Renungan Minggu Biasa XVII : Doa: Bagian dari Hidup

Bacaan: Kej 18:20-32; Kol 2:12-14; Luk 11:1-13

Oleh: RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

Doa merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari hidup orang beriman. Doa adalah bagian dari hidup itu sendiri. Pentingnya doa untuk kehidupan tidak cuma untuk para kudus, tetapi untuk semua orang beriman. Dalam dunia yang sudah serba maju dan modern, sering orang meragukan efektivitas dari doa. Sering dengan enteng orang mengatakan, apa perlunya doa itu kalau segala sesuatu bisa diperoleh tanpa bantuan Allah. Namun pengalaman membuktikan bahwa betapa banyak orang yang putus asa dalam hidupnya karena tidak percaya kepada Allah dan tidak mempunyai kebiasaan berdoa. Doa dianggap sebagai sebuah pelarian dari ketakberdayaan manusia. Bahkan banyak orang berhenti berdoa karena merasa semua permohonan yang diminta dalam doa tak pernah terkabul. Keberhasilan doa bergantung pada kesungguhan dan keterbukaan hati orang dalam mengusahakan apa yang didoakan. Seperti apa isi doa, bagaimana cara berdoa, mengapa harus berdoa sering menjadi pergumulan manusia zaman ini.

Menarik dari kisah Injl hari ini, seorang murid meminta Yesus untuk diajari bagaimana berdoa. “Tuhan, ajarilah kami berdoa”. Meminta dalam doa adalah suatu yang mendasar dalam hidup manusia. Meminta atas dasar suatu kebutuhan yang mendesak dan penting. Meminta karena memang diperlukan. Sebagaimana orang membutuhkan makanan, kesehatan yang baik, kedamaian dan kesejahteraan, dan lain-lain.. karena semuanya itu merpakan kebutuhan. Dan yang diminta adalah, “Tuhan, ajarlah kami berdoa”  Yesus pun memenuhi permintaan itu dengan mengajarkan bagaimana para murid-Nya berdoa. Tuhan Yesus mengajak kita untuk meminta. “Aku berkata kepadamu: Mintalah maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat; ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu” (Luk 11:9) Itulah doa.

Kita belajar berdoa dari orangtua, para guru, dari berbagai sumber buku doa. Banyak doa yang sudah dan sering kita doakan yang sudah kita hafal dengan baik. Ada yang berdoa karena ikut ramai, karena orang lain berdoa maka saya juga ikut berdoa. Doa sering belum menjadi kebutuhan mendasar, sesuatu yang harus keluar terungkap dari hati. Orang hanya menghafal doa-doa wajib ketika harus menerima Sakramen-sakramen Gereja: Komuni pertama, perkawinan, dll. Doa harus menjadi bagian dari hidup orang beriman. Karena itu, doa bukanlah sebuah pembicaraan monolog satu arah, dari kita kepada Tuhan. Doa juga sering berisi seribu satu macam permohonan dengan segala daftar keinginan dan kebutuhan yang disampaikan kepada Tuhan, dan seolah memaksa Tuhan untuk mengabulkan apa yang kita minta. Tuhan diperlukan selama kita butuh; tapi sesudah itu kita tinggalkan karena ternyata kebutuhan dan permintaan kita terasa tak pernah terkabul. Padahal doa yang sesungguhnya adalah komunikasi dua arah, Allah dengan kita, dan kita dengan Allah. Allah juga berbicara dengan kita dalam doa. Apa yang Ia kehendaki dari kita. Kehendak-Nyalah yang terjadi. Tuhan berbicara dan manusia mendengarkan. Dengan demikian, komunikasi ini menjadi efektif dan berdaya-guna. Doa adalah kesempatan untuk saling mendengarkan. Tuhan mendengarkan kita dan kitapun mendengarkan Tuhan. Doa harus menjadi bagian dari hidup kita. Menjadi pertanyaan, apakah doa sudah menjadi kebutuhan dan bagian dari hidup kita sendiri? Sejauhmana doa menjiwai seluruh hidup dan karya kita? Dalam berdoa, apakah kitapun memberikan waktu dan kesempatan bagi Tuhan untuk berbicara kepada kita dan kita membuka hati kita untuk mendengarkan Dia?

Marilah kita minta kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa”.

*********

RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR adalah imam asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *