Bacaan: Kel 12:1-8,11-14; 1Kor 11:23-26; Yoh 13:1-15
By Fransiskus Emanuel da Santo, PR
Perayaan mala mini mengajak kita untuk menghadirkan kembali saat-saat akhir Yesus sebelum penyerahan diri-Nya dan wafat secara tragis di palang penghinaan, salib. Kita memperingati apa yang terjadi pada malam perjamuan Yesus yang terakhir bersama para murid kesayanganNya. Sesudah itu, Ia bersama mereka pergi ke taman Getsemani. Di situlah Ia ditangkap lalu dibawa ke istana imam besar seta diadili. Liturgi membatasi diri pada peringatan Perjamuan Tuhan.
Apa yang terjadi dalam Perjamuan Malan. Menurut Injil Sinoptik, Yesus bersama para murid merayakan Paskah Yahudi, yaitu perjamuan selama 3-4 jam dengan berbagai doa, mazmur dan sebagainya. Dalam konteks ini, Yesus mengatakan bahwa seorang murid akan menyerahkanNya; Petrus akan menyangkalNya dan yang terutama adalah tanda Roti-Anggur yang diadakan Yesus di tengah perjamuan itu. Yesus juga mengadakan pembasuhan kaki dalam perjamuan itu.
Bila dibandingkan dengan liturgy mala mini, ada dua hal yang mencolok, yaitu: 1) Pembasuhan kaki dan Perjamuan malam, dan 2) Perjamuan Malam dan penyelamatan dlam wafat – kebangkitan Yesus merupakan kelanjutan pemenuhan karya yang sudah dimulai Allah jauh sebelumnya.
Yesus mengadakan Perjamuan Mala mini sebagai ungkapan keyakinanNya bahwa Kerajaan Allah sungguh akan datang dan akan dinikmati oleh para murid, meskipun harus melalui wafatNya di salib. Tampaknya penyaliban merupakan gagalnya pewartaan Yesus, gagalnya Kerajaan Allah, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Itulah yang diungkapkan Yesus sebagai keyakinanNya yang kokoh dan mendalam, dan keyakinan itulah yang mau dibinaNya dalam diri para rasul. Bahwa Yesus begitu yakin, namun apakah para murid juga yakin? Agaknya mereka tidak begitu yakin sebab sebentar lagi mereka semua akan lari dari Yesus. Mereka tidak akan tahan bersama Dia dalam pencobaan, yaitu saat penyiksaan dan penyaliban oleh para pembesar yang menolak Yesus.
Yesus juga member arti yang sangat jelas dari Perjamuan Malam itu, melalui Roti-Anggur. Yesus memberikan roti-anggur dan berkata, “inilah Aku! Terimalah Aku yang besok wafat untuk mendatangkan pengampunan, Perjanjian Baru dan keselamatan!”. Dan seharusnya para rasul itu tidak hanya menerima untuk makan atau minum dengan mulutnya saja, tetapi mereka hendaknya menerima Yesus sedalam-dalamnya di lubuk hati mereka; bukan Yesus hasil fantasi dan harapan mereka sendiri, melainkan Yesus yang nyata, Yesus yang berlumuran darah, Yesus yang menderita, Yesus yang dibuang oleh bangsanya sendiri, Yesus yang mati tak berdaya, dan tampaknya ditinggalkan oleh Allah. Iman Petrus tidak mendalam, sebab malam itu juga ia akan lari dan menyangkal Yesus. Yesusnya Petrus adalah figure Penyelamat, seorang penyelamat yang serba sukses dan membuat hidup serba enak, yang tidak harus menderita, sengsara dan bahkan mati. Tapi nyatanya, Yesus yang harus diimani adalah Yesus yang nyata, yang berlumuran darah, menderita dan mati,
Seperti Petrus, kita pun terkadang memiliki Yesus menurut gambaran kita dan menolak bahkan mengingkari Dia kalau ternyata Ia harus menderita sengsara dan mati di salib. Maka, merayakan perjamuan Tuhan mala mini, kiranya iman akan wafat dan kebangkitan Kristus jauh lebih kuat daripada iman para rasul dalam perjamuan malam.
Perjamuan malam inipun ditandai dengan pembasuhan kaki; pralambang dan pewartaan mengenai wafatNya. Yang mau ditegaskan oleh Yesus melalui pembasuhan kaki ialah bahwa Yesus harus mati dan dimuliakan. Para Rasul tidak memahaminya. Yesus menjalankan tugas seorang budak, tugas seorang hamba. Bagi mereka Yesus tidak pantas melakukan hal itu. Tidak pantas merendahkan diri dengan tugas seorang hamba. Apalagi seorang Mesias. Karena itu tidak heran kalau Petrus menolak dibasuh. Ia mengakui Yesus sebagai utusan Allah, Guru, Mesias, maka tidak patut membasuh kaki. Petrus bahkan heran ketika Yesus justru menuntut, “Kalau menolak pembasuhan kaki, maka engkau ditolak untuk Kerajaan Allah, tidak selamat”. Petrus pun segera mengaku kalah dengan ancaman Yesus itu, sebab ia ingin selamat, “kalau memang itu syaratnya, ya mandikanlah saja aku seluruhnya supaya aku pasti selamat”, suatu ucapan Petrus yang tidak mengerti.
Pembasuhan kaki merupakan tindakan pralambang, bahwa tindakan itu merupakan puncak pelayanan Yesus sampai mati di salib. Para murid harus mengerti, menerima dan mengimani Dia. Ia wafat bukanlah sebuah kegagalan, tetapi penyelamatan. Inilah jalan yang ditentukan Allah bagi Mesias. “Supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat bagimu”. Teladannya adalah melayani sampai mati. Maka kitapun tidak bisa berbuat lain, selain saling mengasihi, saling melayani. “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”.
*********
RD. Fransiskus Emanuel da Santo, PR adalah imam asal Keuskupan Larantuka, kini berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif, Komkat KWI, Jakarta.

