Renungan Hari Minggu Biasa ke XXXIV: “Kristus, Raja Yang Menderita”

Bacaan: 2Sam. 5:1-3; Kol. 1:12-20; Luk. 23:35-43

Salib merupakan hukuman yang kejam, memalukan dan tercela yang dipraktekkan orang-orang Romawi pada zaman itu. Hukuman ini biasanya dijatuhkan untuk para budak, perampok, dan penjahat besar; tetapi itu tidak berlaku bagi warganegara Romawi. Salib adalah lambang kutukan dan kejahatan besar. Jauh sebelum kedatangan Tuhan Yesus ke dunia, Nabi Yesaya telah menubuatkan bahwa Dia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak; ini tergenapi ketika Tuhan Yesus disalibkan di antara dua orang penjahat.

Pada penyaliban-Nya, Yesus dianggap sebagai yang paling jahat di antara para penjahat, walaupun sesungguhnya Ia adalah orang benar yang rela menjadi terkutuk supaya kita yang terkutuk dan jahat dibenarkan oleh Allah dan menjadi orang-orang kudus. Kematian Yesus di tengah penjahat mau memberitahukan kepada kita bahwa tidak ada dosa yang tidak dapat diampuni di dalam Dia, kecuali penolakan terhadap Yesus Kristus. Hal ini dialami oleh salah seorang penjahat yang tersalib bersama Yesus yang terus mengejek Yesus sampai pada akhirnya.

Hal yang berbeda yang ditunjukkan oleh penjahat lainnya yang berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” Penjahat ini menyadari orang yang tersalib bersama dengan dia bukan orang  yang biasa, bukan orang yang jahat, tetapi adalah orang yang benar, maka lahirlah pengakuan bahwa Yesus adalah Raja dan ia meminta Yesus untuk mengingatnya. Penjahat itu menyadari bahwa sebentar lagi ia akan mati dan dibalik kematian ada kehidupan dan ia percaya melalui imannya bahwa Yesus sanggup memberikan kehidupan kepadanya.

Tuntutan untuk menyatakan diri sebagai Mesias, orang pilihan Allah dan Raja orang Yahudi dengan turun dari salib, tidak dilayani Yesus (23:35-37). Namun justru di salib Yesus membuktikan kebenaran-Nya dahulu – meski dengan cara lain daripada yang dituntut – yaitu dengan menyelamatkan orang lain, penjahat yang berbalik itu dan mengakui Yesus sebagai yang tidak bersalah, orang benar (23:41-43). Tulisan yang dipasang atas kepala Yesus di salib: ‘Inilah raja orang Yahudi’ (23:38) oleh Lukas tidak dianggap cemooh belaka, melainkan sebagai pernyataan kebenaran. Sebab penuh keyakinan tentang nasib-Nya nanti Yesus menjanjikan kepada penjahat yang berbalik dan mengakui-Nya sebagai Raja, sebuah tempat di Firdaus. Begitu Yesus membuktikan diri-Nya Raja, yaitu dengan menyelamatkan orang lain dan di tingkat lain daripada yang dimaksudkan orang yang memasang tulisan itu.

Dalam pandangan Lukas penjahat yang berbalik itu serta meletakkan seluruh kepercayaannya pada Yesus, menjadi contoh orang berdosa yang dalam pertemuan dengan Yesus bertobat. Contoh baik itu diperlawankan dengan contoh buruk, yaitu penjahat yang lain, yang meskipun bertemu dengan Yesus tetap keras kepala. Menjadi jelas pula bahwa bukan penderitaan sendiri yang memutuskan, tetapi sikap yang diambil orang terhadap Yesus”

Ada tiga salib. Kalau kita memperhatikan ketiga salib itu dengan sungguh-sungguh, maka kita akan memperoleh pelajaran yang teramat penting. Kedua penjahat yang disalibkan bersama Yesus merupakan wakil umat manusia yang berdosa, yang harus dihukum. Penyaliban Yesus bersama kedua orang penjahat itu memang merupakan kepenuhan dari nubuat Yesaya bahwa “Dia terhitung diantara pemberontak-pemberontak” (Yes 53:12). Bukankah kita juga pemberontak-pemberontak, orang-orang yang suka merongrong Tuhan dengan berbagai macam ulah yang tidak berkenan kepada-Nya?

“Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?” (Luk 23:40). Itulah teguran dari rekannya. Memang seseorang yang  tidak percaya tetap tuli akan segala pernyataan dan teguran; dia cuma percaya kepada penilaian pribadinya, dia tidak mau menerima hukuman dengan rendah hati. Dia tidak mau melihat penghukuman atas dirinya sebagai kehendak Allah. Hal kedua, yang lebih parah, adalah bahwa dia mencoba agar Yesus menolak kehendak Bapa; tidak ubahnya ketika Iblis mencobai Yesus. Tidak banyak bedanya pula dengan ejekan-ejekan para pemimpin dan para prajurit (Luk 23:35-36) dan tanpa rasa hormat kepada Yesus yang tersalib dia juga berkata: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami” (Luk 23:39). Selagi dirinya menantikan kedatangan sang ajal, si penjahat masih mengolok-olok seseorang yang sedang sekarat. Memang pada akhirnya, si penjahat menderita tanpa kasih.

Yesus yang sampai saat-saat  terakhir masih mau memanggil para pendosa agar bertobat demi keselamatan mereka, Yesus yang mencoba untuk menggerakkan hati Yudas Iskariot pada saat pengkhianatannya (bdk. Mat 26:50). Yesus yang di kayu salib masih memohon pengampunan atas mereka yang menimpakan hukuman mati atas dirinya (Luk 23:34). Yesus yang sama ini tidak berbicara sedikit pun dengan si penjahat, tak sepatah katapun diucapkan-Nya.

‘Kebisuan’ ini sama seperti pada waktu Yesus berdiam diri di hadapan Herodus (Luk 23:9) dan para pendakwa-Nya. Yesus berdiam diri karena sungguh tidak ada gunanya untuk berbicara dalam situasi yang dihadapi-Nya. Keheningan Yesus ini sungguh sangat mengagumkan karena menunjukkan belas kasih-Nya. Dan memang berbicara hanyalah menambah salah orang-orang itu. Di lain pihak keheningan seperti ini juga mengerikan karena berarti penghukuman, karena itu menyatakan pengerasan secara mutlak dan tidak bertobatnya si penjahat. Sungguh semuanya berakibatkan kesedihan bagi si penjahat. Dia menderita dan mati dalam keadaan menolak salibnya. Dia kehilangan kehidupan dan jiwanya. Dia kehilangan segalanya dan dia terkutuk.

Penjahat yang satunya, menunjukkan seseorang yang mau menerima salibnya. Dia juga tidak kalah menderitanya apabila dibandingkan dengan rekannya, menderita jiwa dan raga. Si penjahat ini juga disalib bukan karena kemauannya sendiri. Kita dapat membayangkan dia melihat betapa berantakanlah hidupnya selama ini. Sekarang semuanya hilanglah  sudah. Rasa penyesalan dan malu memenuhi dirinya, tetapi terlambatlah sudah. Tidak ada obat guna menyembuhkan semua itu. Dia tahu sekali bahwa di kayu salib inilah dia akan menemukan ajalnya.

Kalau dilihat sepintas lalu, tidak ubahlah ‘nasib’ si penjahat ini dengan rekannya. Suatu akhir yang menyedihkan, tragis di mata manusia. Di sini Lukas menunjukkan lagi bahwa bela rasa Tuhan ada dan rahmat pun akan dicurahkan oleh-Nya meskipun pada menit-menit terakhir kehidupan seseorang ……, asal orang itu mau membuka diri, asal orang itu mau menjadi rendah hati, menyesali kesalahan dan dosa-dosanya, lalu bertobat.

Penjahat ini menerima salibnya dengan kerendahan hati: “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Luk 23:41) Dia mengakui kesalahannya di depan umum. Dia tidak mencoba untuk berdalih. Dia bertanggung-jawab penuh atas kesalahan-kesalahannya dan menerima hukuman yang dijatuhkan atas dirinya. Satu hal penting: dia menempatkan dirinya jauh di bawah Yesus yang selalu berbuat baik tetapi tokh dihukum mati di kayu salib seperti dirinya, padahal dia benar-benar telah berbuat berbagai kejahatan yang memang pantas untuk dibalas dengan hukuman mati seperti itu.

Ini sungguh merupakan pelajaran  baik bagi kebanyakan kita yang hampir selalu menyatakan diri tidak bersalah (malah menyalahkan orang-orang atau hal-hal lain) pada saat-saat kita mengalami pencobaan dalam hidup kita. Kita sering berdalih dan bahkan mempersalahkan . “Apa yang telah kulakukan terhadap Allah? Aku kan tidak melakukan sesuatu hal yang salah?”

Iman si penjahat yang satu ini juga mengagumkan. Penjahat ini sama sekali tidak seperti para murid yang telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Yesus membangkitkan Lazarus yang telah mati di Betania (lihat Yoh 11:1-44) dan banyak mukjizat Yesus lainnya. Tetapi pada waktu tergantung di kayu salib itu kita dapat mereka-reka bahwa iman si penjahat ini lebih memperoleh pencerahan, lebih teguh dan lebih murni daripada iman para murid Yesus sendiri.“Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk 23:42).

Siapakah sekarang yang dapat menyatakan bahwa Yesus pada waktu disalib itu mirip-mirip atau kelihatan seperti seorang raja? Dia yang tergantung di kayu salib, telanjang, diolok-olok, Diakah yang akan memiliki kerajaan? Dia yang sedang berada di ambang maut yang mengerikan itu? Penjahat ini hanya melihat kesabaran Yesus, dia cuma mendengar Yesus mendoakan para musuh-Nya. Itu sudah cukup baginya untuk percaya.

Penjahat ini percaya, sementara orang-orang bijak  Israel tetap buta. Si penjahat percaya, sementara para murid yang sudah begitu lama hidup bersama-sama Yesus mengalami kegoncangan. Bagi murid-murid Yesus, kematian-Nya di salib kiranya merupakan skandal. Yesus bagi para murid-Nya adalah tumpuan segala harapan mereka yang akan membebaskan Israel dari belenggu penjajahan. Dan di situlah Dia, tergantung dalam keadaan sekarat di kayu salib; ditolak oleh para pemuka mesyarakat dan  banyak orang. Kalalu begitu, apakah yang menjadi kekuatan iman si penjahat satu ini yang memberikan kesaksian iman begitu mantap justru pada saat para murid kehilangan iman mereka akan Yesus? Di kayu salib dia sudah memahami bahwa kerajaan ke mana Yesus akan pergi bukanlah kerajaan milik dunia ini seperti dikatakan Yesus kepada Pilatus (bdk. Yoh 18:36). Nah, pada waktu si penjahat menghaturkan permohonannya kepada Yesus, dengan jelas ditunjukkannya bahwa dia sama sekali tidak memimpikan sebuah kerajaan di dunia. Di sinilah dia mengungkapkan harapannya. Sebuah harapan yang indah sekali, seindah imannya. Rupanya si penjahat yang sedang menunggu ajal itu hanya merindukan surga. Dia tidak peduli lagi akan segala apa yang menarik dari dunia ini, jadi dia tidak meminta segala itu dari Yesus. Dia cuma mau agar Yesus ingat kepadanya pada waktu Dia memasuki kerajaan-Nya …… bahwa Yesus mau memberikan kepadanya sebuah tempat di sudut surga bagi dirinya. Dia hanya mengandalkan belas kasih Yesus yang dirasakan olehnya memiliki kebaikan dan bela rasa yang tak terhingga.

Si penjahat itu sepenuhnya mengandalkan belas kasih Yesus dan juga kuat-kuasa Yesus, justru pada saat di mana Yesus kelihatan kehilangan segalanya, pada saat Yesus kelihatan begitu tidak berdaya untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri, pada saat orang-orang mengolok-olok ketidakberdayaan-Nya. Penjahat itu berkata: “ …… apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk 23:42). Pada saat semua sudah berlalu baginya, tanpa harapan untuk menghindari maut, tanpa kekuatan apapun yang dapat menyelamatkannya, dia tetap menaruh kepercayaan kepada Yesus, bahwa Dia dapat berbuat sesuatu untuk menyelamatkan dirinya.

“Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk 23:42). Dengan begitu rendah-hati dia berkata: “Ingatlah akan aku.” Penjahat ini tidak seperti para murid yang bertengkar tentang siapakah yang paling besar di antara mereka. Penjahat ini tidak memiliki keberanian untuk meminta tempat pertama dalam kerajaan Allah meskipun dia menderita bersama Yesus di salib. Tempat terakhir di surga pun tidak berani dimintanya karena dia cuma seorang penjahat dan hanya bisa berkata, “Ingatlah akan aku”.  Doa penjahat ini tidak panjang lebar. Doa penjahat ini tidak meminta Yesus menyingkirkan salibnya. Dia tidak memohonkan sesuatu yang khusus. Dia hanya membuka lebar-lebar kesengsaraannya serta kebutuhannya.

Yesus sang Raja yang bertakhta dari atas salib, menunjukkan kasih-Nya yang total dan sempurna. Raja yang memerintah dengan kasih dan teladan yang sempurna, agar kita kita belajar dari salib-Nya, dari penderitaan dan kematian-Nya. Menjadi rakyat dan pengikut-Nya yang ikut ambil bagian dalam derita, pengorbanan, salib dan kematianNya. Salib yang diterima oleh Yesus dengan ketaatan sempurna membuka surga bagi Yesus dan bagi kita. “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar” (Rm 5:19).

Oleh karena itu, marilah kita selalu memandang ketiga salib di tempat yang bernama Tengkorak itu. Baiklah kita merenungkan salib-salib yang memahkotai bukit tragis itu dan mengambil pelajaran bagaimana memikul salib kita setiap hari. Bukan dengan menolak salib seperti yang dilakukan oleh si penjahat yang tidak bertobat, tetapi dengan menerimanya. Dan lebih baik lagi kalau kita menerima salib dengan cintakasih seperti telah ditunjukkan oleh Yesus, artinya dalam hal Allah memperkenankan kita menderita karena kesalahan orang lain. Dengan demikian semoga lewat salib kita itu kita dapat juga membantu menyelamatkan jiwa sesama kita.

Marilah kita pun berdoa, sambil memandang Yesus yang tersalib,“Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja”. Rajailah hati kami, kini dan sepanjang masa. Tuhan memberkati. Amin. ***

Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *