Renungan Pekan Paskah Ke VI: “Apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu”

Bacaan: Kis 15:1-2.22-29; Why 21:10. 14. 22-23; Yoh 14: 23-29

by RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

Dalam bacaan pertama, suatu tonggak sejarah penting, yang diputuskan dalam konsili di Yerusalem memberi inspirasi perjuangan iman. Bahwa  misteri Allah yang menyapa manusia harus tetap menjadi misteri, yang tidak mungkin digariskan dengan hukum-hukum yang mati. Yang penting ialah saling terbuka bagi pengalaman dan pertukaran kebijaksanaan penghayatan iman. Ini bermanfaat bagi perjuangan hidup yang tetap terbangun. Keselamatan tidak terletak pada sunat, tapi pada iman akan Allah yang menyelamatkan. Iman akan Allah dimulai dari wahyu Allah yang mau menyapa manusia dan dilanjutkan dalam tanggapan manusia yang bertanggungjawab atas wahyu itu, maka dalam Gereja terjalinlah hubungan antar manusia yang mau menyalurkan pengalaman imannya kepada sesamanya.

Teks Injil ini merupakan kutipan dari sabda perpisahan Yesus dengan para murid-Nya. Di sini, dilukiskan kesanggupan Kristus untuk mengirimkan Roh-Nya yang akan menjadi penghibur para murid yang ditinggalkan. Roh itulah yang akan meneruskan karya Kristus di dalam kelompok para murid-Nya. Kepergian-Nya kepada Bapa berarti Ia tidak secara nampak nyata  hadir di tengah mereka, tetapi Ia akan hadir dalam Roh-Nya, yang meneruskan karya Kristus, yang memberi semangat/gairah dan kehidupan baru serta penghiburan dalam iman.

Apa yang Yesus berikan kepada para murid-Nya ketika Ia pergi kepada Bapa? Yesus menjanjikan Roh Kudus. Roh Kudus yang “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan segala yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26). Apa yang diberikan ini tidak seperti yang diberikan oleh dunia. Roh Kudus adalah Roh Kristus sendiri. Dan karya Kristus dalam Gereja adalah karya yang dibimbing oleh Roh itu. Roh ini pulalah yang mengikat hubungan Kristus dengan Bapa-Nya, dan umat dengan Bapa dan Putera. Karena bila seorang percaya dan mengasihi Kristus, maka Bapa dan Kristus akan hadir padanya. Kehadiran itu juga kehadiran Roh-Nya.

Selain itu,Yesus menjanjikan kepada manusia damai. Damai yang tidak berasal dari dunia ini, melainkan damai yang didasarkan pada hubungan ilahi. Damai yang adalah suatu situasi penyelamatan, yang timbul dari kerahiman Allah yang mau menyelamatkan manusia. Damai ini adalah pemberian tetapi sekaligus tugas. Pemberian karena datang dari karya Allah, tetapi juga tugas karena masih menjadi sebuah tawaran bagi manusia. Manusia harus mampu menawarkan kepada sesama damai ilahi itu. Yesus minta untuk tidak gelisah dan gentar hati ketika Yesus pergi kepada Bapa. Kita hanya menjadi gelisah dan gentar bila kita tidak hidup dalam damai, dalam kasihNya, bila kita tidak mengasihi-Nya, tidak mengikuti perintah-Nya.

Kehadiran Bapa dan Roh-Nya akan menimbulkan suasana damai. Damai seperti itu bukan hasil perjuangan dunia, melainkan merupakan anugerah Allah. Kedamaian seperti itu bukan karena rasa takut melainkan karena merasakan kasih. Perdamaian seperti itu asalnya dari hubungan batin manusia dengan Allah. Maka damai seperti itu juga akan ditawarkan kepada sesama untuk membangun kehidupan bersama. Kekristenan yang tidak menawarkan perdamaian antar manusia seperti dikehendaki Kristus ini akan kehilangan keterlibatan dan peranannya dalam kehidupan bersama di dunia ini. Kalau demikian, orang Kristen mengabaikan perutusannya yang penting, yakni membawa damai kepada manusia, damai yang berasal dari kerahiman, kasih dan pengampunan.

*******

 

RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR adalah imam asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *