Yesus Kristus, Sumber Spiritualitas Katekis

Pengantar Redaksi

Sumber spiritualitas hidup kristiani, lebih khusus lagi sumber spiritualitas pewarta Injil yang antara lain para katekis adalah Yesus Kristus sendiri. Karena itu setiap katekis hendaknya membangun spiritualitas hidupnya dengan berpedoman pada spiritualitas Yesus. Dengan lain kata, membangun spiritualitas hidup berarti memberi arti kepada hidup dengan membangun pengharapan akan kualitas hidup kristiani dengan menjadikan Yesus sebagai pedoman hidup (bdk. Ibr 11:1).

Sebagai bahan permenungan dan refleksi kita sebagai katekis yang hidup pada jaman modern yang penuh gejolak ini, kami mengangkat kembali beberapa tulisan surat mendiang Paus Yohanes Paulus II seputar spiritualitas pewarta khususnya para katekis. Sebagian isi surat apostolic dari Bapa Suci yang kami kemukakan pada tulisan ini termuat dalam dokumen Catechesi Tradendae dan  Evangelii Nuntiandi. (DBK)

  I. HANYA SATULAH GURU KITA: YESUS KRISTUS

 Katekese dalam Persekutuan dengan Pribadi Kristus

Berulang kali Sidang Umum IV Sinode para Uskup menekankan, bahwa katekese yang otentik seluruhnya berpusat pada Kristus. Di sini istilah “Kristosentrisme” (sifat berpusatkan Kristus) dapat digunakan dalam kedua artinya, yang tidak saling bertentangan atau bertolak-belakang, melainkan yang satu memerlukan dan sekaligus melengkapi yang lain.

Pertama-tama maksudnya menekankan, bahwa sebagai jantung katekese pada hakekatnya kita jumpai seorang pribadi, yakni Pribadi Yesus dari Nazaret, “Putera Tunggal Bapa…penuh rahmat dan kebenaran”[1], yang menderita sengsara dan wafat demi kita, dan yang sekarang, sesudah bangkit mulia, hidup beserta kita selama-lamanya. Itulah Yesus, “jalan, kebenaran, dan kehidupan”[2], dan hidup kristen berarti mengikuti Kristus, “squela Christi”.

Pokok katekese yang utama dan hakiki yakni untuk menggunakan ungkapan yang disukai oleh Santo Paulus pun oleh teologi masa kini “misteri Kristus”. Katekese mencakup arti mengajak sesama mendalami misteri dalam segala dimensinya: “untuk menunjukkan kepada semua orang makna rencana yang terkandung dalam misteri…bersama dengan segala orang kudus memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus…mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan…(dan dipenuhi) dalam segala kepenuhan Allah”[3]. Dengan kata lain, maksudnya ialah menampilkan dalam Pribadi Kristus seluruh rencana kekal Allah, yang mencapai kepenuhannya dalam Pribadi itu. Katekese bermaksud mendalami arti kegiatan dan kata-kata Kristus, begitu pula tanda-tanda yang dikerjakanNya, sebab semuanya itu sekaligus menyelubungi dan mewahyukan misteriNya. Sejalan dengan itu tujuan mutakhir katekese ialah: bukan saja menghubungkan umat dengan Yesus Kristus, melainkan mengundangnya untuk memasuki persekutuan hidup yang mesra denganNya. Hanya Dialah, yang dapat membimbing kita kepada cinta kasih Bapa dalam Roh, dan mengajak kita ikut serta menghayati hidup Tritunggal Kudus.

Menyampaikan Ajaran Kristus

Sifat Kristosentris katekese mencakup juga maksud: bukan untuk menyampaikan ajarannya sendiri, atau entah ajaran seorang guru lain, melainkan ajaran Yesus Kristus, kebenaran yang diajarkanNya, atau lebih cermat lagi: Kebenaran yang tak lain ialah Dia sendiri[4].

Maka harus dikatakan, bahwa dalam katekese Kristus sendirilah, Sabda yang menjelma dan Putera Allah, yang diajarkan; segala sesuatu lainnya diajarkan dengan mengacu kepadaNya. Lagi pula hanya Kristuslah yang mengajar; siapa saja selain Dia mengajar sejauh ia jurubicara Kristus, memungkinkan Kristus mengajar melalui mulutnya.

Entah manakah taraf tanggung jawabnya dalam Gereja, setiap katekis wajib berusaha terus menerus, untuk melalui pengajaran serta tingkah-lakunya menyampaikan ajaran dan kehidupan Yesus. Ia tidak akan berusaha menyita perhatian serta persetujuan budi maupun hati mereka yang menerima katekese bagi dirinya sendiri atau bagi pendapat-pendapat dan sikap-sikapnya sendiri. Terutama ia tidak akan mencoba menanamkan anggapan-anggapan atau pilihan-pilihannya sendiri, seolah-olah itu mencetuskan ajaran Kristus serta hikmah-hikmah hidup-Nya.

Setiap katekis hendaknya mampu menerapkan pada dirinya sabda Yesus yang penuh rahasia: “AjaranKu bukanlah ajaranKu, melainkan amanat Dia yang mengutus Aku”[5]. Santo Paulus menghayati itu ketika ia mengolah soal yang sangat penting. “Aku telah menerima dari Tuhan apa yang kuteruskan kepada kamu juga”[6].

Betapa tekun seorang katekis harus mendalami sabda Allah yang disalurkan oleh Magisterium Gereja, betapa ia harus akrab-mesra dengan Kristus dan dengan Bapa, betapa ia harus mempunyai semangat doa, dan mengingkari diri, untuk dapat menyatakan: “Ajaranku bukan ajaranku”!

Kristus Sang Guru

Ajaran itu bukan seperangkat kebenaran-kebenaran yang abstrak. Melainkan komunikasi misteri Allah yang hidup. Pribadi yang mengajarkannya dalam Injil jauh lebih unggul dari pada “guru-guru” di Israel, dan hakekat ajaranNya dalam segalanya melampaui ajaran mereka, karena ikatan yang unik antara apa yang dikatakanNya, apa yang diperbuatNya, dan siapa Dia itu sendiri. Akan tetapi Injil dengan jelas mengisahkan peristiwa-peristiwa Yesus “mengajar”. “Yesus mulai mengerjakan dan mengajarkan”[7] dengan dua kata kerja pada awal kitab Kisah Para Rasul itu, Santo Lukas menghubungkan dan sekaligus membedakan dua kutup perutusan Kristus.

Yesus mengajar. Itulah kesaksian yang diberikanNya tentang diriNya: “Hari demi hari Aku mengajar di kenisah”[8]. Penuh rasa kagum para pengarang Injil menyaksikan, bahwa Ia mengajar dimana-mana dan senantiasa, mengajar dengan cara maupun kewibawaan yang tak pernah dikenal sebelumnya: “Orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula”[9]; “mereka takjub mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berwibawa”[10]. Itulah pula yang diamat-amati oleh para musuhNya, untuk memberi dasar bagi tuduhan dan penghukuman: “ia menghasut rakyat dengan mengajar di seluruh Yudea, dari Galilea, bahkan sampai disini”[11].

Satu-Satunya “Guru”

Orang yang mengajar dengan cara itu mempunyai dasar yang sangat khas untuk digelari “Guru”. Dalam Perjanjian Baru, terutama dalam keempat Injil, betapa sering Yesus mendapat gelar “Guru” itu![12] Tentu saja kelompok Dua belas, para murid lainnya, dan rakyat banyak yang mendengarkanNya, menyebutNya “Guru” dengan nada takjub, penuh kepercayaan dan kemesraaan[13]. Bahkan orang-orang Farisi dan kaum Sadduki pun, guru-guru hukum Taurat, dan rakyat Yahudi pada umumnya tidak menolak memberikan gelar itu kepada-Nya: “Guru, kami ingin menyaksikan suatu tanda dari pada-Mu”[14]; “Guru, apa yang harus kulakukan untuk mewarisi hidup kekal”?[15] Tetapi pertama-tamaYesus sendiri pada saat-saat yang resmi sekali dan sangat penting menyebut diri-Nya Guru: “Kamu menyebutKu Guru dan Tuhan; dan kamu memang benar, sebab itulah Aku”[16]; dan Ia menyatakan diriNya yang khas dan unik sebagai Guru: “Kamu hanya mempunyai satu Guru”[17], yakni Kritus. Dapat dimengerti, mengapa segala macam orang-orang, dari setiap suku dan bangsa, selama dua ribu tahun dalam semua bahasa dunia ini telah memberiNya gelar itupun khidmat, sambil dengan cara mereka masing-masing mengulangi seruan Nikodemus: ‘Kami tahu, Engkaulah Guru yang berasal dari Allah”[18].

Citra Kristus sebagai Guru itu sekaligus agung dan akrab, mempesonakan dan meneguhkan. Citra itu berasal dari pena para pengarang Injil, dan sejak itu seringkali digunakan lagi dalam senilukis ikon sejak masa awal agama Kristen[19], begitu menawan hati! Dan dengan senang hati kami menampilkannya lagi pada awal permenungan tentang katekese dalam dunia modern ini.

Mengajar Selama Hidup-Nya

Dengan berbuat demikian, kami tidak melupakan, bahwa keagungan Kristus Sang Guru dan konsistensinya yang unik dan kemantapan ajaranNya hanya dapat dijelaskan oleh kenyataan, bahwa sabda-sabdaNya, perumpamaan-perumpamaan serta argumentasiNya, tidak pernah dapat dipisahkan dari perihidup dan seluruh kenyataan-Nya sendiri. Maka seluruh perihidup Kristus merupakan pengajaran tak kunjung henti; saat-saat Ia berdiam diri, mukjizat-mukjizatNya, tingkah-lakuNya, doaNya, cinta-kasihNya terhadap rakyat, keakrabanNya yang mesra khususnya terhadap mereka yang hina dan miskin, caraNya Ia menerima pengorbanan diriNya seutuhnya di kayu salib demi penebusan dunia, dan kebangkitanNya merupakan perwujudan nyata sabdaNya dan kepenuhan perwahyuan. Oleh karena itu bagi umat Kristus salib merupakan salah-satu gambaran Kristus Sang Guru yang paling luhur dan tersebar luas.

Buah-buah permenungan tadi berada pada jalur tradisi Gereja yang agung. Semuanya itu memantapkan semangat kita terhadap Kristus Sang Guru, yang mewahyukan Allah kepada manusia, dan manusia kepada dirinya sendiri, Sang Guru yang menyelamatkan, menguduskan dan membimbing, yang hidup, berbicara, bangun, bergerak, membaharui, menilai, mengampuni, dan hari demi hari menyertai kita menempuh perjalanan sejarah, Sang Guru yang datang dan masih akan datang dalam kemuliaan.

Hanya dalam persekutuan mesra-mendalam dengan Yesus para katekis akan menemukan sinar terang dan kekuatan untuk secara otentik membaharui katekese seperti diinginkan.

(Dikutip dari; Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolic Paus Yoh. Paulus II Kepada para Uskup, Klerus dan segenap Umat beriman tentang Katekese Masa Kini (16 Oktober 1979), diterbitkan oleh Dokpen KWI, Jakarta)

II.SEMANGAT EVANGELISASI

Dibawah karya Roh Kudus

Evangelisasi tidak mungkinlah tanpa karya Roh Kudus. Roh turun pada Yesus dari  Nazaret, pada saat baptisNya ketika suara dari Bapa “Inilah PuteraKu terkasih, padaNya Aku berkenan” menampakkan secara lahiriah pemilihan Yesus dan perutusanNya. Yesus “dipimpin oleh Roh” mengalami di padang pasir perjuangan yang menentukan dan percobaan yang terbesar sebelum memulai perutusanNya. “Di dalam kuasa Roh” ia kembali ke Galilea dan memulai pewartaanNya di Nazaret, menerapkan untuk diriNya kutipan dari Yesaya: “Roh Tuhan ada di atasKu”. Dan Ia menyatakan: “Hari inti terpenuhilah Kitab Suci”. Kepada para murid yang akan diutusNya, Ia berkata kepada mereka: “Terimalah Roh Kudus”.

Sesungguhnya barulah sesudah kedatangan Roh Kudus, pada hari Pentekosta bahwa para Rasul berangkat ke segala penjuru dunia untuk mulai karya besar evangelisasi Gereja. Petrus menerangkan peristiwa ini sebagai pemenuhan nubuat Joel: “Aku akan mencurahkan RohKu”. Petrus dengan penuh Roh Kudus sehingga ia dapat berbicara kepada orang-orang mengenai Yesus, Putera Allah”. Paulus juga dipenuhi dengan Roh Kudus sebelum mempersembahkan diri kepada karya kerasulannya, seperti halnya Stefanus ketika dia dipilih untuk melayani Sabda dan kemudian memberikan kesaksian dengan darahnya. Roh, yang menyebabkan Petrus, Paulus dan Kedua Belas Rasul berbicara, dan yang mengilhamkan kata-kata yang harus mereka ucapkan, juga datang “pada mereka yang mendengarkan Sabda”.

Justru di dalam “hiburan Roh Kudus” Gereja berkembang. Roh Kudus adalah jiwa Gereja. Dialah yang menerangkan kepada kaum beriman makna terdalam ajaran Yesus dan misteriNya. Roh Kuduslah yang sekarang ini persis seperti pada awal Gereja, bertindak di dalam setiap penginjil yang membiarkan dirinya dikuasai dan dipimpin oleh Dia. Roh Kudus meletakkan dalam bibirnya kata-kata, yang orang itu tidak dapat menemukannya sendiri, dan sekaligus Roh Kudus menyiapkan jiwa pendengar untuk terbuka dan siap menerima Kabar Baik dan Kerajaan yang sedang diwartakan.

Teknik-teknik evangelisasi adalah baik, tapi bahkan teknik yang paling majupun tidak dapat menggantikan karya Roh Kudus yang lembut. Persiapan yang paling sempurnapun dari penginjil tidak menghasilkan apa-apa, bila tanpa Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus, dialektik yang paling meyakinkan pun tidak punya daya atas hati manusia. Tanpa Roh Kudus skema-skema yang paling berkembang sekali pun, yang bersandar pada dasar sosiologis atau psikologis, dengan cepat akan kelihatan tanpa nilai.

Kita hidup dalam Gereja pada suatu masa yang dikhususkan bagi Roh Kudus. Di mana-mana orang mencoba memahami Roh Kudus lebih baik, seperti diwahyukan oleh Kitab Suci. Mereka senang meletakkan diri mereka di bawah inspirasi Roh Kudus. Mereka berkumpul untuk berbicara mengenaiNya; mereka ingin bahwa diri mereka sendiri dipimpin oleh Roh Kudus. Sekarang bila Roh Allah mempunyai tempat yang mulia dalam seluruh hidup Gereja, justru dalam perutusan evangelisasinya gereja paling aktif. Tak kebetulanlah bahwa permakluman terbesar dari Evangelisasi terjadi pada pagi Pentekosta, di bawah dorongan Roh Kudus.

Haruslah dikatakan bahwa Roh Kudus adalah pelaku utama evangelisasi: Dialah yang mendorong tiap individu untuk mewartakan Injil, dan Dialah yang dalam kesadaran hati nurani menyebabkan kata penebusan diterima dan dipahami. Tapi dengan cara yang sama dapat dikatakan bahwa Dialah tujuan evangelisasi: Dialah yang menggerakkan ciptaan baru, kemanusiaan baru, di mana evangelisasi merupakan hasilnya, dengan kesatuan dalam keanekaragaman itu, yang ingin dicapai oleh evangelisasi di dalam jemaat kristen. Melalui Roh Kudus Injil meresapi jantung dunia, sebab Roh lah yang menyebabkan orang-orang dapat membeda-bedakan tanda-tanda zaman – tanda-tanda yang dikehendaki oleh Allah yang diungkapkan oleh evangelisasi dan digunakan di dalam sejarah.

Sinode Para Uskup thn 1974, yang dengan kuat menekankan kedudukan Roh Kudus dalam evangelisasi, juga mengungkapkan keinginan agar para Gembala dan para teolog hendaknya mempelajari secara lebih mendalam hakekat dan cara Roh Kudus berkarya dalam evangelisasi pada zaman sekarang. Dan hal yang sama juga diharapkan dari kaum beriman yang dimeteraikan oleh Roh Kudus melalui Baptis. Hal ini juga merupakan kehendak kami, dan kami mendorong semua penginjil, entah siapapun mereka itu, untuk berdoa terus-menerus kepada Roh Kudus dengan iman dan dengan penuh semangat dan membiarkan diri mereka dengan bijaksana dibimbing oleh dia, sebagai pengilham yang menentukan dalam rencana-rencana mereka, inisiatif-inisiatif mereka dan kegiatan penginjilan mereka.

Saksi-saksi hidup, yang otentik

Marilah sekarang kita memperhatikan pribadi-pribadi para penginjil itu sendiri.

Kerap kali dikatakan sekarang bahwa abad sekarang ini orang haus akan hal yang otentik. Lebih-lebih menyangkut kaum muda dikatakan bahwa mereka merasa ngeri terhadap hal yang dibuat-buat atau yang palsu dan bahwa mereka terutama mencari kebenaran dari kejujuran.

“Tanda-tanda zaman” ini hendaknya membuat kita waspada. Entah secara diam-diam atau secara lantang – tapi selalu dengan mendesak kita ditanya: Sungguh-sungguhkah kamu percaya akan apa yang kamu wartakan? Sungguhkah kamu menghayati yang kamu percayai? Sungguhkan kamu mewartakan yang kamu percayai? Lebih daripada dahulu kesaksian hidup merupakan suatu kondisi yang hakiki agar sungguh-sungguh efektif dalam pewartaan. Justru, karena inilah, dalam arti tertentu, kita bertanggungjawab untuk kemajuan Injil yang kita wartakan.

“Bagaimanakah keadaan Gereja sepuluh tahun setelah Konsili”? Kami pertanyakan hal ini pada awal renungan ini. Apakah Gereja terbangun dengan kokoh di tengah-tengah dunia, namun tetap bebas dan cukup tidak tergantung dari perhatian dunia? Apakah Gereja memberikan kesaksian mengenai solidaritasnya dengan orang-orang dan sekaligus juga dengan Yang Mutlak Yang Ilahi? Apakah Gereja semakin bernyala-nyala dalam renungan dan kebaktian dan semakin bersemangat dalam karya missioner, dalam karya amal dan karya pembebasan? Apakah Gereja semakin terlibat dalam usaha untuk mencari pemulihan kesatuan yang penuh dari orang-orang Kristen, kesatuan yang akan membuat makin efektifnya kesaksian bersama, “agar supaya dunia dapat percaya”? Kita semua bertanggungjawab terhadap jawaban-jawaban yang dapat diberikan terhadap pertanyaan-pertanyaan ini.

Oleh karena itu kami mengarahkan anjuran kami kepada para Saudara dalam jabatan Uskup, yang oleh Roh Kudus ditentukan untuk memimpin Gereja. Kami mendorong para imam dan para diakon, rekan-rekan sekerja para Uskup dalam menghimpun Umat Allah dan menjiwai secara rohaniah jemaat-jemaat  setempat. Kami mendorong para religius, saksi-saksi suatu Gereja yang dipanggil ke kesucian dan oleh karenanya mereka sendiri juga dipanggil ke suatu kehidupan yang memberikan kesaksian mengenai Sabda-Sabda Bahagia Injil. Kami mendorong kaum awam: Keluarga-keluarga kristen, kaum muda, orang-orang dewasa, semua yang melaksanakan perdagangan atau melakukan suatu profesi, para pemimpin, tanpa melupakan kaum miskin yang kerap kali kaya dalam iman dan pengharapan. Kami mendorong semua kaum awam yang sadar akan peranan mereka dalam evangelisasi, dalam rangka mengabdi Gereja mereka atau ditengah-tengah masyarakat dan dunia. Kami berkata kepada mereka semua: Semangat kita dalam evangelisasi harus muncul dari kesucian sejati dari hidup kita. Dan seperti yang dikatakan oleh Konsili Vatikan Kedua, pewartaan haruslah pada gilirannya membuat pengkotbah berkembang di dalam kesucian, yang disebutkan oleh doa dan terutama dengan melalui cinta terhadap Ekaristi.

Secara paradoks, dunia kendati menunjukkan banyak tanda-tanda menyangkal Allah, namun mencari Allah dalam cara-cara yang tak terduga dan menderita karena merasa membutuhkan Allah. Dunia membutuhkan para penginjil untuk berbicara kepadanya mengenai Allah, yang hendaknya diketahui juga oleh para penginjil sendiri dan hendaknya mereka akrab denganNya, seolah-olah mereka dapat melihat yang tak kelihatan. Dunia membutuhkan dan mengharapkan dari kita kesederhanaan hidup, semangat doa, kasih terhadap semua orang, lebih-lebih terhadap orang yang rendah dan miskin, ketaatan dan kerendahan hati, sikap lepas bebas dan pengorbanan diri. Tanpa tanda kesucian ini, kata-kata kita akan sulit menyentuh hati orang-orang modern. Bahkan ada resiko akan menjadi sia-sia dan mandul.

 

******

 

(Dikutip dari Evangelii Nuntiandi, Anjuran Apostolic Paus Yoh. Paulus II Kepada para Uskup, Klerus dan segenap Amat beriman tentang “Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern”  pada 8 Desember 1975,  diterbitkan oleh Dokpen KWI)

 

Catatan kaki:

[1] Yoh 1:14

[2] Yoh 14:6

[3] Ef 3:9, 18-19

[4] Bdk. Yoh 14:6

[5] Yoh 7:16 Tema itu sering muncul dalam Injil keempat: bdk. Yoh 3:34; 8:28; 12:49-50; 14:24; 17:8, 14.

[6] 1 Kor 11:23: kata “meneruskan” atau “menyalurkan” yang disini dipakai oleh St. Paulus acap kali muncul dalam Anjuran Apostolik “Evangelii Nuntiandi”, untuk melukiskan kegiatan Gereja mewartakan Injil; Misalnya EN.4, 15, 78, 79.

[7] Kis 1:1

[8] Mat 26:55; bdk. Yoh 18:20

[9] Mrk 10:1

[10] Mrk 1:22; bdk. juga Mat 5:2; 11:1; 13:54; 22:16; Mrk 2:13; 4:1: 6:2, 6; Luk 5:3,17; Yoh 7:14; 8:2, dan lain-lain.

[11] Luk 23:5

[12] Dihampir lima puluh tempat dalam keempat Injil gelar itu diberikan kepada Yesus. Gelar “guru” termasuk warisan seluruh tradisi Yahudi, tetapi di sini mendapat arti baru, yang sering ditekankan oleh Kristus sendiri.

[13] Bdk. antara lain: Mat 8:19; Mrk 4:38; 9:38; 10:35; 13:1; Yoh 11:28.

[14] Mat 12:38.

[15] Luk 10:25; bdk. Mat 22:16.

[16] Yoh 13:13-14; bdk.juga Mat 10:25; 26:18 dan teks-teks pararel

[17] Mat 23:8. Santo Ignasius dari Antiokia mengangkat pernyataan itu dan membubuhkan catatan berikut: “Kita telah menerima iman; itulah sebabnya, mengapa untuk diakui sebagai murid-murid Yesus Kritus – kita berpegang teguh pada satu-satunya Guru kita” (Surat kepada umat di Magnesium, IX, 2, FUNK 1, 198).

[18] Yoh 3:2.

[19] Lukisan Kristus sebagai Guru ditemukan hingga dalam katakomba-katakomba di Roma. Gambaran itu sering digunakan pula dalam mosaik-mosaik kesenian Roma-Bizantin abad III dan IV. Lukisan itu menjadi motif artistik yang tersebar luas dalam pahatan-pahatan pada katedral-katedral Roman dan Gotik yang serba agung di Abad Pertengahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *