Walk in Love: Building a Domestic Church

(pengantar umum temu karya Komkat Regio Jawa)

Pengantar umum pembukaan temu karya Komkat regio Jawa oleh RP. Constantius Eko Wahyu Djoko Santoso, OSC. Pastor Eko Wahyu OSC, membawakan permenungan mendalam bertajuk “Walk in Love: Building a Domestic Church”. Materi ini bukan sekadar presentasi, melainkan sebuah ajakan bagi setiap keluarga Katolik untuk menyadari peran luhur mereka sebagai Ecclesia Domestica atau Gereja Rumah Tangga.

Membangun Fondasi di Atas Perjanjian Suci

Pemahaman bahwa perkawinan bukanlah sekadar kontrak sosial, melainkan sebuah perjanjian suci (commitment) antara pria dan wanita yang melibatkan Allah sebagai tujuan akhir. Pastor Eko, OSC menekankan bahwa dalam janji perkawinan, suami dan istri dipanggil untuk setia dalam untung dan malang, sehat maupun sakit. Di sini, sakramen perkawinan menjadi tanda kehadiran rahmat Tuhan: suami adalah tanda rahmat bagi istri, dan sebaliknya.

Keluarga sebagai Sekolah Iman Pertama

Rumah tangga digambarkan sebagai “Gereja Kecil” di mana iman pertama kali dihidupi dan diwariskan. Berdasarkan dokumen Lumen Gentium, keluarga adalah tempat utama untuk membangun kasih dan menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat. Orang tua memegang peranan krusial sebagai “Guru Pertama Iman” bagi anak-anak mereka. Melalui teladan doa, pengampunan, dan kejujuran, orang tua membentuk karakter anak karena anak adalah peniru ulung dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Menghadapi Badai di Era Digital

Beralih pada realitas tantangan modern. Di tengah budaya individualistis, keluarga menghadapi berbagai tekanan, mulai dari finansial hingga kecanduan gawai yang bisa menghilangkan relasi nyata. Ada perbedaan mencolok antara generasi dulu (Gen X) yang membangun karakter melalui permainan sosial yang nyata, dengan generasi sekarang (Gen Alfa) yang rentan terhadap isolasi digital.

“Walk in Love” vs “Falling in Love”

Salah satu poin kuat dalam materi ini adalah perbedaan antara “jatuh cinta” dan “berjalan dalam cinta”. Jika falling in love seringkali tanpa rencana, maka walk in love adalah sebuah kesadaran, tujuan, dan usaha yang berkelanjutan. Perkawinan tidak boleh jalan di tempat; ia adalah proses dinamis untuk saling mengenal, menerima, mendukung, dan yang paling penting, saling mengampuni.

Sebuah Panggilan untuk Bertumbuh

Sebagai penutup, keluarga diajak untuk memiliki wawasan holistik yang menggabungkan Teologi (dasar iman), Psikologi (pemahaman manusia), dan Kesaksian Hidup. Dengan bimbingan Roh Kudus, setiap keluarga diharapkan mampu menciptakan waktu berkualitas tanpa layar, mendampingi anak dengan kasih, dan menjadi tanda nyata kasih Allah yang hidup di tengah dunia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *