Katekese Paus Fransiskus: Seorang Penginjil Tidak Boleh Menghalangi Kreativitas Tuhan

Paus Fransiskus dalam Audiensi Umumnya hari Rabu (16-10-19)   mengajak  orang-orang Kristen untuk membiarkan diri mereka kagum atas kreativitas Allah yang dengannya Dia menjadikan diri-Nya dikenal sebagai “Tuhan atas semua” , demikian laporan Robin Gomes dari Vatican News

Paus  Fransiskus mengawali  katekesemya  dengan  mengangkat kisah pengalaman Santo Petrus dalam Kisah Para Rasul, di mana ia mendapat penglihatan taplak meja besar dengan hewan berkaki empat, reptil dan burung turun dari atas dan suara meminta dia untuk makan daging mereka. Sebagai seorang Yahudi yang baik, Petrus tidak makan apapun yang tidak murni. Tetapi suara itu mengulangi, “Apa yang telah Allah bersihkan, janganlah kamu menyebut najis.”

Melihat Ke Luar, Ke Hati

Paus menjelaskan bahwa melalui episode ini, Tuhan ingin Petrus  tidak menilai  dan mengkategorikan peristiwa dan orang-orang sebagai murni dan tidak murni, tetapi untuk belajar untuk melampaui, untuk melihat orang dan niat hatinya. Dalam hal ini, Yesus berkata bahwa apa yang membuat manusia najis tidak datang dari luar tetapi hanya dari dalam, dari hati.

Setelah penglihatan  ini, Allah mengirim Petrus ke rumah Kornelius, seorang non-Yahudi yang takut akan Allah dan seorang religius, diberikan untuk karya amal dan doa. Di rumah orang-orang kafir itu, Petrus berkhotbah tentang Kristus dan pengampunan dosa kepada siapa pun yang percaya kepada-Nya. Kornelius dan keluarganya yang dipenuhi dengan Roh Kudus, dibaptiskan oleh Petrus dalam nama Kristus.

Keselamatan Untuk Semua

Sementara itu, orang-orang Kristen lain di Yerusalem tersinggung oleh perilaku Petrus, mencela dia dengan keras karena itu melanggar adat dan hukum. Tetapi setelah perjumpaannya dengan Kornelius, Petrus lebih bebas dari dirinya dan dalam persekutuan yang lebih besar dengan Allah dan dengan orang lain, karena ia melihat kehendak Allah dalam tindakan Roh Kudus.

Paus mengatakan bahwa peristiwa ini menandai titik balik yang menentukan dalam kehidupan Petrus dan visinya adalah “provokasi” ilahi yang membawa perubahan mental dalam dirinya. Petrus menyadari bahwa pilihan Allah atas Israel sebagai umat-Nya tidak didasarkan pada kemampuan mereka tetapi merupakan tanda seruan serampangan untuk menjadi penengah berkat ilahi di antara bangsa-bangsa kafir.

Paus Fransiskus berkata bahwa dari Petrus kita belajar bahwa seorang penginjil tidak dapat menjadi penghalang bagi karya kreatif Allah, yang “menghendaki semua orang untuk diselamatkan”, tetapi orang yang mendorong pertemuan hati dengan Tuhan. Episode ini, katanya, mempertanyakan perilaku kita terutama dengan saudara dan saudari kita, terutama yang bukan Kristen, apakah kita menghalangi atau memfasilitasi pertemuan mereka dengan Bapa.

Kreativitas Tuhan

Perjalanan Injil di dunia, kata Paus, disertai dengan kreativitas tertinggi Tuhan yang memanifestasikan dirinya dengan cara yang mengejutkan. Orang Kristen, katanya, perlu mengatasi partikularisme dan membuka diri mereka kepada universalitas keselamatan, karena Tuhan ingin menyelamatkan semua orang. Mereka dipanggil untuk keluar dari diri mereka sendiri dan membuka diri kepada orang lain, untuk hidup berdekatan yang mengubah setiap hubungan antarpribadi menjadi pengalaman persaudaraan.

Bapa Suci menyimpulkan dengan meminta  para pendengarnya  untuk  mengajak  orang-orang Kristen untuk selalu memohon rahmat agar dapat mengalami kejutan-kejutan dari  Allah, tanpa menghalangi kreativitas-Nya, tetapi untuk mengenali dan mendorong cara-cara baru yang dengannya Kristus Yang Bangkit mencurahkan Roh-Nya ke dunia dan menarik hati, membuat diri-Nya dikenal sebagai “Tuhan atas semua”.  (Vatican News/ terj. Daniel B.Kotan)

Sumber: https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2019-10/pope-francis-audience-acts-peter-cornelius-god-creativity.html

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *