Renungan Hari Minggu Paskah VI : “Mengasihi Dalam Ketaatan”

Bacaan: Kis. 15:1-2, 22-29; Why. 21:10-14, 22-23; Yoh. 14:23-29.

Ketaatan adalah sesuatu yang mudah bila kita diminta melakukan sesuatu yang enak dan yang menyenangkan. Ketaatan menjadi sesuatu yang sangat sukar bila kita harus mengerjakan sesuatu yang mendatangkan penderitaan dan ketidak-nyamanan. Padahal, ketaatan yang total seharusnya tidak pandang bulu. Justru ketaatan yang tertinggi diuji ketika kita diperhadapkan pada tugas yang berat. Tuhan Yesus menaati Bapa-Nya dengan ketaatan yang luar biasa. Dia taat dalam merealisasikan rencana penebusan Bapa yaitu dengan menderita sampai mati disalibkan.

Ketaatan Tuhan Yesus ini seharusnya menjadi inspirasi dan model bagi kita untuk menaati entah orangtua, pimpinan atau sesuatu/seorang yang harus kita taati.. Adakalanya, kita diminta  melakukan sesuatu yang kita tidak sukai. Di sinilah kita harus menunjukkan ketaatan besar yang tidak keluar dari keterpaksaan melainkan kasih yang tulus. Selama perintah orangtua atau pimpinan atau siapapun demi untuk kebaikan kita dan tidak menghalangi iman kita kepada Kristus maka kita terpanggil seperti Kristus untuk menaatinya. Ketaatan penuh kasih. Bagaimana Tuhan Yesus menghubungkan antara kasih dan ketaatan (ay. 23-24, 31)? Bagaimana keteladanan Tuhan Yesus yang menaati Bapa-Nya menolong kita juga untuk taat kepada orangtua atau pimpinan, atau siapapun di bumi?

Damai sejahtera yang diberikan Tuhan Yesus adalah kesiapan menerima datangnya masa depan, dalam bentuk apa pun, baik segala sukacita dan penderitaan atau dukacita. Dosa, ketakutan, ketidakpastian, keraguan, dan berbagai kuasa jahat merupakan perang yang terus menerus dalam diri kita. Akan tetapi damai sejahtera dari Allah akan menyingkirkan semua itu dari hati dan pikiran kita, sepanjang kita memberi tempat damai sejahtera itu dalam hati kita, menjadikan ia berkuasa dalam hidup sehari-hari (Flp 4:6-7). Inilah model damai sejahtera dari Allah.

Buah dari ketaatan itu adalah menerima pemberian damai sejahtera dari Tuhan Yesus yang bersifat kekal. Damai sejahtera itu berbeda dengan damai sejahtera dunia, sebab damai sejahtera itu juga akan diakhiri dengan penggenapan janji-janji Tuhan kepada orang yang percaya. Karena itu, tetaplah taat dan patuh penuh kasih pada firman, maka sukacita akan menanti.

Yesus menjanjikan Roh Kudus kepada para murid-Nya, bahwa Roh Kuduslah yang akan mengajarkan segala sesuatu.  Para murid tidak perlu kuatir, sebab dengan kepergian-Nya maka pengganti-Nya akan datang yakni Penghibur, Penolong, Roh Kebenaran yang sama kuasa-Nya dengan Dia. Pedoman yang diberikan Tuhan Yesus dalam percakapan itu memberikan pelajaran kepada kita tentang  mengasihi berarti menuruti firman dari Bapa, tentang Roh Kudus yang mengajar dan mengingatkan, menerima damai sejahtera dari Yesus serta sukacita karena semua digenapi

Peran Roh Kudus mengembangkan kemampuan kita untuk memahami maksud firman itu. Ada ciri khas ketika kita belajar firman dan kemudian Roh Kudus bekerja, yakni adanya sukacita dan damai sejahtera saat kita terbuka hati menerima-Nya.  Seolah-olah ada kuasa baru, pemahaman baru, dan buahnya adalah bahwa  kita semakin mengasihi Yesus dan ingin berbuat sesuatu bagi Dia. Roh Kudus terus bekerja dan berkata-kata dalam hati kita sepanjang kita berseru memanggil-Nya (1Yoh 2:20). Dalam kerangka inilah apa yang dimaksudkan Tuhan Yesus, bahwa Penghibur kita yakni Roh Kebenaran itu akan mengajar dan mengingatkan kita. Kesadaran akan peran Roh Kudus membuat semakin kita memahami akan kebenaran firman itu sendiri.**

 

Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr: Sekretaris Komkat KWI

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *