Bacaan I : Ul 4:32-34.39-40
Bacaan II : Rm 18:14-17
Bacaan Injil : Mat 28:16-20
Ajaran iman kita mengajarkan bahwa ada satu Allah, tetapi tiga pribadi. Tentu saja ajaran iman ini tak dapat kita pahami. Ia merupakan satu misteri. Namun ada satu hal yang dapat kita rasakan yaitu bahwa kalau satu Allah itu sungguh tiga pribadi, maka Allah itu pasti tidak kesepian. Di dalam Allah yang satu itu pasti ada relasi dan komunikasi antara tiga pribadi yang sangat mesra dan intensif. Dan relasi serta komunikasi ini adalah relasi dan komunikasi kasih. Tiga pribadi dalam kekhasan-Nya masing-masing berada dalam suatu komunikasi dan dialog yang sekian mendalam, sehingga sungguh bersama-sama membentuk satu Allah, satu Pencipta langit dan bumi. Allah Tritunggal merupakan suatu komunikasi dan dialog cinta yang sungguh membahagiakan, di mana Allah merasa puas secara mendalam sampai keabadian, melampaui ruang dan waktu.
Namun relasi dan komunikasi kasih antara tiga pribadi itu bukanlah komunikasi kasih yang tertutup. Dalam kebahagiaan yang mendalam karena relasi kasih itu, Allah secara bebas mengambil keputusan untuk berdialog dengan yang di luar diri-Nya. Karena relasi kasih-Nya dengan yang di luar diri-Nya, maka Allah menciptakan alam semesta khususnya manusia sebagai makhluk yang bisa turut serta dalam relasi, komunikasi dan dialog cinta dengan sadar dan secara suka rela.
Manusia diciptakan oleh Allah serupa dengan diri-Nya. Allah adalah Tritunggal yang berada dalam komunikasi kasih yang mendalam. Maka manusia hendaknya menjadi makhluk yang sanggup berkomunikasi. Berkomunikasi dengan Allah, tetapi juga berkomunikasi dengan sesamanya. Hanya dalam komunikasi itu manusia akan bisa menemukan dirinya dan merasa bahagia.
Pertama: Berkomunikasi kasih dengan Allah, St. Agustinus sudah pernah berkata bahwa hati manusia tidak akan tenteram sebelum ia bersatu dengan Allah. Hanya dalam persatuan dengan Allah manusia menemukan dirinya dan merasa bahagia.
Suatu ceritera mistik mengumpamakan manusia itu sebagai boneka garam dan Tuhan Allah sebagai sang Laut. Sesudah payah mengembara ke mana-mana, akhirnya si boneka garam itu sampai di suatu tepi laut. Ia begitu kagum kepada laut yang maha luas dan bertanya kepada laut: “Siapakah kau?”. Dan laut menjawab: “Masuklah, kau pasti akan tahu!” Ketika boneka garam itu masuk ke laut, ia melarut menjadi satu dengan laut. Pa saat itu ia merasa begitu bahagia dan berseru: “Ah sekarang saya tahu siapakah aku!!”
Boneka garam itu akhirnya bukan saja tahu siapa itu sang Laut, tetapi juga ia menjadi tahu siapa sebenarnya dirinya!!
Sungguh hanya dalam komunikasi dan persatuan dengan Tuhan manusia akan menemukan dirinya dan merasa bahagia!. Allah Tritunggal adalah Allah yang menawarkan persahabatan kepada kita, yang mengundang kita untuk turut serta didalam hubungan akrab penuh cinta yang berlangsung di antara pribadi-pribadi ilahi. Bila kita membuka hati dan mulai turut serta di dalam dialog itu, maka kita bisa berkembang dengan baik, kita menjadi manusia yang matang dan menjadi air yang menyegarkan bagi sesama, karena kita menjadi sanggup menaruh perhatian bagi sesama dan kebutuhannya.
Kedua: Komunikasi kasih dengan sesama. Sudah menjadi ketentuan alami bahwa manusia itu hanya dapat berkembang dalam komunikasi dengan orang lain. No man is an island!! Kalau kita memperhatikan kehidupan kita sebagai manusia, maka kita bisa lihat, bahwa kita memang membutuhkan komunikasi cinta dan perhatian dari orang lain sejak kita lahir. Kita membutuhkan komunikasi cinta dan perhatian dari orang tua kita, dari keluarga dan lingkungan dalamnya kita hidup. Bila kita mendapat perhatian dan penghargaan maka kita bisa berkembang dengan baik dan sebaliknya bila kita kurang mendapat perhatian dan sapaan, maka bisa menjadi bencana bagi kita di kelak kemudian hari.
Diceriterakan bahwa ada seorang pemuda berdiri di hadapan seorang hakim, menunggu putusan pengadilan atas kejahatan yang telah dibuatnya. Hakim itu adalah teman dari ayahnya. Ayahnya adalah seorang pakar hukum yang terkenal, menulis banyak buku tentang hukum.
Hakim itu dengan suara keras berkata kepada pemuda itu: “Orang muda, ingatkah kau kepada ayahmu yang telah engkau permalukan?” Pemuda itu dengan tenang menjawab: “Saya ingat dia dengan baik sekali. Setiap kali saya datang untuk berkomunikasi dengannya, meminta nasehat dari padanya, dia selalu berkata: pergi kau, saya sedang sibuk menulis. Ayahku telah menulis buku-buku hukumnya yang termasyur….dan sekarang saya berada di gedung pengadilan ini!”
Komunikasi dan sapaan penting dalam hidup manusia. Ia membuat manusia bertumbuh dan berkembang! Komunikasi itu bersifat menciptakan, seperti Allah Tritunggal yang berkomunikasi dengan dunia dan manusia dalam karya menciptanya yang tetap aktual!.nn
Sumber: Buku Homili Tahun B by Rm. Yosep Lalu, Pr – diterbitkan oleh Komisi Kateketik – KWI.

