Renungan Hari Raya Kamis Putih: Mencuci Kaki

Yesus-membasuh-kaki-murid-murid-Nya.jpg

Bacaan I : Kel 12:1-8.11-14
Bacaan II : 1 Kor 11:23-26
Bacaan Injil : Yoh 13:1-15

Berabad-abad lampau memerintahlah di Persia seorang raja yang baik dan bijaksana. Ia ingin mengetahui bagaimana rakyatnya hidup, kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Terkadang ia berpakaian seperti seorang pekerja atau pengemis dan berjalan-jalan ke rumah orang-orang yang melarat hidupnya. Tidak ada seorang pun dari mereka yang dikunjunginya menaruh curiga bahwa dialah orang yang memerintah mereka.

Suatu ketika ia mengunjungi seorang pria yang amat melarat hidupnya dan tinggal di dalam sebuah gua. Ia makan makanan mentah yang dimakan pria itu. Ia berbicara dengan ramah dan menggunakan kata-kata yang membangkitkan kegembiraan dan kegairahan dalam hati pria itu. Kemudian, ia meninggalkan tempat itu. Beberapa lama kemudian, ia mengunjungi pria miskin itu lagi dan berkata kepadanya dengan terus terang, “Aku adalah rajamu”.

Alangkah terkejutnya pria miskin itu! Raja berpikir bahwa orang miskin itu pasti akan meminta sesuatu hadiah atas kebaikan hatinya. Tetapi ternyata tidak. Ia malah berkata, “Yang Mulia, engkau meninggalkan istanamu dan kemuliaanmu untuk mengunjungi aku dalam gua yang gelap ini, tempat yang kotor. Engkau makan makanan mentah yang kumakan. Engkau membawa suka cita ke dalam hatiku. Kepada orang-orang lain engkau telah memberikan hadiah-hadiah mewah. Kepadaku engkau telah memberi dirimu sendiri.”

Raja itu memang sudah memberikan dirinya seutuh-utuhnya kepada rakyatnya yang paling jelata. Ia rela menjadi jelata untuk menunjukkan bahwa dia begitu mencintai mereka. Kedudukan dan status tidak dihiraukannya lagi…
***

Dalam Injil hari ini kita melihat bagaimana Yesus yang adalah Tuhan dan Guru rela menjadi pelayan dan hamba bagi murid-muridNya dengan mencuci kaki mereka.
Ketika Yesus bersama rasul-rasulNya naik ke Yerusalem untuk merayakan Paska, di tengah jalan murid-muridNya pernah bertengkar mengenai siapakah yang terbesar di antara mereka. Yesus tidak mau menanggapinya secara sungguh-sungguh. Pada Perjamuan Malam Terakhir baru Ia mengajarkan kepada mereka mengenai soal itu, ketika Ia mencuci kaki mereka. Dengan itu Ia mau katakan bahwa yang terbesar di antara mereka ialah dia itu yang paling kecil, paling rendah hati, paling mengabdi dan paling mengasihi sesama. Yang terbesar ialah yang rela jadi pelayan dan jadi hamba untuk sesama. Dan itu ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Dan Ia berkata: “Kalau Aku Tuhan dan Gurumu sudah membasuh kakimu, kamu pun harus membasuh kaki sesamamu”.

Sesudah Yesus mencuci kaki murid-muridNya Ia langsung melanjutkannya dengan mengadakan perjamuan malam terakhir di mana Ia menyerahkan diri-Nya seutuh utuhnya dalam rupa roti dan anggur. Kedua peristiwa ini secara radikal mau menunjukkan penyerahan diri Yesus yang bulat dan ikhlas kepada kita.

***
Peristiwa mencuci kaki para rasul dan penyerahan diri Yesus secara utuh dalam rupa roti dan anggur, kita ulangi lagi pada malam ini. Semoga upacara ini tidak sekedar upacara ritual tanpa makna. Pada malam ini pastor sebagai pemimpin paroki mencuci kaki dua belas orang, wakil-wakil umatnya. Dua belas itu menunjukkan genap, penuh, yang berarti pastor sebenarnya mencuci kaki seluruh umatnya. Sebenarnya pada malam ini bukan hanya pastor mencuci kaki umatnya, tetapi semua pejabat katolik mencuci kaki rakyatnya, semua majikan mencuci kaki buruh dan karyawannya, semua orang tua mencuci kaki anak-anaknya. Kita semua dipanggil oleh Tuhan dan sang Guru untuk menjadi pelayan bagi sesama . Kebesaran seorang kristiani terletak pada pelayanan, bukan pada kekuasaan.

Pada abad XIII pernah hidup seorang uskup bernama Paulinus, uskup dari Nola, suatu tempat di Italia. Dan pada saat itu bangsa Vandal dari Afrika Utara menyerbu Italia dan menawan banyak orang Italia ke Afrika. Uskup Paulinus berusaha untuk menebus umatnya yang ditawan satu per satu. Segala kekayaan keuskupan dijualnya. Dan ketika miliknya sudah habis, ia sendiri dengan menyamar pergi ke Afrika Utara dan rela menjadi hamba dan tawanan untuk menggantikan putera seorang janda dari keuskupannya yang masih tertawan. Walaupun dalam keadaan menyamar, akhirnya raja Vandal mengenal uskup Paulinus. Raja itu sangat terkesan. Ia menghantar pulang uskup Paulinus bersama semua orang Nola yang masih tertawan ke Italia.

Ceritera yang mengharukan. Seorang pemimpin yang sangat mencintai umatnya. Ia telah menjadi hamba dan tawanan untuk umatnya. Uskup Paulinus mengerti baik sekali ajaran gurunya, Yesus Kristus.

Sumber: Buku Homili Tahun B, Komkat KWI, ditulis oleh Rm. Yosep Lalu, Pr,

2 thoughts on “Renungan Hari Raya Kamis Putih: Mencuci Kaki

    • Daniel Boli Kotan says:

      Selamat paskah pak Yano..Boleh bergabung di website Komkat KWI untuk saling berbagi informasi seputar katekese.
      Salam sehat selalu, Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan ke Daniel Boli Kotan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *