Komisi Kateketik KWI bekerja sama dengan Komisi Kateketik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menyelenggarakan workshop sehari tentang “Katekese Digital”, pada Minggu 14 Juni 2015 di Aula Sidang kantor KWI, Jakarta. Lebih dari seratus orang katekis atau pewarta, yang diutus dari paroki-paroki se- KAJ, serta dari kelompok kategorial Women Gospel yang sekaligus terlibat dalam kepanitiaan workshop ini. Narasumber workshop adalah, bp. Purwono Adhi, dan RD. FX. Sugiyana, Pr dari Komkat KAS, anggota tim penulis buku Komkat KWI “Hidup di Era Digital”.
Workshop diawali dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh RP. Leo Sugiyono, MSC (Sekretaris Komkat KWI), didampingi RP. FX. Adisusanto, SJ, RD. V. Rudy Hartono, Pr (Ketua Komkat KAJ) dan RD FX. Sugiyana, PR (Ketua Komkat KAS).
Dalam sambutannya, RP. Leo Sugiyono menandaskan bahwa pengaruh teknologi digital telah menyentuh sendi-sendi kehidupan orang zaman sekarang, sehingga digital tidak hanya lagi menjadi sarana tetapi sungguh sudah menyatu dengan hidup kita setiap hari. Demikian juga hidup umat beriman di era digital ini tidak lepas dari pengaruhnya. Di tengah budaya digital, para sie katekese paroki diutus untuk dengan cara yang tepat mendampingi dan membina umat beriman di lingkup wilayah rohani; lingkungan, paroki atau sekolah. Melalui pendampingan dan pembinaan itu, umat diharapkan dapat secara secara cerdas dan bijak menemukan dan mendengarkan Tuhan yang bersabda di tengah kehidupan yang ditandai budaya digital. Sementara RD. Rudy Hartono, Pr (Ketua Komkat KAJ) menekankan bahwa, bagi kita para pewarta, era digital merupakan tantangan tersendiri. Katekese di era digital harus menjadi orientasi penting bagi sarana pewartaan kita. Zaman terus bergerak maju melampaui batas perbedaan-perbedaan yang ada. Jikalau katekese tidak menyesuaikan diri, kendati bukan terbawa arus, maka karya katekese kita tidak akan berkembang mengikuti zamannya.
Pada sessi pertama, RD. FX. Sugiyana, Pr menghantar peserta masuk kedalam kegiatan workshop dengan mengajak mereka melihat latarbelakang kegiatan ini yaitu dari hasil Pertemuan Komisi Kateketik se-Indonesia ke Sepuluh (PKKI-X) di Bandung serta himbauan apostolik para Paus yang biasa disampaikan pada hari peringatakan Komsos sedunia, khususnya sejak Paus Yohanes Paulus II hingga Paus sekarang. Selanjutnya Bp. Purwono menjelaskan tentang karakteristik Era Digital dan bagaimana Berkatekese di Era Digital.
Pada sessi kedua, para peserta masuk dalam kelompok-kelompok untuk mempraktikkan katese digital. Panitia membagi peserta dalam sembilan kelompok sesuai 9 tema modul dalam buku Hidup di Era Digital. Sebelum masuk dalam proses katekese, RP. Sugiyana, PR menjelaskan langkah-langkah teknis dalam berkatekese dengan model katekese umat. Nampkanya para peserta sangat antusias dalam sharing kelompok katekese. Ada peserta yang merasakan dampak media digital ini dalam kehidupan keluarga. Selain sebagai berkat bagi kehidupan manusia, media digital ini dapat menjadi bencana bagi anggota keluarga. Karena itu, kita sebagai manusia yang dianugerahi akalbudi harus dapat menggunakan media digital secara bijaksana. Hal yang harus tetap diperhatikan oleh setiap anggota keluarga Katolik adalah doa. Doa, menurut para peserta katekese digital ini tetap menjadi power utama, sebagaimana yang diajarkan dan dipraktikan oleh Yesus sendiri. Maka kita perlu punya waktu hening untuk berdoa, meski hidup dalam kegaduhan atau keramaian kota metropolitan Jakarta. Dalam kaitan dengan saat hening, ada peserta yang sudah mencoba berkali-kali namun belum berhasil karena selalu diganggu oleh gadget yang selalu melekat pada dirinya. Meski demikian ada seorang ibu yang mencari waktu hening di kantor dengan konsekuensi harus datang pagi-pagi sebelum rekan kerja lainnya datang. Ia mengunci diri dalam kamar kerjanya, mematikan gadgetnya kemudian berdoa. Hal ini sudah dilakoninya bertahun-tahun.
Acara workshop diakhiri dengan evaluasi peserta terhadap kegiatan ini. Rata-rata mereka mengalami hambatan untuk membuka youtube dalam proses katekese. Youtube tersebut ada dalam modul katekese pada buku Hidup di Era Digital”. Selain kesulitan secara teknis, juga dikatakan pemandu katekese belum terlalu siap atau merasa grogi. Pada umunya para peserta merasa sangat penting untuk memahami filosofi katekese digital dan berharap dapat menjadi fasilitator dalam berkatekese. Bagaimanapun zaman terus berubah, dan kitapun ikut berubah didalamnya termasuk dalam hal berkatekese. Sebagaimana ajaran para Bapak Suci, khususnya sejak Paus Yohanes Paulus II hingga Paus Fransiskus saat ini tentang komunikasi sosial dalam hal ini menggunakan media digital, para katekis dan umat katolik pada umumnya hendaknya dapat menggunakan media digital sebagai sarana pewartaan, selain sebagai sarana untuk merekatkan persaudaraan antara sesama manusia ciptaan Tuhan. Sebagai hadiah hiburan bagi para peserta, panitia dari Women Gospel – KAJ mengadakan door prize berupa dua buah smartphone (HP) samsung. Selain hadia utama itu, ada pula hadiah berupa buku rohani dari RD. FX. Sugiyana untuk katekis dengan kategori memiliki jam terbang paling lama di KAJ. Ternyata ada satu katekis, peserta workshop yang sudah berkarya di KAJ sejak tahun 1968 silam, maka dialah yang berhak mendapatkannya. (Daniel Boli Kotan).

