Pentas “Wayang Udanmas” meriahkan Pernas Katekis

wayang kateketik.jpg

Pertemuan Nasional Katekis III yang diselenggarakan Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia (Komkat KWI) dimeriahkan pementasan wayang kontemporer dengan lakon “Wayang Udanmas” oleh komunitas pengguna dan peneliti air hujan kawasan Gunung Merapi timur di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Pementasan wayang diselingi dengan dialog budaya air hujan antioksida di aula Pusat Pelayanan Pastoran Sanjaya Muntilan, Kabupaten Magelang, Jateng, belum lama ini dengan dalang Agus Bima Prayitno itu, berlangsung dalam durasi padat.

Selain ditonton para peserta kegiatan selama 22-25 September 2015, dalam pementasan juga hadir antara lain Ketua Komkat KWI yang juga Uskup Agung Makassar Mgr John Liku Ada dan Vikjen Keuskupan Agung Semarang Romo F.X. Sukendar.

Suguhan musik islami “Santi Swara” oleh para santri Pondok Pesantren Modern Sunan Kalijaga Dusun Karangasem, Desa Dengkeng, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten pimpinan Kiai Susilo Eko Pramono, kesenian Ganjur oleh komunitas Hindu Desa Jiwan, Klaten, dan tarian Joget Biyung Bibi oleh masyarakat mitologi Merapi timur, juga menjadi penyela pergelaran wayang tersebut.
Para penyaji Gelar Budaya Air Hujan tersebut adalah kalangan pengguna dan peneliti secara mandiri manfaat air antioksidan yang dipelopori kelompok Laboratorium Kandang Udan pimpinan rohaniwan Katolik yang juga penerima Penghargaan Kebudayaan 2015 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Romo V. Kirjito.

Agus Bima yang juga seniman itu, menyebut pementasan wayang kontemporer sebagai kesenian “Jantur” yang dimanfaatkan untuk menyebarluaskan berbagai pengalaman dan hasil penelitian secara mandiri masyarakat, terutama di kawasan Merapi timur di Klaten selama beberapa tahun terakhir, tentang manfaat air hujan melalui proses elektrolisis air secara sederhana, mudah dibuat, dan berbiaya murah.
Dalam penelitian, mereka menggunakan standar air bersih dari Badan PBB untuk Kesehatan Dunia (WHO), yakni TDS (“Total Dissolved Solid“) atau jumlah zat padat terlarut 50 ppm (part per million) dan air basa dengan pH (potential of Hydrogen) 8-9, sedangkan kandungan oksigen lebih dari empat ppm.

Pentas “Wayang Udanmas” bercerita tentang pencarian Dewi Sekartaji terhadap suaminya Panji Asmara Bangun. Panji Bangun diceritakan sedang mengembara dan menyamar sebagai Enthit untuk mencari ilmu pengetahuan dan pengalaman guna persiapan menggantikan ayahnya sebagai Raja Jenggala. Dalam pencariannya itu, Dewi Sekartaji menjadi Ragil Kuning. Dikisahkan oleh Sang Dalang, keduanya diangkat sebagai anak pasangan Ki Gayong dan Nyai Kemangi yang tinggal daerah subur dengan masyarakat hidup sejahtera dengan air yang bersih serta melimpah, di kawasan Gunung Bibi (Merapi tua).
Ragil Kuning pada akhirnya mengetahui siapa sesungguhnya Enthit, setelah berubah wujud menjadi Panji Asmara Bangun, setelah berhasil mengalahkan para penjarah “udanmas” (hujan emas) di Pedukuhan Karang Purwa di kawasan Merapi timur, tempat tinggal mereka.

“Pesan dari pementasan ini, supaya para penguasa selalu ingat kepada desa, supaya masyarakat luas semakin mencintai dan melestarikan air yang berkualitas,” kata Bima. (Rima.news.com)

Sumber: indonesia.ucanews.com
Gambar: Daniel B.Kotan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *