Bacaan: Kel. 3:1-8a. 13-15; 1Kor.10:1-6, 10-12; Luk 13: 1-9
Orang-orang Yahudi di zaman Yesus cenderung menghubungkan penderitaan dengan dosa. “Orang-orang yang mati dengan cara yang tidak lazim, pastilah orang-orang yang dosanya sangat besar,“ begitu pikir mereka. Kecenderungan seperti ini masih sering kita temukan di zaman ini, bahkan di dalam diri kita sendiri.
Di sini, Yesus mengajar bagaimana kita bersikap saat orang lain mengalami aniaya dan penghakiman. Fokusnya adalah kita harus berbalik dan kembali ke jalan yang lurus, bertobat dengan sungguh-sungguh, bukannya berpikir di hati bahwa kita lebih beruntung dan mendapat lebih banyak anugerah daripada orang lain. Besok kita akan mengeksplorasi kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus pada hari Sabat, dan pesan dari kisah tersebut akan menjadi contoh yang baik.
Tuhan Yesus memberikan respon bahwa bencana dan ketidak-beruntungan yang dialami seseorang, tidak mewakili bahwa ia lebih berdosa daripada orang lain, dan lebih perlu bertobat (Luk. 13:4-5); demikian juga, seorang yang hidupnya stabil dan tenteram, juga tidak mewakili ia tidak berdosa atau tidak perlu bertobat, tidak bisa dipersamakan bahwa itu adalah berkat dari Tuhan, sebab mungkin ini semua adalah kesabaran Allah terhadap orang tersebut, yang memberi dia kesempatan terakhir untuk instropeksi dan bertobat (Luk. 13:8-9).
Tuhan Yesus dalam pembicaraan ini mengajarkan, hidup seseorang tidak peduli mulus atau tidak, semua manusia harus bertobat yakni tidak hentinya mengkoreksi arah dan tujuan dari hidup, menempel dekat kepada Tuhan, sepenuh hati mengarahkan diri pada hidup yang telah diperbaharui, berjalan dalam perjalanan Kerajaan Allah. Biarlah kita peka pada peringatan dari Roh Kudus, memahami makna hidup ini, membedakan jaman, mengenal benar dan salah.
Kita sering menceritakan malapetaka yang dialami orang lain dengan menambahi semacam doa agar peristiwa serupa tidak menimpa kita. Mungkin, tanpa kita sadari, kita juga sering menceriterakan penderitaan orang lain dengan kesombongan yang tersembunyi bahwa nasib kita tidak seburuk mereka, karena Tuhan lebih berkenan kepada kita. Cara pandang seperti itulah yang ditegur oleh Yesus. Dengan menjadikan penderitaan orang lain sebagai kesempatan untuk menyombongkan diri, lebih baik menjadikannya sebagai panggilan untuk bertobat.
Apakah kita cenderung mudah menghakimi kelemahan dan dosa orang lain? Apakah kita cenderung marah atau berespon negatif ketika orang lain menunjukkan kekurangan kita? Apakah kita pernah menggosipkan kelemahan dan dosa Pemimpin, teman seiman, suami/ istri Anda di hadapan orang lain?
Manusia sering takut akan datangnya penghakiman, tetapi selama hari penghakiman Tuhan atas diri sendiri belum tiba, kita mungkin masih meletakkan fokus atas penghakiman yang dialami orang lain berbicara tentang apakah orang lain benar-benar telah mendapat penghakiman dari Tuhan, sama seperti mereka memperbincangkan tentang orang-orang Galilea yang terbunuh oleh Pilatus, atau 18 orang yang tewas dalam kecelakaan ambruknya menara Siloam, dan merasa diri mereka sendiri beruntung karena tidak kena bencana. Tuhan itu Maharahim dan berkenan melepaskan kita dari penderitaan kita, dan kitapun harus bertobat agar kita tidak menjadi binasa. Kita terus berusaha untuk bertobat, berubah dan berbuah, agar keselamatan Tuhan menjadi bagian dari hidup kita. Kasih setia Allah tanpa batas, dan Ia memanggil kita untuk bertobat dan tinggal bersama-Nya.***
By Rm. Fransiskus Emanuel Da Santo, Pr; Sekretaris Komisi Kateketik KWI

