kasih Allah, kaum anawim! Yusuf si tukang kayu dari Nazaret dan Maria, istrinya yang muda belia, demikian pula Simeon dan Hana, para “lansia” yang telah melayani YHWH-Allah dengan setia sepanjang hidup mereka.

Peristiwa “Yesus dipersembahkan di Bait Allah” ini pun mengingatkan kita akan kisah Hana yang mempersembahkan Samuel kepada Eli, imam di tempat ibadat di Silo. Eli merupakan pralambang dari Simeon dan Hana Perjanjian Lama merupakan pralambang dari Hana dalam bacaan Injil hari ini. Hana dan Simeon merupakan orang-orang yang rendah hati yang menyambut kedatangan dan menerima Yesus di Bait Allah. Para pemimpin agama Yahudi pada waktu itu tidak dapat mengenali siapa Yesus, namun tidak demikian halnya dengan dua orang tua suci yang memiliki kerendahan hati, dan hati mereka  yang memang terbuka itu. Mereka justru mengenali siapa Yesus sebenarnya.

Mempersembahkan anak kepada Tuhan, berarti mengakui bahwa Tuhan itu pemilik kehidupan dan pemberi kesuburan. Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah harus menyadarkan kita akan anugerah kehidupan yang lebih besar lagi, yakni panggilan kita menjadi Kristen. Kita telah menjdi Kristen karena Yesus. Dia anugerah yang paling besar yang diberikan Allah kepada kita.

Simeon yang penuh Roh Kudus ini memberkati keluarga kudus sambil berkata kepada Bunda Maria: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” (Luk 2:34-35). Ini adalah kata-kata yang tidak hanya membawa sukacita bagi Maria tetapi juga duka cita baginya. Maria menyimpan segala perkara di dalam hatinya.

Di samping Simeon, Hanna juga mendapat panggilan istimewa untuk menanti kedatangan Tuhan. Ia datang ke Bait Allah untuk bersyukur kepada Tuhan Allah dan berbicara tentang bayi Yesus kepada semua orang yang menanti kelepasan bagi Yerusalem. Simeon dan Hanna adalah kedua pribadi yang hingga usia senja juga mempersembahkan diri mereka untuk melayani Tuhan. Mereka tidak mengeluh ketika melayani di dalam Bait Suci.

Pada hari ini kita kita diundang untuk membuka mata dan melihat keselamatan dalam diri Yesus Kristus, yang sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Kita belajar dari keluarga kudus yang mempersembahkan bayi Yesus kepada Tuhan Allah di bait Suci Yerusalem. Kita mendoakan keluarga-keluarga supaya mempersembahkan anak-anak kepada Tuhan. Belajar menderita seperti Maria. Ia memiliki duka tertentu karena mengasihi Yesus Putranya.

Kita belajar dari Maria dan Yusuf yang mempersembahkan Yesus Putranya kepada Tuhan. Kita belajar dari Simeon dan Hanna yang membaktikan dirinya siang dan malam di dalam bait Suci. Ini contoh orang yang memiliki komitmen penuh dalam pelayanan. Apakah kita sungguh-sungguh mempersembahkan diri untuk melayani Tuhan dan sesama. Kita harus membuka mata rohani dan jasmani untuk melihat keselamatan yang datang dari Allah kita.

Kita juga diundang untuk senantiasa mempersembahkan diri kita, keluarga kita, karya-karya kita. Mempersembahkan diri juga berarti menguduskan. Kita semua sedang mengusahakan pengudusan diri. Seperti yang diwartakan Paulus bahwa bersama dengan saudara seiman, kita didorong untuk mengikuti jejak Kristus untuk mencapai kekudusan (lih. 1 Tes 4:7).

Belajar dari Simeon dan Hana, agar kita selalu memiliki kegundahan (keinginan yang besar, komitmen yang kuat) untuk berjumpa, menyambut dan mengakui Yesus Sang Mesias yang dijanjikan itu.

 

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Tolonglah kami agar memiliki kerendahan hati agar dapat memandang-Mu ketika Engkau hadir di tengah-tengah kami, sehingga kami pun boleh berkata, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hambamu ini pegi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu”. Amin

 

**********

Rm. Fransiskus Emanuel da Santo,Pr; Sekretaris Komkat KWI, Jakarta

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *