Renungan Minggu Biasa XVIII : Menjadi Kaya Di Hadapan Allah

Bacaan: Pkh 1:2;2:21-23; Kol 3:1-5.9-11; Luk 12:13-21

oleh RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

Menjadi kaya adalah impian dan kerinduan serta perjuangan banyak orang. Kaya dimengerti sebagai berkelimpahan harta kekayaan duniawi, seperti: uang, harta benda, tanah warisan, rumah, dll.. Menjadi kaya juga bukan sekedar mimpi sesaat, tetapi orang berjuang, berusaha sekuat tenaga memperoleh apa yang diinginkan entah dengan cara-cara terpuji, maupun dengan cara kotor, korupsi, dll. Dan kalau sudah demikian, ia akan menggunakan segala kekayaannya itu untuk memuaskan segala nafsu dan keinginannya, dan dengan bebas dapat mengatur kehidupannya sesuai dengan keinginannya. Segala sesuatu dapat menjadi miliknya dan sungguh-sungguh menikmatinya.

Harta kekayaan dunia tidak pernah cukup, dan orang yang selalu menggantungkan hidupnya hanya kepada harta kekayaan akan sia-sia. Pengkhotbah mengingatkan kita bahwa apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Seluruh hidupnya penuh dengan kesedihan dan pekerjaannya penuh penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tentram” (Pkh 1;22:21-23). “Banyak harta, banyak pula kecemasan” (Ams 15:16). Itu berarti bahwa hanya dengan harta  kekayaan dunia saja manusia, kita tidak dapat hidup sempurna sepenuhnya. Karena itu, Yesus dalam Inijil hari ini memberi awasan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu” (Luk 12:15)

Menjadi kaya itu baik, namun jangan menjadi rakus atau tamak. Orang yang rakus atau tamak tidak akan pernah puas dengan perjuangannya sendiri; dan menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekayaan. Kekayaan itu baik, namun jangan sampai kita melupakan Tuhan yang menjadi sumber segala kekayaan yang kita miliki. Kekayaan itu baik, namun jangan sampai harta kekayaan itu menghalangi perjumpaan kita dengan Tuhan dan kepedulian kita dengan sesama.

Menjadi kaya di hadapan Allah, berarati menemukan sesuatu yang lebih penting daripada memperoleh atau mengumpulkan. Sesuatu yang lebih penting itu adalah memberi. Maka, kaya di hadapan Allah berarti lebih banyak memberi daripada menerima.

Menjadi kaya di hadapan Allah, berarti juga mengatur kehidupan bukan semata-mata atas keinginan kita melainkan juga atas keinginan Allah yang telah memberikan kita hidup. Kepada-Nya kita harus mempertanggungjawabkan hidup kita. Mengatur kehidupan kita berarti Allah menjadi pusat kehidupan kita. Segala yang kita miliki adalah titipan Allah. Maka, kita harus menggunakannya dengan bijaksana dan kelak mempertanggungjawabkan semuanya itu kepada Allah secara benar.

Kita berdoa, Ya Tuhan bantulah kami dengan rahmat-Mu agar selalu merindukan harta surgawi dan terus berusaha untuk memperolehnya agar kami menjadi kaya di hadapan-Mu. Engkaulah kekayaan kami, kini dan sepanjang masa. Amin

********

Fransiskus Emanuel da Santo, PR adalah imam asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *