Renungan Hari Minggu Biasa XXX: Doa Bukan Kesempatan Untuk Bangga Diri

Bacaan : Sir. 35:12-14, 15-18; 2Tim. 4:6-8, 16-18; Lukas 18:9 -14

oleh: Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

Dalam beberapa minggu terakhir, tema utama kisah Injil selalu ditampilkan tentang: DOA. Mulai dengan bagaimana seharusnya isi sebuah doa, orang tidak boleh merasa jemu/bosan dalam berdoa, dan hari ini bagaimana seharusnya bersikap dalam doa. Yesus mengajak para pendengar dan kita sekalian melalui Injil hari  ini, dengan kisah seorang Farisi dan Pemungut cukai  dalam hal berdoa.

Hal yang menjadi persoalan adalah sikap kedua orang ini (Farisi dan Pemungut cukai) tampil beda dalam berdoa. Keduanya datang di hadapan Allah di kenisah, yang satu berdoa sambil menyampaikan litani kehebatan, kebaikan, kesalehan dan sejumlah kebanggaan yang telah ia raih, membandingkan dirinya dengan orang lain sambil meremehkan, menghina dan merendahkan; sementara yang lain itu adalah si pemungut cukai, tunduk rendah, menepuk dada, tidak berani mengangkat muka sedikit pun,  dengan malu dan hati yang remuk redam berpasrah kepada Allah, berucap memelas mohon belaskasih Allah, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Dan di akhir kisah, si pemungut cukai menjadi orang yang dibenarkan oleh Allah.

Yesus mau mengajarkan sikap yang benar dalam berdoa. Bahwa doa adalah kesempatan kita tidak hanya berbicara dengan Allah, tetapi lebih bersikap untuk mendengarkan apa kata Allah bagi kita. Doa menjadi kesempatan untuk bersyukur, untuk memuliakan Allah atas segala kelimpahan rahmat dan berkat-Nya yang telah kita alami dan nikmati semata bukan karea jasa kita; dan bahkan doa mengungkapkan relasi keakraban kita dengan Allah. Kesempatan untuk percaya dan berpasrah diri dan membiarkan kehendak-Nya terjadi atas kita. Sikap yang benar adalah kesadaran diri akan keterbatasan dan kelemahan di hadapan Allah, dan mengharapkan belaskasih dan pengampunanya. Jadi, berdoa bukan menjadi kesempatan membanggakan segala prestasi yang telah kita raih, seolah semuanya itu adalah hasil karya kita semata, apalagi sambil meremehkan dan merendahkan, menghina dan membandngkan diri kita dengan orang lain yang nasibnya kurang beruntung menurut pandangan kita. Di hadapan Tuhan, kita semakin tunduk rendah karena kerapuhan dan kelemahan manusiawi kita. Kerendahan hati itulah yang diperhitungkan Tuhan, sehinggga kita boleh bersyukur sebagai orang yang dibenakan oleh Allah.

Yang dibenarkan Allah adalah doa dari hati dan dengan hati; dengan kerendahan hati yang sadar akan keterbatasan, kelemahan dan kerapuhan. Manusia cendrung jatuh dalam sikap bangga diri, puas diri dan merasa diri sudah sempurna. Doa yang tak jemu-jemu mengantar orang pada kesadaran bahwa kita bergantung semata hanya pada Allah. Tanpa Allah kita tidak bisa buat apa-apa, dan tanpa Allah kita bukanlah apa-apa. Karena itu belas kasih dan pengampunan Allah selalu menjadi dambaan dan kerinduan setiap hati yang percaya. Doa dapat mengubah diri kita menjadi semakin mengandalkan Tuhan dalam hidup ini. Tuhan menjadi pusat hidup kita. Doa juga memerlukan keheningan batin untuk mendengarkan sapaan dan bisikan Tuhan. Kita perlu memohon kerendahan hati, agar kita mampu mengalami kehadiran-Nya.

Menjadi pertanyaan bagi kita, sejauhmana sikap dan isi doa kita selama ini?Kiranya dengan rahmat dan berkat Tuhan kita dimampukan untuk memperbaiki hidup doa dan cara berdoa kita, dengan penuh kerendahan hati, sehingga dengan penuh sukacita kitapun boleh dibenarkan Allah. Doa bukan kesempatan utnuk bangga diri, tetapi menjadi kesempatan untuk semakin rendah di hadapan Tuhan. “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggigikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk. 18:14).

Kita berdoa, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Tuhan  memberkati**

******

Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, PR adalah imam asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *