Renungan Hari Minggu XXIX: Makna Doa Bagi Orang Beriman

Dalam Injil Lukas pada hari ini Yesus mengemukakan suatu perumpamaan untuk memperlihatkan sifat-sifat doa, yang kita panjatkan kepada Tuhan sebagai orang yang sungguh percaya. Apa makna doa bagi setiap orang yang sungguh mau berdoa sebagai orang beriman. Bukanlah pertama-tama mengenai apa sebenarnya isi doa yang harus kita panjatkan kepada Tuhan, namun lebih berupa bagaimana sikap dasar yang harus kita miliki untuk memanjatkan doa kepada-Nya.

Sesuai dengan iman kita sebagai orang beriman kristiani sejati kita percaya, bahwa kita ini berkat karya penebusan Yesus Kristus sudah berada dalam Kerajaan Allah. Tetapi kenyataan Kerajaan Kristus itu belum dapat dirasakan seperti kita harapkan. Baik dahulu maupun sekarang ataupun di masa depan, kita masih mengalami pengalaman hidup yang masih begitu jauh dari gambaran dan harapan kita tentang hasil penebusan Kristus. Dalam hidup kita masih mengalami begitu banyak kesulitan, kekecewaan, merasa sendirian, belum memperoleh bantuan harapan dan penghiburan. Bahkan kita sering melihat hal-hal jahat aneka macam justru tampak makin banyak. Gereja sendiri, yakni segenap umat yang resmi telah dibaptis, yang harus menampakkan wajah Kristus, dan mewujudkan ajaran dan teladan-Nya di dunia ini, juga sering tampak kehilangan semangat dan jiwa-Nya. Kita sebagai warga Gereja tampak sering dingin satu sama lain , tidak atau kurang rukun dan bersatu. Bahkan di negara-negara maju dari mana dahulu para misionarisnya pergi ke negara-negara misi untuk mewartakan Kristus, kini dalam hidup keagamaan dan hidup sehari-hari seolah-olah kurang mengenal Kristus lagi.

Dalam perkembangan kemajuan dewasa ini juga sering makin tampak kurangnya pengetahuan dan kesadaran akan makna dan pentingnya doa. Makin pandai, makin maju, makin terpelajar, makin mampu dalam hal-hal yang serba tampak dan kelihatan, makin kurang dan makin tidak sadar pula akan adanya hal-hal atau kenyataan rohani yang tidak kelihatan. Padahal bagi orang yang sungguh beriman, bukanlah justru hanya hal-hal yang kelihatan yang sangat penting.Sebab nanti atau kelak hal-hal yang tidak atau belum tampaklah yang akan dan harus dihadapi oleh setiap orang selama hidupnya yang kekal, dan bukan hanya yang tampak sekarang! Orang yang sungguh beriman akan selalu berdoa, sebab ia tahu dan harus sadar bahwa segala yang baik dan semua pertolongan diberikan dari atas, sebagai anugerah Allah. Bila demikian, maka menurut Injil Lukas, Yesus mau menerangkan mengapa doa-doa kita kerapkali tidak dikabulkan. Apakah kita sungguh menghadapi pintu tertutup untuk berdoa, padahal itu adalah pelaksanaan perintah Yesus sendiri?

Sebagai lazim dilakukan-Nya, Yesus menerangkan “masalah tentang doa” kita ini dengan suatu perumpamaan. Ia menyebut seorang hakim, yang tidak takut akan Allah, juga tak menghormati seorang pun, sangat dingin hatinya, bagaikan membeku. Apa yang tidak berkenan kepadanya ditolaknya. Permintaan si janda supaya ia menangani pekaranya tdiak diharaukannya dan ditolaknya. Tetap si janda tak kunjuing henti terus menghadap dan menuntutnya. Dengan demikian mau tak mau kedatangan si janda itu akhirnya membuat si hakim tidak dapat istirahat. Hanya atas kedatangan terus menerus si janda itu akhirnya membuat hakim itu tidak dapat beristirhat. Dan atas alasan itulah hakim itu menghabulkan permintaan si janda. Itulah yang terjadi di dunia manusia! Demikiankah yang juga akan dilakukan oleh Allah?

Apakah Allah, yang tidak bersikap dingin hati-Nya, dan tidak berpikir egoistis seperti si hakim, juga tidak akan memperhatikan permohonan umat-Nya yang disampaikan kepada-Nya dalam doa-doa mereka? Dari perumpamaan ini kita semua, umat-Nya, harus yakin bahwa doa kita pasti dikabulkan Allah. Kita harus yakin, bahwa seperti Yesus telah mengalahkan segala kejahatan, demikian pula apa yang benar, apa yang murni, apa yang lurus, apa yang adil di hadapan Allah, pasti akan mengalahkan apa yang jahat.

Barang siapa berdoa, ia sebenarnya menyerahkan nasib dirinya dan nasib Gereja ke dalam tangan Allah sebagai Hakim Abadi. Ia sekaligus tahu dan yakin, bahwa Sang Hakim Abadi itu bukan hanya memutuskan, namun sekaligus melaksanakan keadilan kasih-Nya! Dan harus selalu diingat, bahwa Kerajaan Kristus memang sudah ada, namun masih dalam perjalanan, dan baru kelak akan terwujud sepenuhnya.

Orang beriman yang berdoa harus sungguh tidak ragu-ragu dan sungguh percaya, sebab dalam hatinya ia memiliki ketenangan dan kepastian, yang tak tergoyahkan. Berdoa dengan tekun bukan ragu-ragu maupun disertai ketakutan, tetapi selalu tetap berjalan penuh harapan menuju kepada Tuhan, yang pasti mau menyelamatkan kita.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm  /http://www.imankatolik.or.id/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *