Sekitar 18 Mahasiswa semester dua dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, program studi Ilmu Pendidikan Teologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta berkunjung ke sekretariat Komkat KWI dalam rangka studi tentang Sejarah Katekese (pewartaan) Gereja Katolik Indonesia. Dosen pendamping, DR. Yap Fulan pada acara perkenalan menjelaskan bahwa tujuan kehadiran para mahasiswanya di Komkat KWI adalah untuk mendapatkan informasi secara langsung dari sumbernya tentang sejarah katakese Gereja Katolik Indonesia dari dulu hingga sekarang.
Sekretaris Komkat KWI, P. Leo Sugiyono, MSC mengawali penjelasannya dengan memperkenalkan struktur Lembaga KWI serta para pimpinannya. KWI dipimpin oleh suatu presidium dimana pada saat ini diketeuai oleh Mgr. Igansius Suharyo, uskup Agung Jakarta, dan Sekjen Mgr. Antonius Bunyamin, uskup Bandung. Untuk melaksanakan tugas sehari-hari di Komisi, Lembaga, Sekretariat, Departemen,(KLSD) maka Presidium KWI mengangkat sekretaris eksekutif, sekaligus sebagai Direktur kantor KWI, dan sekretaris-sekretaris disetiap KLSD. Khusus untuk Komkat KWI, sekarang ini dipimpin oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur, uskup Bogor, dan Rm. Leo Sugiyono sebagai sekretaris. Selain Ketua dan Sekretaris, kepengurusan Komkat KWI juga terdiri dari wakil-wakil regio Komkat (6 regio) , ahli kateketik, ahli teologi, ahli kemasyrakatan.
Berkaitan dengan karya pewartaan Gereja Katolik Indonesia, P. Leo menjelaskan sejarah lahirnya Komisi Kateketik dan rupa-rupa bidang karya Komkat KWI selama ini. Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia (PKKI) merupakan unsur penting dalam sejarah katakese di Gereja Katolik Indonesia. Selain PKKI yang dilaksanakan empat tahun sekali, juga ada kegiatan Pernas Katekis yang diselenggarakan 5 tahun sekali. Peserta PKKI adalah pengurus struktural Komkat Keuskupan, wakil-wakil lembaga Pendidikan Tinggi Kateketik, wakil STFT (Sekolah Tinggi Filsafat Teologi = calon imam). Semnetara peserta Pernas Katekis adalah para katekis lapangan atau katekis akar rumput yang berkarya di seluruh wilayah keuskupan di Indonesia.
Fokus kegiatan Komkat KWI dalam beberapa tahun terakhir, demikian Pater Leo adalah Kurikulum Pendidikan Agama Katolik, Komunitas Basis Gerejani, serta penulisan buku-buku baik untuk pengajaran agama Katolik di sekolah maupun buku untuk pembinaan iman umat.
Pada kesempatan berikutnya P. FX Adisusanto, SJ menjelaskan tentang latar belakang Komunitas Basis Gerejani (KBG) dan bagaimana perkembangannya di Indonesia. Sharing Injil 7 langkah dari ASIPA (Asian Integral Pastoral Aproach) merupakan salah satu model dalam kegiatan KBG. Ketujuh langkah versi ASIPA dijelaskan secara secara garis besar oleh Pater Adisusanto yang kini menjabat sebagai Kepala Dokpen KWI.
Selanjutnya Bp. Daniel Boli Kotan berbagi pengalaman tentang pekerjaan-pekerjaan dilakukan di Komkat KWI, khususnya dalam bidang pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Katolik, penulisan buku-buku pelajaran agama Katolik, serta diklat guru-guru agama Katolik di daerah-daerah. Sebagai alumnus Prodi P.Teologi Unika Atma Jaya Jakarta, Daniel menjelaskan bahwa ilmu yang diperoleh waktu kuliah di Atma Jaya tentu sangat berguna untuk melaksanakan pekerjaan di Komkat KWI. Di Unika Atma Jaya Jakarta kita belajar menjadi manusia pembelajar. Artinya bahwa kita dibentuk mentalitas belajar sepanjang waktu untuk terus meningkatkan kompetensi diri menghadapi berbagai tantangan zaman.
Setelah menyampaikan informasi seputar sejarah serta kegiatan-kegiatan Komkat KWI , para mahasiswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan informatif terkait dengan informasi-informasi yang telah mereka terima. Sebagai bekal untuk kembali ke kampus, Komkat KWI memberikan masing-masing mahasiswa satu buku dari hasil studi para uskup KWI tentang katekese. (sekretariat Komkat KWI).

