Renungan  Minggu Biasa XIX :  “Hendaklah Pinggangmu Tetap Berikat dan Pelitamu Tetap Menyala”. 

Bacaan:  Keb 18: 6-9; Ibr. 11:1-2,8-19; Luk 12:32-48

oleh RD. RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

Tugas dan tanggung jawab dalam sebuah pekerjaan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Salah satu ukuran terbesar untuk melihat apakah sebuah tugas dilaksanakan dengan semestinya adalah dengan melihat hasil dari tugas itu sendiri. Seorang yang bertanggung jawab akan mempunyai hasil yang bisa dipertanggungjawabkan pula. Biasanya orang yang diserahi sebuah tugas tertentu dianggap sebagi orang yang bertanggung jawab. Semakin ia dipercaya, semakin besar pula ia diserahi sebuah tanggung jawab. Semakin tinggi jabatannya, semakin besar juga tanggung jawabnya.

Tanggung jawab dalam perikopa injil hari ini adalah sebuh bentuk kewaspadaan. Setiap orang diajak untuk selalu waspada. Ada banyak hal yang perlu diwaspadai, mulai dari bahaya yang kecil, sampai dengan bahaya yang bisa mengancam nyawa. Orang yang waspada berarti matanya terbuka untuk mengamati. Ia akan peka jika ada perubahan-perubahan yang tidak wajar. Ia akan segera mampu menilai situasi sekitarnya dan bersiap mengambil langkah-langkah yang memungkinkan.

Kewaspadaan juga masuk dalam ranah beriman. Seorang beriman senantiasa diajak untuk menjadi orang yang sadar diri. Sadar diri yang dimaksud adalah sadar diri akan imannya, akan tanggung jawabnya sebagai orang beriman. Terhadap banyak godaan, ia tidak boleh lengah. Senjata iman harus selalu siaga, kapanpun dibutuhkan, ia siap bergerak. Ancaman selalu datang secara tiba-tiba, bahkan menunggu waktu yang tepat untuk menyerah. Ketika kita waspada, tidak ada ancaman yang datang. Namun ketika kita lengah, ancaman akan segera beraksi. Bukan ancamana yang tidak ada, namun kesiagaan kitalah yang membuat ancaman itu tidak mempunyai peluang.

Gambaran tentang seseorang yang pinggangnya tetap berikat dan pelitanya tetap menyala (Luk. 12:35). Penggambaran ini berkaitan dengan cara berpakaian seseorang yang siap melayani. Maka ketika seorang hamba dikatakan siap untuk melayani dia harus menggulung jubah luar tersebut dan mengikatkannya di pinggang. Dengan demikian ia akan lebih bebas bergerak untuk melayani sebagai seorang hamba. Seseorang yang pinggangnya tetap berikat dan pelitanya tetap menyala adalah seorang hamba yang siap untuk melayani tuannya walaupun hari sudah gelap dan orang-orang pada umumnya sudah tidur.

Gambaran tentang hamba yang menanti-nantikan tuannya pulang dari acara perkawinan (Luk. 12:36-38). Ia mengharapkan hamba-hambanya segera membukakan pintu. bukan tentang hamba yang bersungut-sungut menjaga pintu, melainkan tentang hamba yang menanti-nantikan tuannya pulang. Ada unsur mengharapkan ketibaan sang tuan. Tuhan Yesus memberikan penilaian tentang hamba tersebut sebagai orang yang berbahagia yaitu mereka yang berjaga-jaga dan dengan segera membukakan pintu bagi sang tuan.

Tentang waktu kedatangan seorang pencuri (Luk. 12:39-40). Seorang pencuri tidak mungkin akan memberitahukan terlebih dahulu kepada pemilik rumah mengenai kapan ia akan datang untuk mencuri. Ia akan datang pada waktu yang tidak disangka-sangka oleh pemilik rumah.  Dengan ini memberikan suatu penekanan pada peringatan untuk berjaga-jaga dan senantiasa siap sedia.

Selanjutnya, gambaran tentang hamba atau pengurus rumah yang setia dan bijaksana (Luk. 12:41-46). Mau mengatakan bahwa, hamba tersebut mendapat kepercayaan untuk mengurus hamba-hamba lain pada saat tuannya hendak berangkat pergi. Seorang pengurus yang setia dan bijaksana akan melakukan tugas kepercayaan tersebut dengan baik dan ketika tuannya pulang dan mendapati pengurus tersebut melakukan hal demikian maka ia memberikan penghargaan yaitu dengan mengangkat hamba itu menjadi pengawas atas segala miliknya. Inilah kesetiaan yang dimaksudkan.

Selain kesetiaan, Tuhan juga mengajarkan bahwa kita juga perlu bijaksana. Ketika kita menyejajarkan pelita yang tetap menyala dengan sifat bijaksana, maka kita langsung teringat pada perumpamaan Tuhan Yesus tentang “gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh” di Matius 25:1-13. Agar pelita dapat tetap menyala maka diperlukan kebijaksanaan, termasuk di dalamnya adalah mempersiapkan minyak cadangan sehingga ketika si hamba menanti-nantikan tuannya pulang, pelitanya tetap dapat menyala dan tidak kehabisan minyak. Dengan berbijaksana maka seseorang akan semakin peka akan konsep waktu termasuk mengenai waktu kedatangan Kristus yang kedua kali. Selain itu dengan berbijaksana seseorang juga akan semakin sadar untuk senantiasa mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya.

Yesus dalam Injil hari ini menemukan sikap beriman pada hamba yang senantiasa siap sedia dengan pinggang tetap terikat dan lampu bernyala menantikan tuannya yang pulang dari perkawinan. Sikap kesiapsediaan yang penuh  iman itu dipertentangkan dengan sikap hamba yang oleh karena tidak percaya bahwa tuannya datang akhirnya tidak menyiapkan diri untuk menyambut kedatangannya.

Pesan bagi kita, agar kita memiliki sikap dan semangat sebagai hamba yang setia menantikan kapan pun tuan yaitu Yesus Kristus datang dalam kemuliaanNya, yang terus dinantikan dengan pinggang yang tetap terikat dan pelita yang tetap menyala. Kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan kita menunjukkan sejauhmana iman kita menantikan datangnya janji Tuhan itu. Menanti dengan doa, dengan penuh iman dan harapan, dalam hidup yang penuh kasih, penuh rasa tanggungjawab, menjadikan kita hamba yang menerima anugerah, berkat-Nya, sejauh kita adalah hamba yang setia dan bijaksana. “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang”. (Luk.12:37). Tuhan memberkati.

 

*******

RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR adalah imam asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *