Bacaan I : Kis 1:15-17.20a.20c-26
Bacaan II : 1 Yoh 4:11-16
Bacaan Injil: Yoh 17:11b-19
Banyak kali orang berpikir bahwa untuk menjadi orang yang kudus orang harus menjauhi dunia. Memang ada masanya dalam sejarah gereja, di mana orang beramai-ramai meninggalkan dunia, masuk padang gurun untuk menjadi pertapa. Menjadi martir putih. Mati dari dunia. Sesudah Konsili Vatikan II, sejalan dengan visi gereja sebagai sakramen keselamatan dunia, orang mulai menyadari bahwa kekudusan itu justru dapat kita wujudkan melalui komitmen kita kepada dunia, melalui keterlibatan kita di dalam dunia. Kita hendaknya menjadi terang dan garam bagi dunia.
Di suatu sekolah siswa-siswi SD kelas VI diminta oleh gurunya untuk membuat suatu karangan tentang seorang misionaris yang suci. Seorang siswa berusia 12 tahun menulis sebagai berikut: Ketika guru meminta kami murid-murid SD kelas VI untuk menulis tentang seorang misionaris yang suci aku teringat akan St. Fransiskus Xaverius, ibu Teresa dari Kalkuta……dsbnya. Namun aku tidak terlalu mengenal mereka, sehingga sulit untuk menuliskan tentangnya. Namun ada seorang yang aku kenal sangat baik dan yang amat aku kagumi ialah ibuku. Mungkin dia juga adalah seorang misionaris yang suci. Mungkin kedengarannya agak ganjil, tetapi bukankah untuk menjadi seorang suci dan seorang misionaris orang tidak harus ditahbiskan dan mengucapkan kaul-kaul?? Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga. Ia adalah ibu bagiku dan semua anggota keluargaku. Ibu tidak selalu berpikir tentang dirinya sendiri, lebih banyak ia berpikir tentang kami. Ia senantiasa mengutamakan kami. Saya tidak pernah kelaparan, tidak pernah luput dari perhatian dan kasihnya yang tulus dan abadi. Dan seperti para suci dan misionaris, ibuku memiliki sejumlah keunggulan. Ia sebenarnya dapat dengan mudah pergi ke tempat senam kebugaran atau mengunjungi teman-temannya dan meninggalkan aku sendiri, tetapi dia tidak pernah lakukan itu. Ia banyak berkorban demi aku. Ia selalu memikirkan aku sebelum dirinya sendiri. Aku sangat beruntung memiliki seorang ibu, yang seluruh diri dan waktunya diabdikan untuk aku. Bukankah ia seorang misionaris yang suci bagiku?
Musti dikatakan bahwa seorang ibu rumah tangga katolik yang sungguh mengabdikan seluruh diri dan hidupnya untuk keluarga, ia sungguh seorang kudus, seorang rasul dan seorang misionaris. Demikian juga dengan seorang polisi, seorang camat, seorang pedagang katolik yang sungguh mengabdikan diri bagi masyarakat secara jujur dan tulus, ia sungguh seorang kudus, rasul dan misionaris dalam tata dunia……….
***
Dalam Injil hari minggu ini kita memang mendengar Yesus berdoa supaya kita dikuduskan oleh Bapa di Surga: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran”. Tetapi Yesus juga berdoa: “Bukan supaya Engkau mengambil mereka dari dunia ini”.
Orang yang percaya kepada Kristus, dikuduskan dalam diri-Nya. Tetapi “pengudusan” yang demikian tidak memisahkan manusia dari manusia lain dan tidak mengambil dia dari dunia ini. Malahan pengudusan itu kehilangan artinya, kalau orang-orang kristen tidak memandang dirinya sebagai orang-orang yang “diutus”, orang-orang yang harus “masuk” ke dalam dunia seperti Kristus sendiri, walaupun mereka sendiri tidak termasuk kalangan dunia. Memang suatu tugas yang tidak ringan bahwa mereka yang tidak termasuk kalangan dunia tetapi diutus dan tidak boleh dipisahkan dari dunia. Tidak heran kalau mereka akan menjadi sasaran kebencian dunia, karena firman Tuhan yang mereka bawakan tidak selalu cocok dengan kehendak dunia.
***
Kiranya jadi jelas untuk kita bahwa “pengudusan” dan “pengutusan” merupakan pengungkapan yang berbeda dari kenyataan yang sama. Itu berarti tidak ada orang suci yang tidak diutus dan masuk dunia ini. Dengan kata lain: Bukanlah suci kalau kita memisahkan diri dari dunia dan sesama!!
Ada seorang pejabat pemerintah yang bercita-cita menjadi seorang pejabat katolik yang baik. Ia selalu berdoa, memohon kepada Tuhan supaya Tuhan menunjukkan kepadanya jalan yang benar menuju kepada kekudusan.
Pada suatu malam ia bermimpi. Dalam mimpi itu Tuhan menunjukkan kepada dia sebuah pintu gerbang dan berkata: “Di balik pintu itu ada jalan menuju kekudusan bagimu!” Ia mendekati pintu gerbang itu dan membukanya. Apa yang dilihatnya?? Kantor tempat ia bekerja sebagai pejabat pemerintah!!.
Sumber: Buku Homili Tahun B, Komkat KWI, ditulis oleh Rm. Yosep Lalu, Pr,

