Ratusan Instruktur Nasional Siap Melatih Guru

Mendikbud Anies Baswedan sedang memberikan pengarahan

Sebanyak 598 instruktur nasional siap melatih guru mengenai materi-materi yang terkandung di dalam Kurikulum 2013 yang telah direvisi. Instruktur nasional ini terdiri dari guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, widyaiswara, dan dosen.

Hal ini dikemukakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan saat menutup pelatihan Kurikulum 2013 bagi instruktur nasional yang berlangsung selama lima hari. Pelatihan berakhir Kamis (24/3) di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Meski pelatihan 52 jam ini sudah berakhir, saya harap proses belajar tetap berlanjut. Kembangkan sebanyak-banyaknya teknik mengajar. Temukan hal yang baru dan bagikan agar bahan yang ada semakin kaya,” tutur Anies.

Peserta pelatihan instruktur nasional berjumlah 666 orang. Jumlah ini terdiri dari 120 orang tingkat SD, 135 orang tingkat SMP, 224 orang tingkat SMA, serta 187 orang untuk SMK. Dari seleksi, terpilih 598 orang.

Ia mengingatkan instruktur nasional dan guru untuk berani berimprovisasi. Mereka diharapkan belajar dari pengalaman orang lain dan dari lapangan. “Kita tidak mau pelatih hanya membaca PowerPoint, tetapi pelatih mempraktikkan metode-metode pembelajaran aktif seperti yang diinginkan Kurikulum 2013,” ujar Anies. Dalam pembelajaran aktif, guru menjadi fasilitator yang mengajak peserta didik untuk aktif. Anies mengingatkan, hal ini bukan berarti guru menyerahkan beban kepada peserta didik.

Praktik semacam itu yang selama ini dinilai terjadi sehingga murid terbebani. “Pembelajaran aktif tersebut bukan berarti anak-anak disuruh belajar sendiri dan ditinggal. Guru tetap harus hadir dan memfasilitasi murid,” ucap Anies.

Pelatihan kurikulum dilakukan secara berjenjang. Setelah mengikuti pelatihan dengan narasumber nasional, instruktur nasional akan memberikan pelatihan kepada instruktur provinsi yang mencapai 3.661 orang. Menurut rencana, pelatihan akan dilakukan pada minggu kedua hingga keempat April 2016. Selanjutnya, instruktur provinsi akan melatih instruktur kabupaten/kota (66.564 orang).

Dari kabupaten/kota, instruktur akan melatih sekolah sasaran dengan jumlah peserta 285.698 guru dan kepala sekolah. Seluruh pelatihan Kurikulum 2013 diharapkan selesai sebelum akhir Juli 2016 atau sebelum tahun ajaran baru 2016/2017 dimulai.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad menambahkan, pelatihan instruktur nasional dilakukan oleh fasilitator dan ratusan narasumber nasional yang terdiri dari unsur guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah yang terlibat dalam penyusunan Kurikulum 2013.

Pelatihan dirancang interaktif dan partisipatif sehingga peserta terdorong untuk mengelaborasi pemikiran dan kemampuan mereka dalam bentuk diskusi kelas. Instruktur nasional kemudian dinilai oleh narasumber nasional berdasarkan kriteria paradigma dan pemahaman, kemampuan fasilitasi, serta sikap.
“Setelah ini, hal yang terpenting adalah pengawasan dan pendampingan pelatihan sampai di tingkat sekolah. Kita tidak ingin peserta sekadar hadir di pelatihan selama 52 jam. Harus betul-betul paham dan dibuktikan dengan tindakan di kelas supaya Kurikulum 2013 terlaksana,” tutur Hamid.

Kemampuan literasi guru

Dalam sebuah seminar di Jakarta, terungkap bahwa kemampuan literasi guru sangat berpengaruh dalam metode mendidik siswa untuk berpikir kritis dan memahami materi pelajaran. Apabila fondasi berpikir sistematis sudah dikembangkan sejak dini, siswa pun akan mudah memahami mata pelajaran.
Hal tersebut mengemuka dalam seminar literasi guru bertajuk “Membangun Generasi Indonesia yang Lebih Cerdas Melalui Literasi Sains”, yang diadakan oleh Kuark di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Kamis (24/3). Kegiatan ini dihadiri 150 guru SD sederajat dari Jakarta Timur dan Bekasi, Jawa Barat.
“Kebanyakan guru dan orangtua tidak memahami pentingnya pelafalan dalam membaca,” papar psikolog pendidikan Universitas Padjadjaran, Indun Lestari Setyono. Banyak guru dan orangtua terjebak menyuruh anak menghafal abjad sedari usia dini. Padahal, hal terpenting ialah mengajar anak melafalkan kata dengan benar.

Jika pelafalan tak dilatih dengan baik, anak sulit menangkap konsep dan makna kata tersebut. “Kesulitan melafalkan kata dengan benar adalah salah satu penyebab generasi muda Indonesia sukar membaca,” ucap Indun. Hal itu terjadi karena mereka tidak bisa memahami arti rangkaian kata yang dibaca. “Tanpa membaca, pengetahuan akademis tidak bertambah,” kata Indun. (DNE/LUK)

Sumber artikel/berita : Harian Kompas 26 Maret 2016
Foto/gambar: by Daniel Boli Kotan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *