“Psikologi Pendampingan Keluarga” oleh Ibu Lidwina Wahyu Widayati (Ibu Wida)
BANDUNG — Komisi Kateketik Regio Jawa menggelar kegiatan Temu Karya dengan mengusung tema “Berjalan Bersama Keluarga Mewujudkan Katekese yang Misioner”. Acara yang berlangsung pada Rabu, 9 September 2026 ini menghadirkan sesi pemaparan mendalam mengenai psikologi pendampingan keluarga yang dibawakan oleh Lidwina Wahyu Widayati.
Dalam pemaparannya, Lidwina menyoroti berbagai tantangan psikologis yang dihadapi oleh keluarga modern di era digital. Saat ini, pola pengasuhan telah bergeser seiring hadirnya beragam figur pengasuh baru, mulai dari anggota keluarga, pengasuh, hingga pengaruh internet dan perkembangan Artificial Intelligence (AI) Companion.
Tantangan Era Digital dan Eksploitasi Siber
Perkembangan teknologi yang pesat dinilai membawa dampak signifikan pada perilaku anak dan remaja. Kebiasaan masa lalu seperti bermain di luar ruang dan berinteraksi secara fisik kini banyak tergantikan oleh aktivitas gawai, seperti scrolling media sosial, game online, dan interaksi virtual.
Ibu Lidwina menggarisbawahi kecenderungan Childhood Unbound—kondisi ketika anak-anak memiliki akses tanpa batas lewat internet—serta sikap Self-Entitled. Lebih lanjut, keterpaparan dunia digital tanpa pengawasan yang memadai berisiko memicu kecanduan ponsel, penurunan kebugaran fisik, hingga ancaman eksploitasi di dunia maya. Bentuk eksploitasi siber seperti grooming, sexting, sextortion, online enticement, deepfake, hingga non-consensual sharing menjadi ancaman nyata yang perlu diwaspadai oleh setiap orang tua.
Menguatkan Sistem Keluarga dari Dalam
Menjawab tantangan tersebut, pemateri menekankan pentingnya melihat keluarga sebagai suatu sistem yang saling memengaruhi. Ketika seorang anak mengalami masalah perilaku atau emosi, respons utama yang disarankan bukan sekadar menyalahkan anak, melainkan merefleksikan kembali dinamika relasi dan komunikasi di dalam rumah.
Empat langkah kunci dalam membangun relasi dengan anak Generasi Alfa meliputi:
- Digital Parenting: Meningkatkan literasi teknologi orang tua guna membimbing anak menjadi pengguna gawai yang cerdas dan bertanggung jawab.
- Komunikasi Dua Arah: Mengembangkan pola komunikasi dengan aktif bertanya, mendengarkan tanpa memotong, serta mau belajar dari anak.
- Ketangguhan Keluarga (Family Resilience): Menerapkan model ketangguhan melalui apresiasi, afeksi, komunikasi terbuka, komitmen, alokasi waktu bersama tanpa gawai, spiritualitas, serta kemampuan mengelola krisis secara bersama-sama.
- Interaksi dengan Alam: Mendorong anak mengurangi screen time dan menimba energi melalui aktivitas fisik di udara terbuka.
Mewujudkan “Keluarga Berdampak” dan Peran Katekis
Sesi ini juga mengajak peserta untuk memahami alur pertumbuhan keluarga, mulai dari pengembangan diri (Aku), penguatan internal (Kami), hingga kepedulian terhadap lingkungan sekitar (Mereka). Konsep “Keluarga Berdampak” ditunjukkan melalui lima bentuk tindakan: berbagi, merawat lingkungan, hadir bagi sesama, peduli pada yang membutuhkan, serta melayani masyarakat.
Di akhir sesi, ditegaskan peran strategis katekis di masa kini. Katekis dipanggil tidak hanya sebagai penyampai materi atau ritual keagamaan, melainkan sebagai pendamping yang membantu keluarga menemukan cara-cara baru yang realistis untuk menghidupi nilai iman, keteladanan, dan kasih dalam konteks kehidupan modern.