RD. Dr. Manfred Habur, Lic.Theol sedang memaparkan materi diskusi panel tentang “Pengembangan dan Pengorganisasian Katekese di Gereja Lokal: Sistem Katekese yang Sinodal, Misioner, dan Kontekstual” dalam PKKI 13 di Aula Kantor KWI 05-08-2026 (Gambar: Dokumentasi Komsos KWI)
Katekese Bukan Lagi Kegiatan, tapi Kehidupan: Menata Ulang Rumah Iman di Gereja Lokal
Coba bayangkan sebuah paroki yang sibuk sepanjang tahun: kelas persiapan Komuni Pertama berjalan, pendalaman iman remaja jalan sendiri, kelompok kitab suci untuk kaum dewasa jalan sendiri lagi. Semuanya “jalan,” semuanya “ada.” Tapi coba tanya: apakah semua itu benar-benar terhubung satu sama lain? Ataukah sekadar deretan program yang kebetulan berlangsung di gedung yang sama?
Pertanyaan semacam itulah yang menjadi titik berangkat sebuah pemikiran segar tentang masa depan katekese di Indonesia—sebuah ajakan untuk berhenti sejenak dan bertanya jujur: jangan-jangan selama ini katekese sudah direduksi menjadi rutinitas pastoral belaka, persiapan sakramen yang berjalan tanpa benar-benar menyentuh pengalaman konkret umat, pendekatan yang informatif tapi minim proses transformasi mendalam.
Bukan Program, tapi Kehidupan yang Berproses
Menurut Directory for Catechesis 2020, katekese sejatinya bukan sekadar transmisi ajaran dari yang tahu kepada yang belum tahu. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari dinamika evangelisasi, proses pemuridan yang menuntun orang pada perjumpaan hidup dengan Kristus, pembentukan identitas kristiani dan kedewasaan rohani yang berlangsung sepanjang hayat—bukan sekali jadi, apalagi berhenti setelah sakramen diterima.
Dari pemahaman itu lahir sebuah pergeseran cara pandang yang sederhana tapi berdampak besar: dari katekese sebagai kumpulan program menuju katekese sebagai sistem yang hidup. Program cenderung terpisah-pisah, selesai begitu kegiatan usai, dan jadi tanggung jawab katekis semata. Sistem yang hidup justru terintegrasi, terus berproses, dan menjadi tanggung jawab seluruh komunitas—organik, bukan episodik; berfokus pada transformasi, bukan sekadar output.
Empat Prinsip yang Menyangga Semuanya
Untuk menopang pergeseran itu, ada empat prinsip yang saling menopang seperti empat kaki meja. Pertama, sinodalitas: katekese sebagai proses berjalan bersama, saling mendengarkan kehendak Allah, di mana umat menjadi subjek aktif—bukan sekadar objek yang diajar—dan keputusan diambil secara dialogal, bukan dari atas ke bawah. Keberagaman pengalaman dan latar belakang justru dipandang sebagai kekayaan, bukan gangguan.
Kedua, integrasi: katekese tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan liturgi sebagai sumber dan puncak iman, serta dengan diakonia sebagai wujud iman dalam tindakan kasih. Ia menjadi satu proses berkelanjutan yang merangkul semua segmen usia—dari anak-anak hingga lansia—bukan potongan-potongan program yang berjalan sendiri-sendiri.
Ketiga, kontekstualitas: katekese berani berdialog dengan budaya lokal tanpa kehilangan identitas kristianinya, peka terhadap perbedaan konteks pedesaan, perkotaan, masyarakat adat, hingga kelompok minoritas. Tidak ada satu model katekese yang bisa ditempel begitu saja di semua tempat.
Keempat, orientasi misioner: Gereja yang berani “keluar” menjangkau mereka yang berada di pinggiran, memampukan umat menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat, menghubungkan iman dengan kehidupan sosial dan budaya. Bahkan dunia digital pun tidak lagi dipandang sekadar sebagai sarana tambahan, melainkan medan misi yang sesungguhnya.
Paroki sebagai Rumah, Bukan Sekadar Gedung Kegiatan
Kalau paroki mau sungguh menjadi “rumah katekese,” ada empat langkah pengorganisasian yang ditawarkan secara berurutan. Dimulai dari pemetaan konteks—memahami sungguh siapa umat, apa tantangan dan kebutuhan nyata mereka. Dilanjutkan dengan segmentasi yang terintegrasi, di mana anak, remaja, orang muda Katolik, keluarga, dan kaum dewasa berjalan dalam satu alur pembinaan yang saling menyambung, bukan program yang terpisah-pisah.
Langkah ketiga adalah membangun komunitas berbasis—lingkungan, keluarga, dan kelompok basis yang aktif menjadi ruang katekese hidup sehari-hari, bukan hanya ruang kelas formal. Dan langkah terakhir, integrasi digital: hadir secara kreatif di ruang digital dan komunitas virtual, karena di situlah sebagian besar umat—terutama generasi muda—kini menghabiskan waktu dan mencari makna.
Uskup sebagai Katekis Utama
Di level keuskupan, peran yang ditekankan justru bukan mengendalikan dari jauh, melainkan mengarahkan dan menjamin mutu. Uskup, dalam kerangka ini, disebut sebagai katekis utama dalam keuskupannya sendiri—bukan sekadar figur administratif. Peran keuskupan mencakup perumusan visi dan arah pastoral katekese yang kontekstual, koordinasi antarparoki agar pengalaman dan sumber daya bisa saling dipertukarkan, formasi katekis yang berkelanjutan baik dari sisi teologis, pedagogis, maupun digital, serta evaluasi reflektif untuk terus menyempurnakan kebijakan pastoral.
Tantangan yang Jujur Diakui
Paparan ini tidak menutup mata pada tantangan nyata yang dihadapi katekese di Indonesia hari ini: fragmentasi pastoral di mana program-program berjalan terpisah tanpa visi sistemik yang menyatukan, perubahan budaya generasi digital-native yang cara belajarnya sudah sangat berbeda, ketimpangan sosial dan kerentanan ekologis yang ikut membentuk pengalaman hidup umat, pluralisme agama yang menuntut pendekatan dialogal, hingga kompresi waktu dan perubahan gaya hidup kontemporer yang membuat orang makin sulit mencari ruang untuk pembinaan iman yang mendalam.
Tapi di sisi lain, ada peluang nyata yang bisa digarap: kesadaran sinodalitas yang terus berkembang dalam Gereja, kesadaran akan pentingnya formasi iman sepanjang hayat yang makin meningkat, budaya digital yang justru membuka akses ke jangkauan umat baru, kekayaan budaya lokal Indonesia yang menjadi medium luar biasa untuk mengekspresikan iman yang hidup—semua ini menyimpan potensi lahirnya model katekese kontekstual yang benar-benar khas Indonesia.
Empat Pergeseran untuk Masa Depan
Dari semua pemikiran ini, muncul empat rekomendasi pastoral yang bisa dirangkum sebagai pergeseran strategis: dari sekadar kegiatan menuju proses yang didesain berkelanjutan dengan roadmap pembinaan iman yang jelas; dari transmisi ajaran menuju pemuridan dengan pendekatan yang relasional, reflektif, dan personal; dari pendekatan sektoral menuju yang terintegrasi dengan koordinasi lintas bidang pastoral; dan dari pola top-down menuju yang benar-benar sinodal, dengan dialog pastoral dan partisipasi umat yang aktif.
Bukan Menambah Kegiatan, tapi Menghidupkan yang Ada
Kesimpulannya sederhana namun menohok: masa depan katekese di Indonesia tidak terletak pada penambahan kegiatan baru, melainkan pada pembentukan sistem katekese yang hidup, dialogal, dan transformatif. Ketika itu terjadi, katekese sungguh-sungguh menjadi ruang perjumpaan dengan Kristus, tempat pertumbuhan iman, sekaligus sumber perutusan dan kesaksian di tengah dunia.
Seperti kalimat penutup yang menjadi semacam motto dari seluruh gagasan ini: Gereja lokal dipanggil untuk berjalan bersama, tumbuh bersama, dan bersaksi bersama. Bukan sekadar mengisi kalender kegiatan paroki, tapi menghidupkan kembali makna paling dasar dari kata “katekese” itu sendiri—menggemakan sabda, dari hati ke hati, dari generasi ke generasi.
Disarikan dari paparan “Pengembangan dan Pengorganisasian Katekese di Gereja Lokal: Sistem Katekese yang Sinodal, Misioner, dan Kontekstual.” di paparkan oleh RD. Dr. Manfred Habur, Lic.Theol dalam PKKI XIII.

