Berita Hari Kedua Temu Karya Komkat Regio Jawa
Peserta temu karya Komkat Regio Jawa mengawali hari kedua (Rabu, 09 September 2026) dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Malang RD. Alfonsus Krismiyanto. Dalam homilinya Rm. Kris memberi inspirasi dari Sabda Bahagia (Luk. 6.20 – 26) dengan mengatakan bahwa logika Allah dalam Sabda Bahagia adalah logika yang terbalik jika dibandingkan dengan logika manusia. “Sabda Bahagia sebenarnya suatu ajakan bagi kita untuk selalu rindu dekat dengan Allah dan memiliki keterarahan hidup pada-Nya”, tegasnya. Rm. Kris pun mengajak peserta temu karya untuk menempatkan Allah sebagai arah dan pusat kehidupan.
Katekese Misioner
Dinamika hari kedua cukup padat karena diisi dengan input para nasumber dan sharing pasangan suami-istri dalam membangun dan menjalani hidup berkeluarga.
Narasumber pertama, RD. Dr. Thomas Kristiatmo, S.S., M. Hum., L. Th. menyampaikan sudut pandang teologis terkait katekese misioner. Dalam pemaparannya, Rm. Atmo mengulas secara singkat tentang misi yang mulai populer pada abad ke-16. Sejumlah Dokumen Gereja tentang Misi pun ditampilkan dan dijelaskan dengan sangat lugas. Selain itu, Rm. Atmo juga menjelaskan soal pergeseran paradigma karya misi, tantangan dan arah ke depan dalam rangka menjawab tantangan karya misi. “Bermisi dan berkatekese semestinya sinonim, keduanya harus sepaket,” tandasnya.
Psikologi Pendampingan Keluarga
Setelah snack pagi, acara dilanjutkan dengan pemaparan tentang pentingnya psikologi pendampingan keluarga oleh Ibu Lidwina Wahyu Widayanti. Dalam ulasannya, Ibu Wida mengatakan bahwa saat ini keluarga menghadapi tantangan yang kompleks seiring perkembangan teknologi digital. Oleh karena itu, Ibu Wida menawarkan empat cara membangun relasi yang sehat dalam keluarga, yakni: digital parenting, komunikasi dengan bertanya dan mendengar, membangun ketangguhan keluarga dan menggali energi dari alam terbuka.
Melihat dan Memahami Realitas Keluarga
Acara sore hari dimulai dengan sharing dua pasangan suami istri. Dari sharing itu disadari bahwa membangun keluarga sering kali tidak dimulai dari hal-hal besar, tapi justru tumbuh dari pengalaman-pengalaman kecil dan sederhana: menjaga dan mengasuh anak, menyediakan waktu untuk bersama, mendengarkan satu sama lain, serta membangun kebiasaan-kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Perjalanan membangun keluarga juga disadari tidak selalu mudah. Justru dalam prosesnya, keluarga menemukan kerapuhan diri. Menyadari bahwa diri dan keluarga memiliki keterbatasan menjadi langkah awal untuk berbenah dan mengatur kehidupan dengan lebih baik. Sharing dua pasangan suami istri ini bermuara pada suatu kesadaran bahwa pada
akhirnya yang dirindukan bukan hanya sebuah keluarga yang mampu menjalankan berbagai tanggung jawab, tetapi keluarga yang sungguh-sungguh “ada bersama” dan “saling terhubung.”
Realitas Perempuan Modern dan Single Mom
Usai santap malam, peserta temu karya diajak oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Bandung, RD. F.X. Wahyu Tri Wibowo
untuk melihat realitas perempuan modern dan single mom. Dalam pemaparannya, Rm. Wahyu menegaskan bahwa perempuan modern mengalami banyak perubahan. Mereka kini semakin mandiri, berpendidikan, bekerja, berdaya, dan terlibat dalam kehidupan sosial maupun pelayanan Gereja. Namun, di balik kemandirian tersebut, terdapat berbagai tantangan seperti beban ganda, tuntutan untuk menjadi sempurna, kekerasan, persoalan ekonomi, kesepian, serta persoalan dalam perkawinan.
Dengan memahami realitas ini, hal yang dapat dilakukan menurut Rm. Wahyu adalah Gereja perlu beralih dari pastoral yang hanya berorientasi pada program menuju pastoral yang membangun ekosistem pendampingan: melihat, mendengarkan, menerima, dan berjalan bersama perempuan serta keluarga dalam berbagai situasi kehidupan.
Saling Berbagi
Acara pamungkas pada sesi hari kedua adalah sharing dalam kelompok dengan pertanyaan penuntun:
1.Bagaimana bentuk katekese keluarga di keuskupan masing – masing ? Apakah sudah menjadi fokus karya atau belum?
2.Bagaimana model katekese yang misioner dalam keluarga Katolik?