Percikan Kisah dan Refeksi Hidup Katekis Akar Rumput (4); C Lisli Mugihardjo, ” Menjadi 100% Katolik, 100% Warga Negara Indonesia

C.listi_.jpg

Seperti yang selalu kita dengar bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, demikian pula dengan diri saya mengawali dan termotivasi untuk menjadi seorang kotekis.
Dari Alm. Ayah saya Bapak A. Oyek Moenardi yang seorang katekis militer angkatan I Jangli Semarang oleh Mgr Soegiyopranoto dan ibu yang aktifis gereja. Dari beliau berdualah saya banyak belajar tentang apa itu katekis dan bagaimana menjadi seorang katekis yang betul-betul dapat diterima oleh umat dan calon penerima sakramen Inisiasi.

Begitu hebatnya dimata saya melihat ayah saya menyampaikan pembinaan (Pengajaran) pada siapapun juga yang akan menjadi seorang katolik (sakramen inisiasi) baik penyampaian, metode, begitu sistematis dan mudah diterima siapapun tanpa mereka jenuh dan cuek.

Seiring waktu berjalan saya dipanggil oleh RM Van der Schuren SJ untuk mau mengikuti kursus katekese dan menjadi seorang katekis baik di Paroki maupun di sekolah-sekolah Negeri (± tahun 1976) dimana beliau sendiri yang menjadi kordinatornya. Dan beliaulah awal mula guru, dosen, sahabat saya dalam membentuk diri saya sebagai seorang katekis tentunya kedua orang tua saya yang utama dan terutama. Dari tugas perutusan itulah saya mengawali kegiatan sebagai seorang katekis dilingkungan wilayah Paroki dan juga sebagai guru Agama Katolik di sekolah negeri dan swasta non katolik (tahun 1978).

Banyak sekali kendala yang saya hadapi saat itu, selain prasarana juga keberadaan diri saya disekitar mereka yang non katolik, waktu berjalan disekitar tahun 1981 saya dan suami serta anak-anak pindah rumah (pisah dari ortu) di tempat yang baru daerah Depok. Dari KAJ pindah ke keuskupan Bogor. Profesi saya sebagai katekis tetap melekat dan ditempat baru ini pula saya juga menjalankan tugas penetusan sebagai katekis.

Pelaksanaan tugas pelayanan sangat dan jauh berbeda dengan saat dimana saya berada waktu masih di Jakarta Timur (KAJ). Masyarakatnya belum mau menerima kehadiran orang-orang yang bukan muslim. Banyak kendala yang kami dapat saat itu, tapi kami selalu ingat dengan motto jadilah 100% katolik, 100% WNI maka lama kelamaan kami dapat diterima dan berbaur dengan masyarakat di sekitar perumahan.

Kendala tidak hanya kami terima dari masyarakiat saja, tapi juga dari gereja. Karena waktu itu Herkulanus Depok masih stasi dan Romonya hanya Rm Koesnen maka untuk pembinaan dan tugas-tugas pelayanan otomatis semua berasal dari diri saya sendiri (dari buku-buku refrensi, jadwal, metode dllnya).

Begitu pula saat awal saya mengajar di SDN Mardi Yuana Depok tahun 1981an, walaupun sekolah Katolik tapi cirri khas sekolah katoliknya tidak ada sama sekali. Sampai saya dipanggil oleh kepala pimpinan karena mengajar membuat tanda salib dan memasang salib di kelas-kelas. Kendala dan tantangan demi tantangan sebagai katekis harus saya lalui, saya sudah bertekad dalam jiwa saya mengalir darah seorang katekis dan Tuhan sudah memberikan banyak talenta pada saya dalam tugas penitisan ini.

Perjalanan waktu yang panjang akhirnya saya terdampar di DIY dengan tugas sebagai seorang PNS dan jabatan penyuluh agama katolik, saya mempunyai tugas yang tidak mudah dan ringan. Beruntung karena saya tinggal di daerah Paroki Kidul Loji dimana kerikepan DIY berpusat maka saya termotivassi kembali untuk terus tetap setia menjadi katekis. Di kota inilah saya mendapat banyak sekali pengalaman-pengalaman penting tentang iman katolik dan bagaimana mengkordinasikan tugas serta bagaimana menjadi seorang katekis yang tahan banting.

Pembinaan iman dari bayi – lansia saya pelajari dan ikuti dengan penuh ketekunan dan serius. Dan saya akui bahwa di KAS inilah saya betul-betul mendapat modal yang luar biasa sebagai katekis maupun guru agama. Ilmu, sarana prasarana, dan lain-lainnya betul-betul sangat bermanfaat menunjang tugas saya. Tentunya masalah dan suka dukanya ada.
Tapi, Tuhan berkehendak lain, disaat saya mengalami kebahagiaan, enjoy luar biasa saya harus pulang/pindah kembali ke Jakarta dan berdomisili di Depok (Jawa Barat) keuskupan Bogor.

Dan akhirnya di Paroki St. Thomas Kelapa Dua Depok inilah tugas perutusan sebagai katekis kembali saya laksanakan. Begitu saya masuk di Paroki ini sangat kaget dan bingung karena permasalahan tentang katekese sangat komplek, saya harus memulai dari awal kembali dan bekal satu-satunya dalam tugas perwartaan adalah pengalaman saat berada di Komkat kevikep DIY dan KAS.

Pembinaan iman dari PAUD – Lansia betul-betul tidak terprogram alias asal ada dan jalan, merintis dari awal tidaklah mudah, merubah system dan budaya peru berjuang dan mental yang kuat. Penolakan untuk adanya perubahan penuh dengan tantangan dan resiko, tidak hanya dari umat tetapi juga dari rekan-rekan katekis yang ada yang mayoritas adalah katekis volunteer dan usia sudah sepuh.

Banyak keluarga-keluarga katolik yang sama sekali tidak mau memahami tentang tumbuh kembangnya iman anak-anaknya, tidak hanya itu yang usia dewasa saja tidak peduli dengan apa itu Sakramen Inisiasi.

Permasalahan tidak hanya dalam hal pembicaraan iman tapi juga dari diri pribadi katekis yang tidak mau berubah untuk mau menerima perubahan metode, refrensi buku sampai pada kemajuan IPTEK. Sampai saat ini yang menjadi kendala saya adalah :
-Belum adanya satu rumusan tentang katekese di Paroki
-Buku pegangan para katekis masih belum seragam
-Silabus dan Gagasan Dasar untuk S. Inisiasi tidak ada sehingga materi dan metode pengajaran sesuka hati katekisnya.
-Belum adanya jejaring/mitra kerja antara katekis baik di Dekenat/keuskupan
-Masih belum ada perhatian Gereja dengan keberafaan katekis
-Belum adanya kepedulian para guru agama katolik formal yang mau dan bergabung untuk aktif dalam katekese /sebagai katekis
-Perlunya modul-modul pembelajaran yang resmi dari keuskupan sebagai patokan dalam pembelajaran tingkat paroki.
-Adanya pembinaan bagi para katekis secara terus menerus dan berkesinambungan.
-Tidak ada kepedulian umat, lingkungan, wilayah dan DPP pada pembinaan katekese.

Dengan demikian harapan saya pribadi pembinaan iman tidak hanya dilaksanakan oleh para katekis tetapi juga peran orang tua, lingkungan, wilayah dan umat sendiri turut berpartisipasi. Pembinaan iman terus berlangsung diselenggarakan dari usia dini – Lansia sehingga mereka terus terpupuk dan berkembang akan iman katoliknya.

C Lisli Mugihardjo, Katekis Paroki St. Thomas Kelapa Dua Depok
Keuskupan Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *