Pendekatan Holistik Dalam Katekese Kontekstual Gereja Indonesia (Dr. Agustinus Manfred Habur, Pr)

I. Pengantar

Secara umum, katekese dipahami sebagai kegiatan gerejawi untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati, dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Di dalamnya terdapat unsur pewartaan, pengajaran, pendidikan, pendalaman, pembinaan, pengukuhan serta pendewasaan (DKU 17). Refleksi kateketis masa kini menekankan katekese sebagai komunikasi iman atau dialog iman yang bertujuan agar orang secara bersama-sama bertumbuh menuju kedewasaan iman (DKU 21). Kedewasaan iman itu bertumbuh dalam pergulatan dengan konteks dan karena itu katekese seyogyanya bersifat kontekstual.

Pertanyaannya, adakah satu metode tunggal yang tepat untuk mendukung pelaksanaan katekese yang kontekstual? Untuk konteks Gereja Indonesia, adakah satu metode unik yang bisa menjawabi aneka pergulatan kontekstual iman jemaat?Mencermati keberagaman konteks katekese Gereja Indonesia dalam pelbagai Pertemuan Kateketik antar-Keuskupan se-Indonesia (PKKI), tulisan ini mengedepankanpendekatan holistik dalam katekese kontekstual, yang merangkul berbagai aspek perkembangan iman, berbagai ragam komunitas umat beriman dan berbagai variasi metode, yang tentu didukung oleh tenaga pewarta (katekis) yang andal.

II. Katekese Kontekstual Gereja Indonesia

Katekese seyogyanya selalu memperhatikan konteks. Pembaharuan katekese gerejawi setelah Konsili Vatikan II erat berkaitan dengan konteks ini. Ditengarai bahwa katekese prakonsili terlalu menekankan iman sebagai rumusan kebenaran yang harus diakui. Akibatnya, katekese dipahami sebagai penerusan ajaran iman yang sudah dirumuskan secara baku dalam buku katekismus (Meddi, 2017: 76-77). Katekese tersebut sering bersifat indoktrinatif, yaitu pengajaran dan penghafalan doktrin-doktrin Gereja. Katekese kurang menyapa manusia dengan seluruh pergumulan kontekstualnya.

Katekese postkonsili sangat peduli dengan konteks. Konteks yang dimaksudkan di sini bukanlah sekedar ruang geografis melainkan “ruang sosial-budaya yang bersifat dinamis, di mana umat hidup, berkembang dan menuliskan kisah mereka” (Heryatno, 2012: 135). Konteks berkaitan dengan realitas manusia yang hidup dan dinamis. Dia berurusan dengan pribadi manusia, relasi antar pribadi manusia, serta relasi mereka dengan Allah (Bdk. EN 20). Konteks berhubungan dengan kompleksitas kehidupan manusia dalam keseharian, yang menjadi ruang perjumpaan yang sungguh konkret dengan Allah.  Di dalam konteks, perjumpaan dengan Allah tidak menjadi sekedar gagasan mental atau suatu kekuatan yang samar-samar melainkan menjadi “partisipasi ilahi yang langsung dalam realitas manusia yang sesungguhnya” (James R. Nieman: 2017, 13).

Katekese yang kontekstual berusaha menyapa manusia dalam seluruh pergulatan hidupnya (Bdk. Habur, 2016: 217-226).Dalam dokumen Ad Gentes ditekankan bahwa pembinaan para katekumen melalui kegiatan katekese tidak “melulu penjelasan ajaran-ajaran Gereja dan perintah-perintah melainkan pembinaan dalam hidup kristen…” (AG 14). Pembinaan dalam hidup kristen berkaitan dengan hidup iman sehari-hari yakni iman yang diakui, dirayakan, dan diwujudkan dalam konteks pergumulan hidupnya. Pembinaan iman seperti ini tidak melihat manusia sebagai sekedar sasaran katekese melainkan terutama sebagai subjek katekese itu sendiri (Bdk. Meddi, 2017: 28). Melalui katekese manusia dengan seluruh pergumulan kesehariannya, mengembangkan dirinya menuju kedewasaan kristiani.

Katekese kontekstual secara gamblang berarti “katekese yang sungguh masuk dan meresap ke dalam lingkungan dan kenyataan sosial hidup umat” (Heryatno, 2012: 115) sehingga “membantu mereka untuk menghayati dan memperkembangkan imannya dalam kenyataan sosial yang sungguh mereka geluti” (Heryatno, 2012:132-133). Di sini berdasarkan terang Injil, katekese “menggulati, menganalisis, dan menginterpretasikan setiap peristiwa yang terjadi di tengah hidup umat demi terpenuhinya kerinduan umat dan terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah” (Ibid.).

Melalui Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia (PKKI), Gereja Indonesia sudah dan akan terus berusaha untuk membaharui kegiatan katekese di Indonesia. Sejak PKKI pertama, Gereja Indonesia bertekad untuk mengembangkan katekese kontekstual. Tema-tema yang dibahas selama PKKI selalu bersifat kontekstual. Katekese kontekstual itu sering disebut sebagai katekese umat, yakni katekese dari umat, oleh umat, dan untuk umat. Katekese umat itu sarat makna. Secara teologis katekese umat berarti komunikasi pengalaman iman sehari-hari dalam terang Sabda Allah dan ajaran Gereja. Secara antropologis, berarti musyawarah iman dalam terang tradisi Gereja. Secara sosiologis bermakna analisis sosial dalam terang Kitab Suci (Bdk. Lalu, 2007: 85-92).Berbarengan dengan katekese umat, dikembangkan juga Pendidikan Agama Katolik di Sekolah (PAK). PAK dipahami sebagai “rangkaian usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan siswa untuk memperteguh iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran iman Katolik” (Komkat KWI, 2017: 10). Melalui berbagai kegiatan katekeseseperti itu, Gereja Indonesiaberusaha meresapi konteks Indonesia dan mendidik jemaat agar menjadi umat Kristen Indonesia yang dewasa dalam iman dan terlibat secara meyakinkan dalam menegakkan Kerajaan Allah di Indonesia.

Arah pastoral Gereja Indonesia tertuju padaGereja yang mandiri, misioner, dan memasyarakat. Mandiri artinya kita memiliki kepercayaan diri dan tidak hanya menggantungkan hidup pada pihak lain. Kita berjuang untuk mengembangkan dan mengamalkan karisma-karisma dalam kehidupan, aneka layanan Gereja dan masyarakat. Memasyarakat berarti menyatu dengan masyarakat. Kita terlibat dan berperan serta dalam pembangunan bangsa di segala bidang kehidupan. Misioner berarti menyediakan diri untuk diutus sebagai garam dan terang dunia di lingkungan di mana kita berada (Bdk. KWI, 2003:78).

Katekese yang kontekstual harus mampu membimbing umat menuju arah dasar ini. Jemaat yang hendak dibangun adalah jemaat yang diarahkan kepada kedewasaan iman yang mandiri, misioner dan memasyarakat. Secara konkret kedewasaan iman yang demikian memiliki ciri sebagai berikut:

Pertama, orang katolikIndonesia memiliki identitas religius yang benar-benar mempribadi dan berdaya membebaskan. Orang menjadi kristen karena pilihan personal dan tidak pernah menjadi keharusan karena dia dilahirkan sebagai Katolik. Dia bertumbuh dalam kesadaran yang bebas dan mengikuti kekristenan dengan gembira tanpa paksaan dari siapapun. Imannya bertumbuh menjadi iman yang bertangggung jawab sebagai ekspresi dari ketaatan personal pada Kristus yang telah memanggilnya pada persekutuan personal dan eklesial. Iman yang mempribadi seperti ini menyebabkan terjadinya proses pertobatan yang terus-menerus dan menumbuhkan sikap-sikap dasar kekristenan yakni: iman, harap, dan kasih (bdk. Habur, 2014: 317).

Kedua, iman mereka terinkarnasi dalam budaya Indonesia. Di sini orang kristentidak merasa gelisah karena menemukan dirinya terpecah antara iman kristen di satu pihak dan budayanya di pihak lain. Imannya terinkulturasi dalam budaya setempat yang terungkap dalam dialog antara iman dan kebudayaan dengan proses discernment yang terus-menerus, yang berlandaskan dua asas yakni asas kontinuitas dari nilai-nilai budaya yang bersifat positif dan asas diskontinuitas niai-nilai budaya yang menghambat perkembangan martabat manusia dan nilai-nilai Kerajaan Allah (bdk. Hardawiryana, 2001: 19-25).

Ketiga, orang kristen merasa dirinya sebagai bagian dari Gereja Indonesia, terlibat dalam karya perutusan Gereja dengan setia dan dengan motivasi yang benarserta didukung oleh kemandirian dan jiwa kritis-konstruktif. Di sini orang mempraktikkan iman dalam kegiatan-kegiatan Gereja bukan karena ketakutan pada otoritas Gereja, atau supaya dilihat orang, melainkan karena dorongan internal yang lahir dari ketaatan personal kepada cinta Allah (bdk. Alberich, 2001:145).

Keempat, seorang kristen adalah orang yang tidak individualis melainkan bersifat solider dan komunitaris. Dia tidak berpikir tentang dirinya sendiri. Dia peduli pada orang lain: menghayati imannya dalam semangat saling berbagi dan solider. Dia mengedepankan hidup dalam tanggungjawab bersama ketimbang terisolasi dalam dirinya sendiri (bdk. Hardawiryana, 2001: 15-43; Martin Chen, 2012: 34).

Kelima, orang kristen yang dewasa memiliki spiritualitas yang terlibat dan terinkarnasi dalam kehidupan sehari-hari dengan moralitas yang kokoh; seorang kristen yang bertindak demikian bukan terutama kerena kewajiban agama melainkan karena jiwanya secara merdeka terpanggil untuk menyelamatkan keluarga, dunia kerja, politik, ekonomi, dan sosial terutama kemiskinan dan ketidakadilan (bdk. PUK 55; Hardawiryana, 2001: 15-43).

Keenam, dalam konteks pluralitas budaya, iman mereka harus dihayati dalam semangat dialog, melihat yang lain bukan sebagai ancaman, namun sebagai kawan yang bisa bekerja sama untuk saling memperkaya dan menguatkan identitas religius masing-masing (bdk. Habur, 2014: 319; Hardawiryana, 2001:13-24).

Seluruh kegiatan katekese (pewartaan) yang kontekstual dalam Gereja Indonesia harus mampu membentuk manusia kristen yang beriman mandiri,misioner dan memasyarakat. Lantas bagaimana katekese kontekstual itu dijalankan? Di mana katekese itu secara konkret bisa dilaksanakan?

III. Pendekatan Holistik Dalam Katekese

Katekese kontekstual Gereja Indonesia, tak bisa dilepaskan dari gagasan tentang iman. Dalam teologi kristen konsep iman selalu dikaitkan dengan dua istilah teknis yang saling bertalian yakni: fides qua dan fides quae (Agostino, Trinità, 13, 2, 5). Fides qua mengacu kepada penyerahan diri manusia kepada apa yang diimaninya. Sedangkan fides quae berkaitan dengan apa yang diimani (bdk. Fisichela, 2005: 91-96). Orang kristen pada prinsipnya tidak mempercayakan dirinya pada sesuatu melainkan pada “seseorang” yakni pribadi Tritunggal (credere deum) yang diwartakan oleh Gereja melalui ajaran-ajarannya (credere deo), sehingga pribadi Tritunggal itu semakin dikenal dan manusia mau bersatu denganNya dalam penyerahan cinta yang total (credere in deum) (bdk. Tomas Aquinas, Summa Teologia, II-II, q.2, a. 2 et ad). Dalam arti ini iman selalu mengandaikan relasi personal antar dua pribadi, di dalamnya masing-masing pihak mau menyerahkan diri secara bebas.

Dalam relasi iman, inisiatif selalu datang dari Allah. Allah dengan daya RohNya merahmati manusia dan memanggilnya untuk masuk dalam relasi kasih denganNya. Di sini iman seringkali datang dari pendengaran (fides ex auditu). Panggilan Allah selalu berupa tawaran. Manusia dapat menerima namun dapat juga menolak. Manusia bebas menentukan sikapnya. Manusia yang menyerahkan diri dalam iman adalah manusia utuh, manusia dengan seluruh aspek kepribadiannya yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan demikian iman bersifat dinamis dan bertumbuh seturut perkembangan pribadi manusia yang utuh-holistik.

Secara teologis-antropologis iman itu bertumbuh dalam aspek ekstensional yang berkaitan dengan perluasan pengetahuan, aspek intensional yang berkaitan dengan cinta dan persahabatan, dan aspek operasional yang berkaitan dengan aksi dan keterlibatan dalam dunia (bdk. De Rosa, 1999: 227-235). Iman yang berkembang selalu ditandai oleh kedalaman pengetahuan (kognitif), kedalaman relasi personal dengan Tuhan dan sesama (afektif), yang terwujud dalam keterlibatan membangun dunia yang lebih baik (psikomotorik) (bdk. Telaumbanua, 1999: 51).

Pertumbuhan iman seperti itu, lasimnya bermula dari pertobatan (PUK 55). Di sini iman “mencakup suatu perubahan hidup, suatu metanoia, yakni suatu perubahan budi dan hati yang mendalam; iman membuat seorang beriman menghayati pertobatan itu. Perubahan hidup ini menyatakan diri dalam segala tingkat hidup kristiani: dalam hidup batinnya yang penuh pujian dan penerimaan akan kehendak ilahi, dalam tindakannya, partisipasi dalam perutusan Gereja, dalam hidup perkawinan dan keluarga; dalam pekerjaan; dalam memenuhi tanggung jawab ekonomi dan sosial” (PUK 55). Iman yang hidup akan terus berkembang dan berjalan menuju kesempurnaan, dalam persekutuan cinta dengan Tritunggal Mahakudus (Bdk. PUK 56). Semakin orang beriman, semakin dia mengenal Tuhan dan terlibat dalam relasi yang personal serta terlibat dalam pembangunan dunia yang lebih baik. Di sini, iman berkaitan dengan seluruh kepribadian manusia, berkaitan dengan kepala, hati, dan tangan (Purwatma, 2012, 160-161).

Katekese kontekstual sebagai bentuk pendidikan iman orang kristen Indonesia, tak dapat tidak mesti bersifat holistik. Pendekatannya harus menyangkut seluruh pribadi manusia, menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Thomas H. Groome berpendapat bahwa katekese harus menyangkut aspek kognitif agar para peserta memperoleh informasi yang benar mengenai iman sehingga sampai pada keyakinan iman. Ia juga harus menyangkut aspek afektif yang mengarah kepada doa, ibadat, dan spiritualitas, serta menyangkut aspek psikomotorik agar seseorang bertingkah laku seperti Yesus di tengah dunia (Groome, 2002: 80-81). Katekese kontekstual di Indoenesia harus menyangkut kepala, hati dan tangan.

Pendekatan holistik dalam katekese kontekstual Indonesia juga mesti memperhatikan perkembangan iman mulai dari pertobatan awal sampai pada kesempurnaan (PUK 56). Katekese harus terus-menerus mendorong orang untuk bertobat, meneguhkan mereka yang setia pada imannya, dan mendorong umat beriman untuk semakin tegas menyatakan keterlibatannya dalam kehidupan bermasyarakat (bdk. Vallabaraj, 2008: 207-231).

Perspektif yang holistik seperti itu mempunyai dampak tertentu bagi katekese kontekstual Gereja Indonesia. Pertama-tama, katekese harus merupakan komunikasi peristiwa penjelmaan cinta Allah di dalam Kritus. “Di dalam jantung katekese kita berjumpa dengan seorang pribadi, yakni Yesus dari Nazaret” (CT. 5). Di dalam Yesus dinyatakan rencana abadi keselamatan dan pembebasan manusia. Di dalam Dia, manusia menemukan kunci untuk menafsir hidup dan sejarah serta jaminan dari perwujudan kemanusiaannya yang baru. Karena itu katekese harus menjadi komunikasi iman yang membantu orang tidak saja untuk mengenal Kristus melainkan untuk bersatu secara intim denganNya (bdk CT. 5).

Kedua, katekese hendaknya menjadi medan perjumpaan dengan Allah yang terjadi melalui refleksi yang mendalam atas pengalaman manusiawi, personal dan sosialumat. Pengalaman manusiawi sesungguhnya merupakan locus teologicus dari perwujudan diri Allah (revelasi). Melalui pengalaman sehari-hari manusia dipanggil untuk menyingkap kehadiran dan tindakan Allah dan serentak diundang untuk menjawab panggilan Allah itu dengan iman. Di sini, katekese berperan untuk menginterpretasikan pengalaman personal, sosial dan eklesial dalam terang Sabda Allah yang mengarah kepada penerimaan rencana Allah dan mewujudkannya secara konkret dalam pembaruan dunia yang lebih baik (bdk. Soravito, 1998:18 ; Alberic, 2001:91).

Ketiga, katekese juga harus menjadi kegiatan gerejawi dan pendidikan untuk terlibat dalam kehidupan gereja dan perayaan sakramen-sakramennya. Kehadiran Kristus yang bangkit sekarang ini nyata kelihatan dalam komunitas kristiani atau Gereja sebagai tubuhNya yang konkret. Komunitas kristiani merupakan tempat di mana karya keselamatan menyejarah dan dialami manusia. Dalam perspektif ini katekese tidak sekedar mengalihkan ajaran Gereja yang dipeliharanya dalam tradisi, tapi lebih dari itu menjadi kegiatan komunitas umat beriman untuk menafsirkan  ajaran tradisi dan pesan-pesan Kitab Suci dalam konteks keseharian. Selain itu katekese merupakan pendidikan untuk berkomunitas, untuk ikut terlibat dalam karya Gereja karena iman kristen sesungguhnya bersifat eklesial. Penerimaan akan Sabda Allah membentuk satu komunitas: “Satu iman, satu baptisan, satu Allah, Bapa dari semua orang …” (Ef. 4,5-6).

