Pada tanggal 2 – 3 Mei 2019 Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Kemendiknas menyelenggarakan Rapat Kerja untuk membahas evaluasi dan membuat Kajian Struktur Kurikulum 2013. Kegiatan ini dilaksanakan di gedung kantor Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat.
Peserta yang hadir terdiri dari wakil lembaga pengembang kurikulum, praktisi pendidikan, guru, dan dosen Perguruan Tinggi. Raker kali ini khusus untuk mengevaluasi dan mengkaji serta menyusun draft struktur kurikulum Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, PPKn, Matematika, Bahasa Asing (Perancis, Jerman, Mandarin, Jepang, Arab, Korea) dan Indonesian Studies untuk sekolah Internasional. Bp. Daniel Boli Kotan, staf Komkat KWI hadir mewakili Komkat KWI sebagai Lembaga penanggungjawab pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti bersama Bp. Matehus Beni Mite dari unsur Perguruan Tinggi yaitu dari Unika Atma Jaya Jakarta.

Adapun kerangka kerja peserta raker selama dua hari penuh adalah 1) mengalisis Kebutuhan untuk menemukan “gap”: antara hal (kurikulum) yang ideal (seharusnya) dengan realitas (kondisi riil) atau aturan dengan penerapan atau rencana dengan realisasi. 2) Penyusunan Rancangan Program/desain/perencanaan yang dapat menjadi solusi dari permasalahan yang ditemukan pada butir 1. 3) Menerapkan apa yang direncanakan dalam program/desain yang meliputi siapa yang melakukan apa, dan dengan cara bagaimana? 4) Memantau apakah pelaksanaan butir 3 sesuai dengan rencana dan mengukur seberapa tujuan tercapai (berdasar indikator). Data yang diperoleh dianalisis sebagai bagian dari evaluasi. 5) Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi, diperoleh kesimpulan dan rekomendasi untuk perbaikan program berikutnya.

Untuk kelompok mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, peserta juga mendapatkan pemaparan hasil penelitian dari lembaga riset Universitas Islam Negeri Jakarta terkait antara lain mengenai konten buku-buku teks pelajaran Agama Islam berdasarkan Kurikulum 2013. Ada beberapa catatan mengenai konten tentang kerukunan hidup antar sesama anak negeri. Singkat kata bahwa isi atau konten mata pelajaran agama dan budi pekerti hendaknya membangun persaudaraan sejati. Temuan-temuan dalam hasil riset UIN Jakarta ini menjadi refleksi juga untuk agama-agama non muslim untuk melihat kembali kedalam pelajaran agamanya sendiri, adakah tulisan pemikiran yang kurang pas sesuai konteks Indonesia yang majemuk atau pluralistik ini. (Daniel B.Kotan).


kenapa sejarah Indonesia tidak ada di kelas 11 dan 12 pak ?
Selamat pagi bapak/ibu Erbit..
Di sini hanya membahas pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti.
Untuk pelajaran sejarah Indonesia terntu bukan di sini tempatnya.
Terima kasih dan salam,
Daniel Boli Kotan
Untuk PAK SMP dan SMA kontennya sudah bagus terutama yang menyangkut tentang pluralitas. Kami perhatikan untuk Pend, Agama Islam tentang pluralitas memang belum memadahi, itu bisa kita lihat dalam penilaian sikap spiritualnya.
Selamat malam pak Yakobus…terima kasih untuk apresiasinya…Pendidikan Agama Katolik dari PAUD sampai Perguruan Tinggi selalu menekankan kebersamaan dalam persaudaraan sejati, antara lain dengan mengakui dan menghargai pluralitas dan keberagaman dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa Indonesia khususnya.