Bacaan: Kis. 1:1-11; Ef. 1:17-23 atau Ibr. 9: 24-28, 10:19-23; Luk. 24: 46-53.
“Ketika sedang memberkati mereka, Yesus terangkat ke Surga.”
Sebuah perpisahan pasti tidak menyenangkan. Apalagi bila kebersamaan telah terbangun lama, relasi sedemikian akrab, menyikapi perpisahan pastilah tidak mudah. Demikianpun para rasul ketika Tuhan Yesus naik ke Surga. Keterpisahan dilambangkan dengan awan yang menghalangi pandangan para rasul menatap Tuhannya. Berpisahnya para murid dengan Yesus, yaitu ketika Ia terangkat ke surga, justru menghadirkan sukacita di antara mereka. Hal apa yang membuat para murid dapat bersukacita di tengah kenyataan akan berpisah dengan Yesus, Guru dan Tuhan mereka?
Mereka mengerti Kitab Suci. Para murid bersukacita karena mereka melihat maksud Allah di balik semua peristiwa yang mereka alami bersama Yesus. Pengertian akan kebenaran membuat seseorang memahami bahwa segala sesuatu terjadi menurut rencana Allah.
Mereka akan menerima Roh Kudus. Tuhan tidak meninggalkan mereka seorang diri, tetapi akan mengirimkan kuasa yang memperlengkapi mereka dalam memberitakan pengampunan dosa dan menyerukan pertobatan kepada segala bangsa. Mereka juga menerima berkat dari Tuhan. Berkat dari Allah merupakan peneguhan otoritas bagi mereka sebagai pemberita Injil. Dan, mereka adalah saksi mata. Betapa bahagianya mereka dapat menyaksikan secara langsung peristiwa terangkatnya Yesus ke surga, sehingga bukan dari kata orang mereka mendengar hal tersebut.
Kebangkitan Tuhan Yesus telah menimbulkan kegembiraan para rasul. Tetapi tiba saatnya para rasul harus berpisah ketika Tuhan Yesus naik ke Surga. Secara fisik mereka tidak lagi dapat memandang Tuhannya, namun janji Tuhan Yesus akan mengutus Roh Kudus telah menumbuhkan sukacita akan pengharapan bahwa Tuhan tak akan meninggalkan mereka. Maka mereka berkumpul di Yerusalem menantikan karunia Roh Kudus.
Demikianpun kita para pengikut Tuhan Yesus, seringkali mengalami dalam perjalanan kehidupan rasa hampa, jauh dari Tuhan. Karena keputusasaan akibat berbagai kekecewaan yang melanda, sepertinya Tuhan jauh sehingga doa-doa kita seakan menguap di ruang hampa. Dimana Tuhan ?
Seperti para rasul kita diajak membangun harapan, bahwa iman mengajarkan kita untuk hanya mengandalkan Kasih Tuhan. Dalam kesesakan hidup, membuka hati kepada Cahaya Kasih Tuhan seringkali tidak mudah, manakala hati terkurung oleh kecemasan maupun kehampaan.
Sahabat, mari kita merajut kembali benang-benang iman yang barangkali selama ini terurai karena kecenderungan duniawi kita dan kelemahan diri yang mudah memilih melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan, serta perilaku kita yang sering tanpa kita sadari telah membuat kabut mengotori hati kita. Seperti mudah marah, sombong, dendam serta emosi-emosi negatif lainnya, sehingga hati kita tak mampu menangkap Terang Kasih Tuhan yang senantiasa memancar kepada setiap umat-Nya. Bahwa benar Yesus adalah Mesias yang dijanjikan itu, di luar Dia tidak ada penyelamatan dan keselamatan, Ia menyediakan tempat bagi orang beriman, memberi kesempatan dan peluang bagi orang percaya untuk menjadi saksi Yesus di dunia ini, setelah mendapat urapan dan curahan Roh Kudus.
Oleh karena itu kenaikan Yesus ke sorga seharusnya menjadi penghiburan serta jaminan kepada semua orang percaya bahwa surga itu benar-benar ada, bahwa di surga banyak tempat tinggal, dan bahwa Yesus naik ke surga dalam rangka kepentingan kita (menyiapkan tempat). Dengan demikian, kenaikan Tuhan Yesus bagi kita sebagai orang percaya, seharusnya membuat kita semakin berani hidup tampil beda, dalam arti hidup sesuai dengan norma-norma kebenaran Firman Tuhan, membuat kita tidak ragu apa lagi takut menjadi saksi Tuhan, dan sebagai saksi Tuhan sudah pasti akan banyak tantangan yang kita hadapi tetapi tidak membuat kita tawar hati sebab kita tahu bahwa kesukaran atau penderitan yang kita alami di dunia ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang kita akan alami di surga kelak, terlebih Roh Kudus akan menyertai kita.
Mari kita mohon berkat kasih Tuhan seraya menyadari kelemahan kita, akan kecenderungan badani dan duniawi kita. Ini memerlukan keberanian iman. Yaitu berani untuk membongkar segala kelemahan dan mempersilahkan Tuhan membangun serta menata kembali hidup iman kita sehingga lebih layak mengabdi Tuhan dan mengenali lebih baik siapakah Tuhan itu. Bersukacitalah selalu dalam Tuhan dan lakukanlah kepercayaan yang Tuhan berikan. Apa yang sekilas menyakitkan bagi kita, belum tentu akan seterusnya seperti itu. Tuhan tetap memegang janji-Nya; selalu ada pengharapan dan penghiburan bagi mereka yang berkenan kepada-Nya. Sikap kita dalam setiap kesesakan adalah percaya kepada janji-janji-Nya. Dalam peristiwa apa pun, bahkan perpisahan sekalipun, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian.
Segala kebaikan hidup ada dalam Tuhan, kiranya kita boleh bersama mendapat kemurahan-Nya, Tuhan Yesus memberkati. ***
Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr: Sekretaris Komkat KWI

