(Radio Vatikan) Paus Fransiskus sudah kembali ke Vatikan setelah perjalanan apostolik selama 10 hari di luar negeri yaitu ke Kuba, Amerika Serikat termasuk berpidato pada sidang tahunan PBB di New York. Selama penerbangan yang membawanya kembali ke Roma ia berbicara kepada wartawan di pesawat Kepausan, menyangkut banyak isu termasuk skandal seks atau pelecehan seksual di Gereja, hak untuk menjadi penentang, perjanjian damai di Kolombia, migrasi pengungsi dan Sinode Keluarga yang akan datang.
Linda Bordoni salah satu wartawan menyampaikan laporan ini: Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Sri Paus oleh 11 wartawan dalam bahasa yang berbeda, dijawab Paus Fransiskus. Tanya jawab ini berkisar pada isu politik dan pribadi Paus sendiri.
Di Amerika Serikat Paus diterima dengan hangat, riang dan ekspresif. Gambaran kehangatan, kegembiraan, ekspresif itu digambarkan Paus dalam satu kata: indah. Paus Fransiskus mengatakan bahwa tantangan terbesar bagi Gereja AS adalah tetap dekat dengan orang-orang dan menemani mereka di masa baik dan buruk. Paus mengulangi kecamannya terhadap imam yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak. Puas menandaskan bahwa pelecehan seksual tidak terbatas pada Gereja tetapi itu lebih buruk jika dilakukan oleh orang-orang dari agama yang mengkhianati panggilan mereka.
Dia menjawab pertanyaan mengenai sinode tentang keluarga mendatang. Menurut Bapa Suci, sejatinya tidak ada “perceraian Katolik”. Gereja memiliki tanggung jawab mempersiapkan pasangan, jauh lebih baik untuk komitmen seumur hidup mereka untuk menikah. Dia berbicara tentang “keberatan nurani” yang katanya harus masuk ke dalam setiap struktur yuridis karena merupakan hak.
Menjawab pertanyaan tentang hambatan di Eropa untuk menghentikan masuknya migran, Paus mengatakan: “Semua dinding bakal runtuh cepat atau lambat”. Solusinya, kata dia, harus ditemukan melalui dialog. Dengan melakukan hambatan, lanjutnya masalah tetap ada dan dengan itu akan lebih menimbulkan kebencian.
Seorang wartawan berkata bahwa ia (Paus Fransiskus) telah menjadi “bintang” di Amerika Serikat, kemudian ia bertanya, “Paus Fransiskus, apakah ini baik bagi Gereja? “Media menggunakan istilah ini”, dia menjawab, “tetapi Paus adalah hamba dari para hamba Allah.” Berapa banyak bintang yang kita lihat yang keluar dan jatuh ” katanya,”.
Sumber:http://en.radiovaticana.va/news/2015/09/28/
foto: Reuters
Translated by Daniel B. Kotan
