Bacaan: Ul.26:4-10; Rm.10:8-15; Luk. 4:1-13.
Sebelum Yesus melaksanakan misi ilahi ini, Ia berpuasa untuk mempersiapkan diri. Di lain pihak, iblis berupaya agar Yesus batal melaksanakan karya Allah di dalam diri-Nya. Allah juga memiliki rencana atas hidup kita, dan iblis berjuang keras mencobai kita agar kita tidak hidup dalam rencana Allah tersebut. Ketangguhan Yesus menghadapi pencobaan iblis seharusnya memberikan dorongan dan kekuatan bagi kita dalam menghadapi cobaan, apapun bentuknya dan kapanpun datangnya demi terwujudnya rencana Allah dalam hidup kita. Mengawali seluruh karya-Nya, Yesus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan itu terlihat dimana Ia menyepi-menyendiri di padang gurun. Di tempat itulah Ia mempersiapkan karya keselamatan yang akan dibawa-Nya kepada orang-orang yang ada di sekitar-Nya. Ditempat itulah kedekatan dengan Bapa menjadi begitu terasa. Bahkan dikatakan bahwa Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus.
Namun demikian, kedekatan yang semakin intens dengan Bapa justru juga menjadikan Yesus mendapat godaan yang dahsyat dari iblis. Ia yang menyepi untuk berdoa, justru semakin jelas melihat godaan dari setan-setan. Dengan kata lain, semakin Ia dekat dengan Bapa, semakin Ia melihat dengan jelas godaan yang ditawarkan oleh iblis. Kisah pencobaan di padang gurun ini menjadi kisah dimana Yesus mempersiapkan seluruh karya-Nya untuk mewartakan kabar baik kepada orang-orang sekitarnya. Persiapan itu dijalaninya dengan berpuasa selama 40 hari 40 malam. Sebuah masa persiapan yang panjang. Tentu saja kalau melihat kisah itu, Yesus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Berpuasa selama masa penting itu. Dan ketika lapar, datanglah iblis menggoda.
Satu unsur yang penting dari pencobaan yang dialami Yesus berkisar pada Mesias macam apakah Dia itu dan bagaimana Ia akan memakai urapan yang diterima-Nya dari Allah. Nyata bahwa: (1) Yesus dicobai untuk memakai urapan dan kedudukan-Nya untuk kepentingan diri sendiri (ay 3-4), untuk memperoleh kemuliaan dan kuasa atas bangsa-bangsa daripada menerima salib dan jalan kesengsaraan (ay 5-8), dan untuk menyesuaikan diri-Nya dengan harapan umat Israel yang populer untuk menjadi seorang Mesias yang “sensasional” (ay 9-11), Yesus melawan pencobaan Iblis dengan menyatakan bahwa lebih daripada segala yang lain Ia akan hidup dari Firman Allah (Ul 8:3). Berarti, Yesus sedang mengatakan bahwa segala hal yang penting dalam kehidupan bergantung kepada Allah dan kehendak-Nya (Yoh 4:34). Memburu sukses, kesenangan, dan perkara-perkara bendawi di luar jalan dan tujuan Allah akan menimbulkan kekecewaan yang pahit dan berakhir dengan kegagalan. dan Yesus menekankan kebenaran ini ketika Ia mengajarkan bahwa kita harus mencari dulu Kerajaan Allah (yaitu, pemerintahan, kegiatan, dan kuasa Allah di dalam hidup kita); kemudian baru hal-hal penting lainnya akan dikaruniakan sesuai dengan kehendak dan jalan-Nya (Mat 5:6; Mat 6:33).
Seperti kita tahu, sejak awal Yesus konsisten dengan jawaban-Nya: “ada tertulis” – “ada firman”. Argumen yang digunakan Yesus untuk menolak tawaran iblis adalah argument kitab suci, bukan sekedar asal bicara. Ia mengetahui perihal yang tertulis dalam alkitab. Isi alkitab itulah yang menjadi pegangan hidup Yesus. Maka jawaban-Nya pada iblis sepenuhnya mengacu pada alkitab. Sabda Allah menjadi kekuatan Yesus yang utama. Sehebat apapun iblis, kuasa Sabda Allah jauh lebih dahsyat dari kuasanya.
Bagi kita, Sabda Allah dalam Kitab Suci seharusnya menjadi sumber dan kekuatan hidup kita setiap saat. Hidup kita sudah semestinya mencerminkan sabda-sabda Allah yang tertuang dalam Kitab Suci. Pencobaan di padang gurun menjadi tanda yang jelas bahwa semakin kita dekat dengan Allah, semakin kita bisa melihat dengan lebih jelas mana yang iblis, mana yang Roh Kudus. Tawaran ibli senantiasa ada. Saat ini sepenuhnya tinggal bagaimana diri kita, apakah hendak mengambilnya? Atau seperti Yesus yang tetap konsisten dengan sabda dan kehendak Allah? Kunci kemenangan Yesus adalah mengikuti pimpinan Allah kemanapun Allah mengarahkan Dia. Ini pelajaran penting karena kita pun akan mengalami saat-saat kritis dalam perjalanan iman kita yang memungkinkan kita mempertanyakan kebaikan dan kesetiaan Allah. Maka berpeganglah pada firman Allah dan percaya penuh pada-Nya apapun situasi yang kita hadapi. Kegagalan kita melakukan godaan dan cobaan adalah karena kita tidak menggunakan firman Tuhan sebagai perisai.
Sebagaimana Yesus menolak tawaran iblis tentang kerajaan dunia, kita pun harus demikian. Mengapa? Sebab Kerajaan Yesus pada zaman ini bukanlah suatu kerajaan dari dunia ini (Yoh 18:36-37). Ia menolak mencari kerajaan bagi diri-Nya sendiri dengan cara-cara duniawi, yakni kompromi, kekuasaan duniawi, muslihat politik, kekerasan lahiriah, popularitas, hormat, dan kemuliaan. Kerajaan Yesus adalah suatu kerajaan rohani yang memerintah di dalam hati umat-Nya yang telah dikeluarkan dari kerajaan dunia. Sebagai suatu kerajaan sorgawi, maka itu diperoleh melalui penderitaan, penyangkalan diri, kerendahan hati, dan kelembutan; juga menuntut penyerahan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan kudus (Rom 12:1) dalam pengabdian dan ketaatan penuh kepada Allah; meliputi perjuangan dengan senjata rohani melawan dosa, pencobaan, dan Iblis (Ef 6:10-20); itu berarti menolak keserupaan dengan dunia ini, maka kita pun akan menang dari segala godaan dan cobaan dalam hidup kita.***
By Rm. Fransiskus Emanuel Da Santo, Pr; Sekretaris Komisi Kateketik KWI

