Materi oleh Rm. Dr. Thomas Kristiatmo, S.S., M. Hum., L. Th.
dibawakan dalam kegiatan temu karya Komisi Kateketik Regio Jawa
Pergeseran Paradigma Bermisi: Menjadikan Umat Beriman Komunitas Misioner yang Berakar pada Kebenaran
BANDUNG — Pemikiran mengenai karya misi Gereja mengalami pergeseran fundamental, dari yang semula berfokus pada aktivitas kelembagaan menuju pemahaman mendasar bahwa misi adalah hakikat Allah itu sendiri (Missio Dei). Gagasan ini ditegaskan oleh Rm. Dr. Thomas Kristiatmo, S.S., M. Hum., L. Th. dalam sesi pemaparan teologis bertajuk “Dari Missio Dei menuju Komunitas Misioner” di Bandung pada 9 September 2026.
Dalam pemaparannya, Rm. Thomas menegaskan pentingnya meletakkan kerangka kerja teologis yang tepat dalam bermisi dan berkatekese. Menurutnya, bermisi dan berkatekese seharusnya merupakan hal yang sinonim dan saling sejalan. Penekanan utama dari katekese masa kini tidak boleh lepas dari dimensi misioner.
Jejak Historis dan Pergeseran Paradigma
Secara historis, istilah misi—yang berakar dari kata Latin mittere (mengutus/mengirim)—mulai marak digunakan sejak abad ke-16 dan ke-17. Pada masa itu, karya penyebaran iman sering kali terikat dan “sepaket” dengan arus kolonialisme serta ekspansi politik-ekonomi kerajaan-kerajaan Eropa. Hal tersebut terlihat dari lahirnya kebijakan seperti Bulla Patronat (Universitatis Ecclesiae) tahun 1508 oleh Paus Julius II yang memberi peran besar bagi penguasa Portugis dan Spanyol dalam karya Gereja. Meski demikian, sejarah mencatat adanya tokoh-tokoh pengecualian yang melakukan pendekatan inkulturatif, seperti Matteo Ricci, Robert de Nobili, dan Bartolomeus de Las Casas.
Melalui refleksi teologis abad ke-20—salah satunya dipengaruhi pemikiran Karl Barth pasca-PD I dan Konferensi Willingen (1952)—muncul kesadaran baru tentang Missio Dei. Misi tidak lagi dipahami sekadar sebagai aktivitas atau program Gereja untuk menyelamatkan jiwa dari kebinasaan (soteriologis) atau memperluas institusi (plantatio ecclesiae), melainkan sebagai sifat dasar dari Allah yang Misioner.
Allah Bapa mengutus Putera, Bapa dan Putera mengutus Roh Kudus, dan Tritunggal Mahakudus mengutus Gereja ke dalam dunia. Dengan kata lain, Gereja ada karena adanya Misi Allah, bukan sebaliknya. Pemahaman ini kemudian disahkan dan dipertegas dalam dokumen Konsili Vatikan II, khususnya dekrit Ad Gentes.
Tantangan Bermisi di Era Kontemporer
Gereja modern yang digambarkan oleh Paus Fransiskus sebagai la chiesa in uscita (Gereja yang keluar) dipanggil untuk menjadi “tenda, bukan benteng” yang mengedepankan kedekatan, keterbukaan, dan keterlibatan nyata. Namun, Rm. Thomas mengingatkan adanya beberapa tantangan mendasar yang harus diwaspadai dalam praktik bermisi saat ini:
- Jebakan Spiritualitas tanpa Bobot Dogmatis: Pasca-Vatikan II, pengajaran iman sering kali bergeser menjadi sekadar sharing pengalaman. Risikonya, katekese dan misi dapat terjatuh pada sentimentalisme belakar yang dangkal serta mengabaikan ajaran dogmatis Gereja.
- Kekeliruan Pemahaman Dialog dan Inkulturasi: Dialog tidak boleh menghilangkan komitmen pada pencarian kebenaran sejati (proses dialektik), dan inkulturasi memerlukan pemilahan yang tegas dan kritis antara aspek yang alami (natural) dan supranatural (supranatural).
- Ancaman “Empty Signifier” di Dunia Digital: Di tengah era digital dan fenomena simulakra, terdapat risiko bahwa wacana iman amplified sebagai simbol-simbol kosong (empty signifiers) yang kehilangan makna konkret dasarnya.
Arah Misi dan Katekese ke Depan
Untuk menjawab tantangan tersebut, Rm. Thomas menawarkan tiga langkah strategis bagi umat beriman:
- Kembali pada Pengajaran Utama (KGK): Kebenaran iman harus terus dipelajari secara cermat melalui Kitab Suci, Bapa Gereja, dokumen-dokumen Konsili, hingga Katekismus Gereja Katolik (KGK). Teologi harus tetap menjadi dasar dan kerangka utama dalam bermisi.
- Sinodalitas yang Terarah pada Kebenaran: Proses “berjalan bersama” (sinodalitas) dan dialog inkulturatif harus dilakukan secara bertanggung jawab tanpa “utak-atik gathuk” atau sekadar pemanis (sugar coating) yang mengorbankan Kebenaran Sejati.
- Mengutamakan Perjumpaan Nyata: Meskipun dunia digital memberikan bantuan besar, karya misi memerlukan perjumpaan dan pengalaman yang nyata (concrete signified). Para pelaksana misi (agent) harus terlebih dahulu disapa dan diinjili (evangelized) sebelum melakukan perutusan evangelisasi.
Sebagai kesimpulan, Bunda Gereja yang Kudus adalah komunitas yang bersifat misioner sejak awal mulanya. Seluruh umat beriman dipanggil untuk berpartisipasi sesuai dengan perannya masing-masing dalam menjawab tantangan zaman. Misi dan katekese bukanlah sekadar program kerja, melainkan bagian utuh dan tak terpisahkan dari panggilan hidup beriman.