Keempat, katekese adalah pendidikan untuk menjadi pelayan dan saksi iman di tengah dunia. Setiap orang kristen dipanggil untuk menghidupkan identitas baptisannya dalam sejarah: menjadi garam dan terang dunia. Di sini, katekese mendidik orang beriman untuk terlibat dalam kegiatan misioner dan pembangunan dunia. Orang kristen perlu diorong untuk terlibat dan menjadi saksi dalam keluarga, profesi, dan dunia sosial politik.

Katekese kontekstual berciri holistik sebagaimana dijelaskan di atas, mesti melibatkan seluruh komunitas Gereja. Katekese tidak hanya terjadi di paroki atau sekolah namun di semua ruang lingkup katekese seperti keluarga, KBG, paroki, sekolah, asosiasi-asosiasi, media dan komunikasi sosial, dan dalam peristiwa kemasyarakatan sehari-hari.

Keluarga menjadi ruang lingkup katekese yang unik karena di dalamnya nilai-nilai Injili dihidupi dan melalui keteladanan hidup serta komunikasi antar anggota keluarga nilai-nilai tersebut dibuat berakar dalam konteks-konteks nilai-nilai manusiawi yang mendalam.  Atas dasar manusiawi ini, inisiasi kristen lebih mendalam terjadi dalam keluarga: munculnya pengertian tentang Allah; langkah-langkah perdana doa; pendidikan moral hati nurani; pembinaan pandangan kristen tentang cinta manusiawi yang dimengerti sebagai pantulan cinta Allah (bdk. PUK 255).

Sekolah-sekolah (Katolik) merupakan ruang lingkupyang amat penting bagi pembinaan manusiawi dan Kristiani. Deklarasi Gravissimum Educationis menekankan perubahan penting dalam sejarah sekolah-sekolah (Katolik) yakni peralihan dari sekolah sebagai institusi kepada sekolah sebagai komunitas. Sekolah dapat mengembangkan suasana yang dijiwai oleh semangat kebebasan dan kasih; membuat kaum muda, sementara mengembangkan kepribadian mereka, sanggup bertumbuh pada saat yang sama dalam cara hidup baru yang telah dianugerahkan kepada mereka dalam sakramen permandian; dan mengarahkan seluruh kebudayaan manusia pada pesan keselamatan (bdk. PUK 259). Katekese di sekolah bisa dilaksanakan melalui pelajaran agama, namun bisa juga melalui rekoleksi, ret-ret, camping sekolah, dan seminar-seminar hidup beriman.

Tanpa ragu, paroki merupakan ruang lingkup penting di mana komunitas Kristiani dibentuk dan diwujudkan. Paroki dipanggil untuk menjadi sebuah keluarga yang ramah dan bersaudara di mana umat Kristiani menjadi sadar bahwa mereka adalah jemaat Allah. Paroki merupakan tempat biasa di mana iman lahir dan bertumbuh. Oleh karena itu, paroki membentuk sebuah ruang komunitas yang memadai bagi perwujudan dan pelayanan sabda, baik sebagai ajaran maupun sekaligus sebagai pendidikan dan pengalaman hidup (bdk. PUK 257). Di paroki mesti diorganisir katekese-katekese katekumenat, katekese orang muda dalam bentuk teater atau dialog iman, animasi sekolah minggu (sekar-sekami), kursus-kursus perkawinan, seminar-seminar tentang kitab suci dan pokok-pokok iman kristen yang dikaitkan dengan kenyataan konkret kehidupan umat.

Komunitas Basis Gerejani (KBG) juga menjadi ruang lingkup katekese yang efektif (bdk. PUK 263-264). SAGKI tahun 2000 telah menetapkan KBG sebagai cara baru hidup bergereja. Komunitas Basis Gerejani dipahami sebagai satuan umat yang relatif kecil berkisar antara 15-20 keluarga yang mudah berkumpul secara berkala untuk mendengarkan Firman Allah, berbagi masalah-masalah bersama dan mencari pemecahannya dalam terang alkitabiah. Termasuk dalam KBG ini adalah kelompok-kelompok atau paguyuban kategorial yang ingin menghayati iman kristen dengan motiviasi dan tujuan yang khas. KBG teritorial dan kategorial menjadi ruang lingkup khas katekese kontekstual indonesia, karena KBG melalui pelbagai PKKI ditetapkan sebagai locus “katekese umat”.

Dunia komunikasi sosial dan media digital merupakan ruang lingkup yang menarik bagi katekese (bdk. PUK 160; RM 37; EN 45). Sekarang ini dunia digital menjadi peradaban baru pergaulan antar manusia. Internet dan smarthpone adalah simbol budaya baru, budaya milenial. Dalam budaya ini orang tidak tertarik lagi dengan kebenaran-kebenaran yang bersifat universal dan objektif. Klaim-klaim dogmatis agama kurang mendapat tempat. Sebagai gantinya orang lebih tertarik dengan kebenaran-kebanaran subjektif. Setiap orang ingin menjadi sumber informasi, sumber nilai, dan ingin mengkomunikasikannya dengan caranya sendiri. Status-status di face book, twitter, instagram tidak saja datang dari kaum elite penguasa ilmu, budaya dan agama tetapi juga datang dari kampung-kampung dan dapur-dapur kita di pelosok Nusantara. Anak-anak, orang muda, petani, tukang ojek, bapak-bapak dan ibu-ibu rumah tangga, kita semua tanpa kecuali dengan bebas bisa mengungkapkan kegalauan dan penilaian moral terhadap setiap peristiwa melalui dunia digital ini. Mungkin secara gamblang orang tidak peduli dengan kebenaran-kebanaran universal namun di dalam nubari kulturini, tetap ada kerinduan untuk berjumpa dengan kebenaran sejati, dan persis di sini katekesemelalui dialog yang lebih terbuka menjadi mungkin. Secara terencana bisa dikembangkan komunitas-komunitas baru seperti group whatsApp, group face book,twitter dan instagram sebagai komunitas sharing iman dan dialog kehidupan.

Berbagai ruang lingkup katekese di atas mesti diberdayakan dalam rangka mengembangkan katekese kontekstual yang holistik dalam pangkuan Gereja lokal Indonesia.

IV. Kepelbagaian Metode Katekese

Gereja dalam proses pendidikan iman tidak mempunyai metode khusus ataupun metode tunggal.Ada kepelbagaian metode, termasuk dalam katekese kontekstual. Keragaman metode merupakan tanda kehidupan dan kekayaan serta tanda bukti hormat bagi mereka yang berpartisipasi dalam katekese (bdk PUK 148). Prinsip umum metode katekese adalah “kesetiaan kepada Allah dan kesetiaan pada manusia” (PUK 149). Metode harus menjamin perjumpaan yang membebaskan antara Allah dan manusia dan selalu memberi ruang terhadap daya rahmat Allah untuk berkarya menyelamatkan manusia.

Berkaitan dengan katekese kontekstual di Indonesia, pola katekese umat merupakan model yang paling dominan. Katekese umat mengedepankan metode 3 M: yakni mengamati dan menyadari satu fenomena sosial yang ada, menimbang dan merefleksikan situasi yang ada dalam terang Kitab Suci, dan memutuskan rencana aksi untuk bertindak. Secara konkret katekese umat mengelola metode 3 M ini dalam model SOTARAE dan AMOS. Model SOTARAE merupakan singkatan dari situasi, objektif, tema, analisis, rangkuman, aksi dan evaluasi (Lalu, 2007: 98-101) sedangkan model AMOS diambil dari nama nabi Amos dalam Perjanjian lama yang kritik-kritik sosialnya sudah menggunakan metode 3 M (bdk.Bataona, 1996: 18-20). Baik pola SOTARAE maupun pola AMOS menggunakan dokumen berupa cerita, cergam, slide, kliping koran, film sebagai sarana bantu bagi umat KBG untuk mengenali fenomena sosial.

Kritik yang paling umum diarahkan kepada metode 3 M dalam katekese umat selama ini adalah adanya penekanan yang berlebihan pada rencana aksi untuk bertindak. Dengan kecenderungan itu, sering terjadi perikop Kitab Suci diperalat untuk kepentingan rencana aksi tanpa satu penafsiran yang mendalam tentang kandungan makna yang tersirat di dalamnya. Akibatnya, katekese memang mampu merencanakan aksi namun seringkali tidak disertai oleh motivasi yang mendalam karena orang tidak mengalami perjumpaan personal dengan Tuhan dan bisa mengenal Tuhan secara lebih baik melalui katekese. Dalam hal ini tahap mengenal situasi baik sekali disertai oleh satu penafsiran yang lebih eksistensial atas pengalaman personal dan sosial yang disertai penafsiran yang mendalam tentang makna perikop Kitab Suci. Maka mengiringi metode 3 M dalam katekese umat, talk-show, dan seminar-seminar tentang Kitab Suci perlu digalakkan ke depan. Metode talk-show, dan diskusi terbuka dalam seminar-seminar Kitab Suci dan ajaran pokok iman adalah juga metode yang sah dalam katekese.

Selain metode 3 M, metode sharing Kitab Suci dan sharing praksis iman adalah juga metode yang baik bagi katekese kontekstual. Sharing Kitab Suci dengan tahap: membaca, meditasi, kontemplasi, doa, dan aksi sudah sering dipraktikkan dalam kegiatan Bulan Kitab Suci Nasional. Sharing praksis iman atau metode berbagi kisah (naratif-eksperiensial) yang menekankan pengalaman hidup beriman anggota KBG sering disatukan dalam pertemuan kelompok-kelompok Kitab Suci di KBG-KBG. Metode berbagi kisah ini juga baik diterapkan dalam katekese keluarga, ketika orang tua dan anggota keluarga dalam suasana persaudaraan bisa saling membagikan kisah kehidupan iman mereka.

Model PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) merupakan pola yang paling umum digunakan dalam pembelajaran agama Katolik di sekolah. Model ini sangat kontekstual karena dalam prosesnya para siswa didorong untuk mengeksplorasi pengalaman dan pemahaman mereka melalui kerja kelompok, diskusi, penugasan, lalu mengelaborasi pemahaman baru dalam bimbingan guru untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan baru yang mempengaruhi perkembangan iman mereka secara menyeluruh baik dari segia kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Berkaitan dengan PAIKEM, kurikulum 2013 mengedepankan metode saintifik dalam pendidikan iman dan budi pekerti di sekolah. Model saintifik ini mencakup tahap mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi, dan komunikasi. Dalam konteks PAK, mengamati berarti mencermati pengalaman personal dan sosial subjek didik. Pengungkapan pengalaman disusul pertanyaan pendalaman untuk menemukan jejak Allah di dalamnya (menanya). Jejak itu kemudian ditautkan dengan gema Sabda Allah dalam Kitab Suci (eksplorasi). Arah baru yang ditemukan dari perjumpaan antara pengalaman dan gema Sabda dalam Kitab Suci kemudian diaplikasikan dalam rencana aksi (asosiasi), dan tentu semua itu dikomunikasikan dalam pembelajaran yang menyenangkan (komunikasi) (Kotan, 2017, 76-77).

Pola animasi melalui permainan, lagu, gerak, dan tari yang diterapkan oleh SEKAMI, dan sekolah minggu adalah metode yang cocok untuk anak-anak dan remaja. Dalam setiap permainan sering tersembunyi makna kehidupan dan dengan sentuhan refleksi yang menyenangkan, para animator dapat menghantar anak-anak untuk berjumpa dengan Tuhan dan mendorong mereka untuk menjadi garam dan terang dunia. Pola-pola kerygmatis yang mewartakan dengan lantang tentang kisah kasih Kristus yang menyelamatakan perlu juga digalakkan melalui rekoleksi dan ret-ret terutama bagi mereka yang mengalami keraguan iman.Berkaitan dengan penghayatan liturgi yang kontekstual, tetap perlu katekese mistagogis berupa penjelasan tentang makna simbol-simbol liturgis. Dengan sarana bantu media foto, film, atau powerpoint penjelasan tentang makna simbol-simbol akan menarik dan menyenangkan.

Berkaitan dengan dunia digital, metode-metode diskusi dan “curhat rohani” menjadi mungkin ketika terbentuk group face book, group WhatsApp, twitter dan isntagram, dll. Menulis status berupa ayat-ayat emas Kitab Suci seringkali juga menggugah. Membentuk website pewartaan iman Gereja lokal seyogyanya menjadi mungkin ke depan.

V. Penutup: Kebutuhan Akan Pewarta Yang Handal

Pendekatan holistik dalam katekese kontekstual berkaitan dengan pendidikan iman yang integral. Katekese yang integral mencakup pengembangan iman yang bertautan dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Katekese bukan sekedar pengajaran doktrin-doktrin tetapi pendidikan menusia kristiani agar mencapai kedewasaan.

Keberhasilan katekese, dalam hal ini, tidak hanya ditentukan oleh isi dan metode pewartaan melainkan terutama oleh para pewarta. “Tidak ada metodologi, tidak ada masalah betapapun teruji baik, dapat membuang pribadi katekis dari proses katekese pada setiap fasenya. Karisma yang diberikan kepadanya oleh Roh, spiritualitasnya yang kokoh dan kesaksian hidup yang transparan, menjiwai setiap metode. Hanya mutu manusiawi dan mutu kristianinya menjamin pemakaian yang baik dari teks-teks dan alat-alat kerja yang lain” (PUK 156). Keberhasilan katekese kontekstual di Indonesia bergantung pada katekis, baik katekis tertahbis maupun katekis awam yang berijazah maupun yang relawan. Tantangan ke depan adalah bagaimana mempersiapakan katekis yang andal, yang kompeten baik dari segi personal, sosial, maupun dari segi pedagogis-kateketis.

Kuliah kateketik di STFK hendaknya berkontribusi untuk pembentukan para katekis tertahbis. Secara sepintas sylabus yang pernah disusun sudah mengarah kepada pengembangan katekese holistik-kontekstual. Sangat perlu menerjemahkan sylabus kepada bahan ajar yang praktis dan menarik untuk mahasiswa.

************

Catatan redaksi:

  • Dr. Agustinus Manfred Habur, Pr  adalah dosen kateketik  pada STKIP St. Paulus Ruteng, Flores, NTT, serta staf ahli kateketik Komisi Kateketik KWI, Jakarta.

  • Tulisan ini telah dipresentasikan pada Pertemuan Dosen Kateketik di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT)  dan Fakultas Filsafat dan Teologi (FFT) se Indonesia, pada tanggl  13-15 Mei 2019 di Jakarta.

 

Bibliografi:

Alberich E., La catechesi oggi. Manuale di catechetica fondamentale, Leumann (Torino), Elledici, 2001.

Bataona Y.G., Program Amos. Membangun Keadilan di dalam Keluarga dan Masyarakat, Larantuka, Sekpas, 1996.

Chen M., Tahun Rahmat Tuhan Telah Datang. Refleksi Praksis Pastoral 100 Tahun Gereja Katolik Manggarai, dalam Chen M. dan Suwendi C. (ed.),  Iman, Budaya & Pergumulan Sosial, Jakarta, Obor, 2012.

De Rosa G.,  Fede cristiana e senso della vita, Leumann (Torino), Elledici, 1999.

Fisichela R., La fede come risposta di senso. Abbandonarsi al mistero, Milano, Paoline, 2005.

Groom T. H., Christian Religious Education. Sharing Our story nd Vision, San Francisco, HarperCollins, 1980.

Habur A. M., La catechesi del popolo in Indonesia. Per un ripensamento dell’itinerario di educazione alla fede in prospettiva ermeneutica, Roma, UPS, 2014.

—————-, Katekis yang Berkarakter di Era Postmodern, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio, Volume 7. No 1, Januari 2015, 155-161.

—————, Model “Lonto Leok” dalam Katekese Kontekstual Gereja Lokal Manggarai, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio, Volume 8. No 2, Juni 2016, 217-226.

Heryatno W. W., Katekese Kontekstual: Katekese yang Manjing Kahanan, dalam Rukiyanto, B. A. (ed.), Pewartaan di Zaman Global, Yogyakarta, Kanisius, 2012.

Komkat KWI, Katekese Umat, Yogyakarta, Kanisius, 1984.

—————–, Katekese Umat, Komunitas Basis Gerejani, Evaluasi Kurikulum PAK, Jakarta, Komkat KWI, 2002.

—————–, Diutus sebagai Murid Yesus. Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk SMA Kelas XI, Yogyakarta, Kanisius, 2017.

Kotan D.B., Kajian Pengembangan Kurikulum 2013: Mapel Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti, dalam Komkat KWI, Praedicamus, Buletin Katektik Pastoral, Edisi Khusus 2017.

KWI, Pedoman Gereja Katolik Indonesia, Jakarta, Obor, 2003.

Hardawiryana R., Dialog Umat Kristiani dengan Umat Pluri-Agama/Kepercayaan di Nusantara, Yogyakarta, Kanisius, 2001.

Kongregasi untuk Imam, Direktorium Kateketik Umum (terj.), Ende, Nusa Indah, 1991

————–, Petunjuk Umum Katekese (terj.), Jakarta, Dokpen KWI, 2000

Lalu Y., Katekese Umat, Jakarta, Komkat KWI, 2007.

Meddi L., La catechesi oltre il catechismo. Saggi di catechetica fondamentale, Citta’ del Vaticano, Urbaniana University Press, 2017.

Nieman J. R., Mengenal Konteks. Bingkai, Perangkat, dan Tanda untuk Berkotbah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017

Paulus VI, Evangelii Nuntiandi (Mewartakan Injil) (terj.), Obor, Dokpen KWI, 1993

Purwatma M., Katekese di Tengah Perkembangan Ilmu Pengetahuan, dalam Rukiyanto, B. A. (ed.), Pewartaan di Zaman Global, Yogyakarta, Kanisius, 2012.

Soravito L., La catechesi degli adulti. Orientamenti e proposte, Leumman (Torino), Elledici, 1998.

Telaumbanua M., Ilmu Katektik, Hakekat, Metode dan Peserta Katekese Gerejawi, Jakarta, Obor, 1999.

Vallabaraj J., Educazione catechetica degli adulti. Un approccio multidimensionale, Roma, LAS, 2008.

Yohanes Paulus II, Catechesi Tradendae (Penyelenggaraan Katekese) (terj.), Jakarta, Dokpen KWI, 1992.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *