Renungan Hari Raya Jumad Agung:  Biji Gandum yang Jatuh Ke Tanah dan Mati untuk Menghasilkan Buah

Bacaan: Yes 52:13-53:2; Ibr 4:14-16;5:7-9; Yoh 18:1-19:4

by RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR

Hari ini tak pantas kalau kita memikirkan hal-hal lain selain : Wafat Yesus. Kematian Yesus di salib!  Keempat penulis Injil menceriterakan secara terperinci, langkah demi langkah, apa yang terjadi pada hari terakhir hidup Yesus, sejak Perjamuan Malam sampai Ia disalibkan. Upacara hari ini terdiri dari: Keheningan, yang dimulai tanpa lagu, untuk merenungkan dengan sungguh sengsara dan wafat Yesus, selanjutnya bacaan Kisah Sengsara Tuhan, Penyembahan Salib, doa dan Komuni.

Perjumpaan Yesus dan Pilatus adalah simbolisasi pertarungan dua kekuatan besar, yakni pengasa dunia fana dan penguasa kerajaan kekal. Siapa yang lebih berkuasa? Masing-masing punya wilayah sendiri. Jelas Yesus tidak berdaya menghadapi kuasa politis Pilatus yang dapat menjatuhkan hukuman atau eksekusi mati kepadaNya; tetapi yang tidak Pilatus lihat ialah gaung kesaksian Yesus yang tak akan pernah padam. Dari detik itu sampai akhir jaman, secara fisik Yesus tidak ada, tetapi secara spiritual Ia sungguh meraja, karena orang-orang akan berpaling kepadaNya, mempelajari hidup dan karyaNya, serta menata pola iman dan moral yang benar untuk menjawabi Sang Raja Agung yang telah mati di hadapan penguasa dunia. Di sini sungguh terwujud, Yesus menjadi raja di hati banyak orang.

Misteri sengsara dan kematian Yesus tidak akan dapat dipahami oleh orang-orang yang tidak mengimaniNya. Rasul Paulus mengatakan, salib itu batu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi orang yang bukan Yahudi (1Kor 1:23) tetapi justru merupakan kekuatan bagi mereka yang percaya (bdk 1Kor 1:18). Dengan member makna baru kepada Salib, penderitaan Yesus tidak menjadi satu kegagalan tragis melainkan biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati untuk menghasilkan buah (bdk Yoh 12:24)

Pada hari Jumad Agung ini, kita diajak untuk merenungkan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus. Peristiwa ini adalah tanda solidaritas terbesar pribadi Ilahi terhadap manusia berdosa. Namun di sini terjadi pengukuhan takhta spiritual Kristus sebagai Mesias, pemenuh janji keselamatan Allah. Ia bertahkta di hati banyak orang, terutama orang-orang yang bertobat dan berbalik dari kesalahannya. Maka, marilah kita berusaha menjadi bagian dari tahkta Kristus itu. Marilah kita menyebah sujud Kristus yang tersalib, sebab dengan salibNya Ia menebus dunia, menebus dan menyelamatkan kita. Ia Ia pun bertahkta dalam hati kita dan dari sana kitapun bertobat dan berbalik dari kesalahan dan dosa-dosa kita; sebab dalam Dia ada hidup, dan hidup yang kekal.

******

Fransiskus Emanuel da Santo, PR adalah imam asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *